Imron Supriyadi

Akal sehat orang Indonesia –atau bahkan ruang batinnya– tengah tertuju pada dukun cilik Ponari di Jombang Jawa Timur. Seorang anak yang menemukan batu tiba-tiba menjadi dukun dan setiap hari ribuan orang antri membawa air. Ponari mencelupkan batu temuannya sekitar 1 detik. Penghasilan Ponari –atau keluarganya– disebut-sebut mencapai Rp. 1 milyar, hanyadari 2 minggu masa praktek. Hebat? Aneh? Edan?

Ponari bisa dilihat sebagai kewajaran di alam demokrasi; setelah selama kurun waktu 32 tahun dikungkung rejim Orde Baru yang memaksa warganya untuk memiliki pola pikir yang sama, baju yang sama, sepatu yang sama, atau bahkan warna gigi yang sama.

Sekaligus Ponari menyadarkan kembali kaum rasionalis bahwa semua yang ada di alam tidak bisa serta merta dilogikakan. Artinya Ponari menjadi sebuah kritik terhadap rasionalitas manusia yang selalu memegang hukum sebab-akibat. agar terbuka juga untuk membaca bahwa tidak semua peristiwa dan kejadian bisa dirasionalkan sebagaimana karya ilmiah. Fenomena Ponari membangkitkan kenyataan tentang umat yang percaya kepada hal gaib. Itu nyata.

Kekuatan yang ada di balik Batu Gludug –temuan Ponari itu– secara ilmiah tidak dapat dibuktikan. Kegaiban sama halnya dengan surga, neraka, pahala, setan dan jin. Kegaiban hanya dapat dipahami dengan keyakinan atau keimanan, bukan dengan akal sehat. Tidak akan mungkin rasionalitas manusia yang sangat terbatas dapat membatasi kegaiban yang jelas-jelas bukan kewenangan dan kebijakan manusia. Memahami Batu Gludug bukan kemudian percaya pada batunya yang memiliki kekuatan, melainkan mempercayai pencipta kegaiban, yang telah menciptakan kekuatan pada setiap mahluk ciptaannya, termasuk Batu Gludug.

Ponari juga menjadi bagian kritik dari ‘langit’ supaya manusia memutar otak. Banyak orang Indonesia yang sedang mengharapkan presiden seperti Ponari, yang dapat menyembuhkan ragam penyakit yang banyak diderita masyarakat. Ponari menjadi simbol betapa jutaan rakyat di negeri ini hanya percaya kepada sosok manusia seperti Ponari, yang bersedia memberi manfaat kepada setiap warga, untuk kesembuhan penyakit –tepatnya, yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit.

Indonesia sedang merindukan Presiden Ponari, yaitu sosok manusia yang dianggap merupakan pilihan Tuhan atau Dewa, yang tidak banyak mengumbar janji namun mampu berdiri di tengah rakyat yang sedang menderita banyak penyakit. Presiden atau wakil rakyat yang dirindukan adalah yang mampu menyembuhkan penyakit kelaparan, kemiskinan, keterbelakangan, ketimpangan keadilan, kesenjangan sosial, pengangguran, rendahnya solidaritas. Daftar penyakit yang wajib disembuhkan segera.

Jelas ada sugesti dan ilusi dalam Batu Bludug Ponari, tak banyak beda dari politik di Indonesia. Tapi munculnya Ponari telah banyak membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Selain Ponari dan keluarga plus teman-teman yang meraih 1 milyar, banyak penjual es, bakso, minuman, rokok, dan para pedagang lain yang juga ikut mendapat untung. Ponari bahkan menjelma menjadi sebuah kekuatan sosial, dengan kesediaan masyarakat melakukan gotong royong untuk membangun jalan yang menuju ke rumah Ponari. Tujuannya agar warga yang datang mendapat kemudahan dan bukan kesulitan. Presiden Ponari bisa menggulirkan roda ekonomi dan juga memancing inspirasi keja bersama untuk memudahkan orang lain; meninggalkan kelakar lama tentang birokrasi: kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.

Pengobatan versi Ponari juga menjadi kritik bagi pengelola lembaga layanan kesehatan, sekaligus para penguasa dan pemegang kebijakan dari tingkat RT sampai presiden. Mereka perlu menyadari bagaimana seharusnya mengayomi dan melayani rakyat. Jadi bukan malah sebaliknya; minta dilayani, ditambah lagi dengan birokrasi panjang dan melelahkan.

Lantas apakah Batu Gludug halal atau haram, boleh dan tidak boleh. Bukan sekedar pilihan itu, melainkan Batu Gludug sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang dianggap memiliki kekuatan dan kemudian jatuh di tangan Ponari. Batu Gludug bukan sebagai Tuhan Baru, melainkan medium untuk menghormati yang menciptakannya, dan oleh sebagian orang diyakini punya daya menyembuhkan. 

Rumitnya memahami fenomena Ponari hanya punya satu alasan, yaitu karena dalam mencermati persoalan dunia, manusia tidak pernah atau lupa melibatkan partisipasi ‘langit’ sang penipta. Akibat meninggalkan ‘kebijakan langit’ maka yang terjadi adalah saling tabrak satu sama lain. Orang tidak bisa lagi membedakan mana demokrasi dan mana anarki –meminjam istilah Emha Ainun Nadjib– atau –istilah penyair mendiang Koko Bae– orang menjadi seperti monyet yang tidak bisa membedakan mana emas dan mana loyang.

Tetapi inilah proses pembelajaran bagi semua, bahwa orang Indonesia sudah terlalu lama tidak dilatih untuk mengelola kebaikan sehingga ketika Tuhan menebar kebaikan di bumi Indonesia melalui media Batu Gludug Ponari, oang kalang-kabut dan menuduh dengan kedangkalan dalam cara pandang terhadap simbol-simbol Tuhan yang diturunkan ke bumi.

Ponari bisa juga dilihat mengangkat kembali keterbelakangan sebagian masyarakat Indonesia, yang masih menjadi Indonesia yang nyata di Abad ke 21. Tapi, pujian saya berikan kepada Batu Gludug dan Ponari atas dasar penghormatan dan kecintaan terhadap pencipta Batu Gludug dan manusia seperti Ponari.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *