selembar risalah terbaring
di atas meja menguning
oleh udara dan cuaca
angin yang tua tak pernah diam
menciumi wangi tinta warna hitam
syair rindu yang kutulis untukmu
tak pernah tersia oleh sepasang mata
sebab matamu oh matamu yang indah itu
selalu menari dan menunggu harap
walau terkadang cemas
menggedor kuat pintu hatimu
pada selusin hari terakhir ini
adakah rindu menggantung di pucuk
dahan perasaanmu yang terdalam?