Syam Asinar Radjam
Empat
Empat kuntum bunga Bunga merawan digenggaman. Empat hari sudah dia meninggalkan Palembang. Ketika empat kali Mangin membaca ulang terus menerus surat singkat yang diterima entah beberapa bulan lalu. Tak ada yang berubah. Tak istimewa istimewa. Hanya lambang kelelawar yang menjadi tokoh kartun Detroit Comics. Batman.
Kertas bekas, tepatnya kertas kerja ujian Metode Ilmiah Mangin sendiri. Mata Kuliah yang kusuka, dan tak kuperoleh nilai apapun, kecuali kalimat “TIDAK AKTIF” di lembaran DPNA. Masalahnya, jam kuliah itu dihabiskan Mangin untuk berdiskusi dengan Bang Muhai, yang cakap dalam metode ilmiah.
Surat lama yang selalu tersimpan di selipan buku catatan. Di balik tulisan pencemaran 56 orang mabuk gas amoniak PT Pusri tanggal 29 September 2000, kebakaran Sungai Kelekar oleh tumpahan minyak mentah Pertamina OEP Prabumulih, dan perampasan tanah di Rimbo Semangus.
Sial. Bayangannya muncul terus. Ingin kubuat dia berada di balik bayangan Hujan. Berada dalam tirai tetesan membekukan. Lalu dia menjadi cahaya. Dia menjelma bintang. Sekalipun tak kupercaya bintang adalah bintang. Perjalanan sebuah bintang menuju mata manusia di kulit bumi dalam jutaan tahun cahaya. Artinya aku tertipu jika meyakininya, pesan bintang sampai ke mata sementara dia telah jauh berjalan. Dan Dinda, Dia menyendiri di tirai hujan. Tak ada bintang lain. Maafkan, kawan.
Dinda, kan aku sudah kirim kartu post,… selamat tidur, ya. Aku juga mau tidur. Sudah ah, jangan muncul terus. Tak jewer idungmu!
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 88)
* * *
Bunga Merawan; Da Vinci, Energi
Mangin memutar kuntum-kuntum bunga merawan. Sebenarnya bukan bunga, tetapi buah yang bersayap. Mengangkat tinggi dengan berjinjit. Hanya lima jari kakinya menyentuh lantai ubin. Melepasnya satu-satu. Meluncur pelan, karena dalam kondisi normal hanya dibutuhkan satu centi meter vertikal ke bawah bagi bunga bersayap ini untuk mencapai 1 kilometer horizontal. Tak terbayang betapa mudahnya mencapai Jakarta dari Puncak Gunung Dempo.
Tak mesti menghabiskan begitu banyak bahan bakar fosil yang terbakar menjadi karbon di udara. Tak harus melubangi ozon.
Bunga merawan, mengingatkan pada Profesor Seno dan Da Vinci. Da Vinci pernah membuat rancang bangun helikopter dengan baling-baling yang sangat mirip dengan helai sayap biji merawan. Seno -dengan mahasiswanya- justru terinspirasi oleh sayap biji mahkota bunga merawan untuk terbang jauh. Tapi siapa yang mau mengembangkannya di negara yang dililit utang dan tak mampu lepas dari jeratan intervensi negara dan lembaga pemodal seperti ini.