Dokter Zhivago

Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960. Rumah sakit dimana Yuri menjadi pasien dan kini dokter, ditempatkan dalam rumah istri Tumenggung Zhabrinskaya. Dia menawarkannya pada Palang Merah pada permulaan perang. Rumah ini berloteng dua, letaknya di salah satu bagian terbaik dalam kota, di sudut jalan raya dan pelataran yang terkenal […]

MORE
Tentang Penulis Edisi 55

Sitok Srengenge, penyair. Edwin, anak Yayasan Seni, Estetika dan Teknologi di Jakarta. Dewa Gumay Lembak, anak Palembang penulis cyber dan koran lokal. Syam Asinar Radjam, menulis novel Smaradina Muda Mangin di Bogor.

MORE
Sajak Untuk Kawan

Kita adalah Mahasiswa Angkatan genitLahir dari Rahim ReformasiBenih Mani Haram KapitalisKita Kurang diajar dalam melihat kenyataan,Karena Kenyataan tidak dimiliki sekolahan,Sekolahan hanya punya teori dan geli. Kita melihat sarjana-sarjana menganggur,Karena tidak diajarkan kenyataan,Kita tidak bisa menciptaTetapi ingin memakai Kita tidak bisa memimpinTetapi ingin berkuasa. Kita diajar untuk patuh, taatBukan diskusi dan berdebat Kita diajar untuk hapalBukan […]

MORE
Sajak Protes

Dewa Gumay LembakInilah sajakkuSajak Orang-orang pinggiranSajak Orang-orang termarginalTapi tak segenit Orang-orang atasan Aku tulis sajak iniKarena surat ProtesMembentur jidat si tuan janganYang bersajak tentang kebenaranSementara ketidak adilan berdiri di depan-nya Ooooo … Jangan kau baca sajakkuSajakku penuh makianSajakku penuh hinaanKarena surat protes tak pernah di dengar Aku tulis sajak ini.Karena surat ProtesMembentur jidat si punya […]

MORE
Smaradina Muda Mangin

Syam Asinar Radjam EmpatEmpat kuntum bunga Bunga merawan digenggaman. Empat hari sudah dia meninggalkan Palembang. Ketika empat kali Mangin membaca ulang terus menerus surat singkat yang diterima entah beberapa bulan lalu. Tak ada yang berubah. Tak istimewa istimewa. Hanya lambang kelelawar yang menjadi tokoh kartun Detroit Comics. Batman. Kertas bekas, tepatnya kertas kerja ujian Metode […]

MORE
Mimpi

Tidak kah akan pernah cukupSebuah hidup dalam gigitan realitasSehingga mimpi selalu berujung enas. Tidak kah akan pernah layakSebuah impian untuk digenggamSehingga pahit lah yang bisa tercecap Tidak kah akan pernah sanggupMengharap sebuah hidup dalam impianAkankah selalu bernilai mahalLosari, 1 Januari 2002

MORE
Saat-saat Kuberbaring di Pahamu

Aku telah preteli segala lencanaKucuci riasan yang mengerikan ituYang dipasang di parasmuKunikmati kecantikanmuDalam wajah yang ternikmati mata batinkuKucumbui engkauDalam mabukku akan lukaDalam perih yang meracunikuMungkin mataku terlalu nanarUntuk menatapmu dengan jelasSetidaknya aku mampuMerasai hangatnya rengkuhanmuSaat tetes darah dari keningkuJatuh di pahamuSaat-saat ku berbaring diatasnyaJl. Kampus II Bandung, Mei 1999

MORE
Stasiun Terakhir

Di sini kita labuhkan luka dan sepiLantas kita berkacaCawan-cawan anggur yang berdentingSeperti lonceng kematianYang tak lagi menakutkan Cermin itu ternyata buramMata kita pun terlalu nanarUntuk membaca kenyataanBahkan untuk menjadi nyata Kini hanya tersisaKursi dan meja sunyiTanpa jiwaKereta terakhir telah lama tibaMalam sudah semakin larutTerminus Café CCF Bandung, Oktober 1999

MORE
Imaji Harapan

EdwinDan apakah lukaSelain kemanjaan dan keterasinganDalam samudra harapanTapi lihat ujung tombaknyaMenusuk berjuta kepalaMelahirkan tiran dan melestarikanPenindasanDalam mitologi divinitasKepasrahan pada mahalukaMenjerumuskanJiwa-jiwa yang basahOleh airmata kemayaanPada sumur tanpa dasarDimana-harapan dikaitkanKau Bukan ituSungguh aku yakin sekaliAkankah ada yang peduliJakarta, 26 Desember 2000

MORE
Penghujung Musim Penghujan

Dora Havassy Di penghujung musim penghujanbasah tanah dan batang pohonan susut perlahan Daun-daun mengibas rambut pada terik mentaridari matamu yang sarat sengkarut membersit pelangi Menetas burung-burung dalam liang luka tubuhlantas terbang murung sebagai kata-kata dan jatuh Jatuh ke dalam gurit yang kuguris untukmukicau sembilu bergaung abadi di situ2001

MORE