Sapardi Adalah Puisi Yang Tak Pernah Mati – Norrahman Alif

kau tak akan pergi
hidupmu akan abadi
pada larik-larik puisi ini.

tak akan ada kata mati
pada jalan hidup penyair
sebab sapardi adalah bahasa
yang menunda-nunda 
kematian dengan puisi.

sapardi adalah puisi yang 
melahirkan anak-anak penyair
melankolis. setiap hari, setiap 
tahun penyair lahir ke dunia 
untuk menyatakan patah hatinya 
pada hidup, pada kekasih 
pada puisi.

tak lain sapardi adalah puisi yang 
berjalan ke tengah carut-marutnya 
perasaan, hati dan kerinduan.

dan penyair tak cukup dikenang kenyataan
sebab puisi adalah kenyataan itu sendiri: abadi. 

*** 2020-Juni

Sapardi Adalah Lonceng Bulan Juni

sapardi adalah duka waktu,
jerit marsinah dan derai
hujan bulan juni.

ialah pencatat demam cinta, 
tukang arsip kata-kata
dan peladang puisi-puisi
demi sepiring arti masa tua.

mukanya boleh keriput,
keningnya setia melipat pori-
pori masa lalu yang kalut. 

namun jiwanya tak pernah 
bungkuk, hidupnya enggan takut 
pada maut merenggut. 

sebab tiap pagi jiwa masa
muda dilahirkan ke dunia 
sebagai sapardi yang lain
sebagai puisi yang lain. 

*** 2020-Juni

Sapardi Abadi Dalam Puisi

yang fana bukan waktu sapardi. tapi hatimu yang abadi di liang puisi. pada minggu berkabung di sela-sela kata hidup dan mati. cintaku mencari rempah-rempah doa untuk membujuk maut luput merenggut agar kau hidup walau sedetik sekadar sempat menulis puisi liris paling manis. ternyata tuhantak gampang dibujuk dengan doa atau puisi. pada akhirnya kau sampai pada batas paling nyeri –dimana hidup tak lagi menyertaimu untuk menulis puisi lagi.

sebab mati adalah takdir paling abadi yang dicemaskan oleh setiap hati

kini jasadmu boleh pergi: kembali ke asal-mula kenangan manusia berdiri:debu. tapi masih tak kurelakan jiwamu pergi –kan abadi pada larik-larik puisi ini. karena terlalu picik dunia ini, bila setiap yang mati hanya untuk dilupakan. 

tapi tidak dengan penyair. penyair mati meninggalkan hidup dalam puisi. sementara bajingan meninggalkan rasa benci yang abadi pada masing-masing hati yang telah terlukai. 

maka maafkan aku tak bisa. hanya dari kamar kehilangan ini, larik-larik puisiku berangkat melayat dengan membawa seikat doa untuk sang pencipta –agar kau masih sempat mempuisikan bidadari bermata bianglala di surga.

*** 2020

Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara –Sumenep – Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dll. Buku puisi pertamanya ‘Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan’ (sublimpustaka-2019).