Qizink La Aziva
kudengar suaramu gema, dalam nyanyi sunyi sukma.
ada meresah, pada daun kering merekah.
ada cinta, pada guguran kata.
“ini bukan puisi”
katamu dari pojok warung nasi gudeg lesehan malioboro yang mulai malam ditinggal para seniman.
:sabarlah
si mbok sedang menyeduh air, wedang jahe yang selalu kita rindukan, kita reguk bersama di puncak merapi.
lalu kita cerita tentang edelwise yang mulai sirna
ah,
selama perjalanan ini telah kau abadikan setiap titik debu yang tertinggal di saku bajumu.
Yogya, 2002