Kota Melampai Perutmu

Jajang Kawentar

Menemui kota hancur karena birahimu. Sengaja kupinjam matamu yang tidur di pelupuk senja agar menemaniku mengenang lalu ke muka. Agar mimpimu bersamaku terbawa gelisah sementara usai pinjamkan mata mata-mata. Tiada keindahan kota kini selain petuah ibunda dan ayahanda. Sebanyak apa yang kau makan, tak kan melampaui perutmu. Selezat apa yang kau makan, takkan melampaui perutmu.

Kota indah poranda melampaui perutmu. Nafsu melampaui perutmu mengikat ingat di ujung waktu. Kehancuran ini itu pembangunan ini itu. Selalu memciptakan ruang-ruang birahi baru bagi orang-orang gila. Ruang-ruang sesak aroma kehidupansetelah mati. Orang-orang mati dikeramaian layaknya tak bernafsu melampaui perutmu dan bawah perutmu. Kota indah sesungguhnya menahan haus dan lapar melampaui perut batas birahimu. Orang-rang mati di tengah pembangunan kota atas perut dan batas birahi.

Indramayu, 2016 

pencerita

Leave A Comment