Labirin Ibukota

Gendhotwukir

Satu
Memahami kata-katamu serasa memasuki labirin ibukota. Jalan-jalan telah menjadi jaring laba-laba dan orang-orang sibuk mengunci diri di dalam telepon genggam. Diam membatu seperti kekerasan dan petuah yang ingin kau tanamkan pada setiap generasi sebagai kebohongan anak-anak yang diternakkan dalam ruang udara yang disirkulasi. Setiap tanda tanya tak lebih hanya sebuah koloni titik yang menjelma menjadi tanda seru.

Labirin ibukota telah menjadikan orang-orang menjadi kalap. Kata-kata serapah mengucur bak kutukan pada nasib. Pujian yang telah bermandikan keluweran got-got tak lebih hanya sebuah kekosongan. Seperti detik yang terlelap dalam deru metromini, tangan dan jemari telah menjadi seperti robot.

Papan nama yang terbentang di pinggir jalan dan perempatan tak ubahnya jejalan keinginan yang tak terpenuhi karena sepandai-pandainya melayang akan bermuara di kepenatan juga. Hingga tak dimengerti mengapa penjaja jajanan berteriak seenaknya selepas nyanyi rindu penyanyi yang putus asa atau penyair yang gagap tuk mengutiuki nasibnya. Kata-kata seperti bermuara pada saat-saat kepunahan.


Dua
Liston, aku kini telah berdiam di kota tempatmu pernah diburu. Kota yang penuh oven berjalan. Terjerembab di kotak tak berlubang. Begitu panas dipanggang di dalamnya hingga setiap tetes yang keluar di kening ibarat kata-kata cercaanmu pada penguasa negeri ini tempo dulu.

Tiga
Pohon-pohon di kota ini telah melahirkan api setelah bersenggama dengan batu-batu. Dan setiap kita tidak pernah mengerti kenapa begitu kekal jari-jari kita di antara pepohonan yang telah meranggas. Keinginan yang terlepas nyatanya tak berujung pada pintu keluar. Keluar tak ubahnya masuk karena setiap pintu keluar hanyalah tipu musl#ihat. Berkata-kata manis tak ubahnya geriap rayuan pelacur yang belum terbang.
***
2011