Luqman Hakim
Presiden pertamaku pandai bicara
Ngomongnya sambung-menyambung menjadi satu
Bukan penjual jamu bukan pula ratu ngegosip
Suaranya rangkai nusantara
Sayang,
Dia binasa tak dipercaya nusantara
Presiden keduaku tak pandai bicara
Bukan berarti tuna wicara
Ia presiden terduka
Duka luka kar’na terlalu erat genggam nusantara
Presiden ketigaku tak suka bicara
Begitu bicara cuil nusantara
Maklum dia orang sementara
Pengganti orang lama
Presiden keempatku terlalu suka bicara
Hingga guncang nusantara
Dia pun terusir dari nusantara gara-gara tak kuasa tak bicara
Maklum dia terlalu ahli olah kata
Presiden kelimaku bukan pembicara
Begitu bicara ia dicerca
Begitu bersuara ia dihina
Kini nusantara enggan menyapanya
Kini calon presidenku dikelilingi para pandai bicara
Maklum nusantara baru bisa bicara
Desember 2003