Penulis edisi 229

Suhendri Cahya Purnama, pelaku seni yang tinggal di Bandung. The Economist, majalah mingguan terbitan London, Inggris. Ajip Rosidi (lahir 1938) pertama kali pindah ke Jakarta tahun 1951 ketika mau melanjutkan sekolah menengahnya, belajar menulis dan memilih kesusastraan sebagai pilihan hidupnya di sana, memimpin majalah Suluh Peladjar (1953-1955), Prosa (1955) dan Budaja Djaja (sejak 1968). Pernah memimpin Madjalah Sunda (1965-1967) di Bandung. Sejak 1971 memimpin […]

MORE
Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta

Sendiri, aku duduk di taman itu. Berusaha bercakap dengan siapa pun yang terlihat. Mengajak mereka agar sudi berbagi kelu denganku. Tapi, semuanya terasa asing. Terasa berjarak. Dan terasa nisbi. Sejenak, aku bersandar di bangku yang menghadirkan dirinya di taman itu. Menggeragap apa pun yang tertampak. Berharap siapa saja yang melihatku, mau menyambangi dan menyentuh raga […]

MORE
Penghujung Senja

(Suhendri Cahya Purnama) Kau pernah meminta, “Buatkan aku sebuah cerita. Tentangku. Hidupku. Atau kisahku.” Sebentuk pinta yang tak kuacuhkan. Kuanggap itu hanyalah ocehan dari seorang bocah. Tak perlu dipikirkan.Pikiranku saat itu terlalu dipenuhi oleh ide-ide besar. Menorehkan tulisan menapaki jalan para peraih Nobel. Lihat! Ada berderet nama besar yang harus kusapa. Rabindranath Tagore di anak […]

MORE
Penulis edisi 217

Suhendri Cahya Punama, tinggal di Bandung. Chairil Anwar (1922-1949) pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas […]

MORE
Merindu Purnama

Suhendri Cahya Purnama Dulu, suatu waktu, kau pernah berkata: “Lepaskan semua egomu, kau akan bertemu Tuhanmu. Ia hanya akan tersibak kala segala keberhalaanmu kau campakkan. Bahkan, untuk melafaskan namamu pun, kau tak kuasa. Manunggaling kawula gusti, dalam arti yang murni.”     Dulu, suatu ketika, kau pernah berujar, “Hafalan ayat-ayat suci yang setiap masa menaburi waktumu, tak […]

MORE
Penulis edisi 215

Suhendri Cahya Purnama tinggal di Bandung. Ajip Rosidi (lahir 1938) pertama kali pindah ke Jakarta tahun 1951 ketika mau melanjutkan sekolah menengahnya, belajar menulis dan memilih kesusastraan sebagai pilihan hidupnya di sana, memimpin majalah Suluh Peladjar (1953-1955), Prosa (1955) dan Budaja Djaja (sejak 1968). Pernah memimpin Madjalah Sunda (1965-1967) di Bandung. Sejak 1971 memimpin Badan Penerbit Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya. Menerbitkan sejumlah […]

MORE
Beri Aku Detakmu

Suhendri Cahya Purnama Beri akudetakmu di sini. Dan kan kubagi kisah kita pada dunia. Memahat hidup dan merangkai mimpi untuk meraih nirwana. Meleburkan surga-neraka jadi satu dunia. Beri akudetakmu di sini. Biarkan ia berkicau dalam nada harmoni. Membungkusnya dengan tarian aurora ketika ia menjinakkan cahaya. Dan memedarkan sinar terindah yang pernah tercipta sejak manusia mulai […]

MORE
Penulis edisi 212

Liston P Siregar, editor ceritanet.com. Suhendri Cahya Purnama, pelaku seni yang tinggal di Bandung. __________________________________

MORE
Penulis edisi 208

Yudistio Ismanto, lahir di Lahat 30 tahun lalu, kini bergiat di Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat Suhendri Cahya Purnama, tinggal di Bandung. Rama Yunalis Oktavia, karyawan penikmat sastra, tinggal di Bekasi. __________________________________

MORE
Negeri Di Balik Purnama

Suhendri Cahya Purnama Marilah kitabermain sejenak sahabat Ketikalangit mulai menabiri wajahnya dengan tirai senja Dan Tuhanmenaburi rahmatnya yang begitu luar biasa Marilah kitabermain sejenak sahabat Saat petangmerambat dan surya berlahan menutup hari yang indah ini Dan kau adadi sana, memanggilku untuk bersama-sama menyanyikan kidung senja Ditemanidawai yang kau petik, kita pun menari Cha…Cha…Cha… Marilah kitabermain […]

MORE