Lalu kau bertanya
tentang lentik jemari
melecut angin
Kisah senja berdarah
tersingkap
gelombang rambut
di balik kain hitam
Hingga tubuh menggigil
terkenang kemarin
rindukan kau
Bersama mimpi tengadah
menyusu
buah dada bintang purba
Di antara
kedua telapak
gelas terjatuh
menjelma kemuraman
patung
dibasah hujan
Seseorang melangkah lentur
di celah luka
dan debar fana
Maka
menarilah menghentak perlambang
pada setiap langkah
cahaya berkibaran
Maka menarilah
membangunkan esok
berupa degup
samudera
pagi merah
Hingga ruang dan waktu
menjelma
segurat impian
Dan patung penari
membiarkan tubuh
beringsut
dari batu berlumut
Tangisan menepi hampa
kisah kepergian
menghampar tiba
Kupu-kupu bersayap
gelap
membentur lengan
hinggap di tangan
penari
melanda bosan
Hingga kemurkaan
teriris
alis sendiri Di antara
bulan berlompatan
menjumlah
perih
di halaman
Bersama musik
menyuruk gelap
mengulangi tarian gagal
Ketika para penari
memandang luka
membatu
di dada
kehilangan tutur
malam keseribu
Bahwa kelahiran
menautkan sunyi
pada bibir penari
hingga tarian
mendamba lentur
sia-sia
biar menyetubuhi
gerak sendiri
dalam gulungan
selendang
menderu lunak
Ketika terjamah
patung penari
menahan gigil
Menatap
mimpi-mimpi
berguguran
di jemari sendiri
***