Dokter Zhivago

Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960. Hal yang baru dan terpenting baginya di Moskow ialah anak lelakinya yang kecil. Yury mendapat panggilan segera sesudah anak ini lahir, jadi ia hampir tak mengenalnya. Suatu hari tatkala Tonya masih di rumah sakit, Yury mengunjunginya; ia sudah berpakaian seragam dan sedikit hari […]

Lalu Waktu

jarum itu selalu sama berputar-putar dengan bunyi yang pula sama TAK! menjemukanaku ingin nada beda TIK! misalkan lalu waktu bersemedi dan matiAnyer, 12 Desember 2003

Ranjang Pengantin

ranjang pengantin. bauaroma kembang semusim.ada pelangi sembunyidi balik kain lalu hujan datangmembasahi ladang akar dan benih tanamnamun sepi yang merajatak juga hanyut dari taman hampa begitu desah. begitu resahranjang pengantin. mengutukimatiAnyer, 12 Oktober 2003

Persembahan

: TstRQizink La Aziva mungkin ini kali waktunyakita kembali membuka kandagamemunguti jejak masa laluberserakan di antara puing-puingbebatuan karang dan lumut hitam tapi siapa yang kan baca rawi inibersama aroma makam tuabila babad singgasanalebih bermakna pada dupa dan mantra-mantra pangeran,padamu kupersembahkan saja sajak ini.Anyer, 30 September 2003

Tentang Penulis Edisi 70

Selma Hayek, pegiat HAM tamatan SOAS London, kini tinggal di Dilli.Moyank, Tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia. Karyanya pernah dimuat dalam beberapaAntologi Puisi Bersama, antara lain: The Consuming Flame (International Library of Poetry 2000), Graffiti Gratitude (Angkasa 2001), Cinta Pohon Tamar (Jahabersa 2003). Qizink La Aviza, Tinggal di Anyer. Karyanya dimuat di Fajar Banten, Harian […]

Musikalisasi Senja

aku telah mengerti seperti biasaketika jendela terbukamatahari hilang warna suara beburung manggungdi pinggir gunung saling sahutmenanda waktu mulai beringsut tapi hati kecil ini masih bertanyakekasih yang dirindu kapan kan tiba detik tak henti mengejasementara angin tua perlahan membacabisik kecilmu dari seberang sana

Musikalisasi Pagi

secangkir kopi susudan hembusan asap rokokitu yang kumau pertama kalisaat fajar membelah mata kala matari mulai memancarkidung embun di pucuk daunandengung kumbang di kuncup bungakata-kata berderet rapi di agendamelahirkan puisi-puisi pembuka masa o puisi cinta inisejak malam taditernyata menggeliatdi ujung sunyi ayo kemarikubaca engkau berulangkalisebagai mantra dan doa pagi hari

Musikalisasi Rindu

selembar risalah terbaringdi atas meja menguningoleh udara dan cuacaangin yang tua tak pernah diammenciumi wangi tinta warna hitam syair rindu yang kutulis untukmutak pernah tersia oleh sepasang matasebab matamu oh matamu yang indah ituselalu menari dan menunggu harapwalau terkadang cemasmenggedor kuat pintu hatimu pada selusin hari terakhir iniadakah rindu menggantung di pucukdahan perasaanmu yang terdalam?

Musikalisasi Sunyi

jika aku sempat meninggalkan pesansenandungkan untukku sebuah lagutentang kesunyian di tubir jurang segalahening dan dingin menyeringai maka peluklah aku,dekap erat! jika aku sempat meninggalkan pesantiupkan seruling itu dan menarilah“kan kutanggal seluruh pakaian”demi terjun ke laut terdalamkasihmu

Musikalisasi Cinta

Moyank malam ketika kaurajut tawadenting pianomu meliuk mengudarasedang aku membaca puisi cintamusikalisasi mengusik gairah kita kembang mawar putih di atas mejakorden lipit-lipit yang terbukaangin laut menyisir rambutdari balik jendela kacakita acuh dengan angin dengan dinginyang berdesir lincahgerayang seluruh tubuh lihatlah! bulan penuh purnamaia bercerita: –ada bidadari tertawadan kepingin memadu cintamalam inidi balik selimut mega—