kepada EOM
ada tukak di lambung buku harianku. di sana mengalir Musi dan kota yang tenggelam dalam asap hutan yang dibakar. potretmu meloncat-loncat ingin melayangkan sebuah ciuman tetapi kau sudah tak punya perangko tersisa. di lidahku masih ada decap rasa kopi Pagaralam nomor satu, ungkapan cintamu padaku seperti aku masih menyimpan nomor teleponmu dalam daftar VIP juga puisi-puisi cinta atau foto-foto kita
aku tak pernah mengharapkan legenda perempuan gurun atau kesetiaan Otsu, di duniamu sungailah yang mengabarkan berita para perantau, tak ada angin berpasir di sana sedangkan aku adalah Sahara, atau anak gembala, atau sebutir pasirnya. kita telah begitu saling mengerti: kisah asap dan sisip kopi, juga puisi
engkau memang bukan perempuan gurun. telah engkau tetapkan batas penantianmu bersama daun yang jatuh, ada yang rontok di sini suatu tempat yang sama kita mengerti. aku hanya ingin menjadi si gembala domba yang mengejar mimpi. mimpimu telah berganti. aku mengerti
ada selembar uban yang jatuh, aku merayakannya bersama cicak dan pensil arang. biarlah kunikmati sepiring cerita sekarang dan kutimbun kenang sebagai kompos atau pupuk kandang, karena cintamu aku tak ragu. aku hanya rindu terik mentari: belajar bahasa ini bisa lama sekali dan aku senang engkau mengerti. aku ini Musashi, engkau bukan Fatima, bukan pula Otsu. engkaulah Musi. kucintai engkau karena tetap mengalirmu
dan aku akan tetap belajar bicara dalam bahasa angin, bahasa gurun, bahasa semesta.
*2003