Tano Batak atau Tapanuli dan sekitarnya ibarat bejana yang kebanyakan isi. Sekiranya isinya tidak melimpah atau tidak tersalur dan mengalir, maka bukan mustahil bejana tersebut pecah, atau paling tidak bocor. Untunglah wadah penampungan limpahan yang bernama Sumatera dan Indonesia, bahkan dunia, tidak bosan-bosannya menerima migrasi orang Batak.
Barangkali perumpamaan di atas tidak terlalu persis cocok. Persoalan manusia Batak (Toba) yang sudah berpencar-pencar ke seluruh penjuru, tidak sesederhana benda cair yang merembes dari wadahnya. Apalagi sulit untuk membuat pembatasan yang ketat ketika berbicara tentang Batak, salah satu suku bangsa di Indonesia yang banyak dipuji karena keberaniannya, tetapi sekaligus banyak dihujat pula, juga karena keberanian dan kenekatannya.
Untuk tak menggeneralisir terlalu luas –walau jelas stereotype tak bisa dihindarkan sama sekali– Batak yang dimaksud dengan analogi benda cair itu, hanya dituturkan secara sepintas dalam kotak Batak Toba, salah satu sub-etnik Batak. Supaya terasa tidak pula berbau rasisme, maka Batak Toba lebih dipersempit lagi pada Kampung Humbang, Silindung, dan Samosir. Tidak usah bingung dengan kampung-kampung itu, karena penyempitan itu lebih untuk menenangkan saya karena saya berasal dari sana; jadi semacam potret diri dan tidak menyerang etnis.
Pemiskinan SDA
Benar atau tidak, pepatah petitih Batak Toba :”Maranak Sampulu pitu Marboru Sampulu ualu” –Punya anak laki 17, Punya anak perempuan 18– konon katanya menyumbang terhadap percepatan pertumbuhan penduduk kawasan Tapanuli sejak abad ke 18 dan memasuki abad ke 19. Pada saat itu, bisa jadi hampir 100% kawasan tersebut masih tertutupi kanopi pohon-pohon yang tumbuh subur di hutan-hutan lebat, terutama di jejeran Pegunungan Bukit Barisan. Artinya, pada jaman tersebut masih banyak sumber daya alam (SDA) yang tersedia, siap untuk dieksplorasi dan dieksploitasi oleh manusia.
Saya menduga, faktor tingginya kematian bayi, anak, dan ibu turut juga mendorong mengapa masyarakat Batak Toba di kala itu ‘memompakan’ generasi muda untuk mempunyai banyak anak. Tingginya angka kematian bayi dan anak bisa jadi karena kurangnya gizi atau ketidaktahuan mengelola sumber daya alam nabati dan hewani yang tersedia di alam sekeliling, sehingga terkesan manusia kekurangan asupan zat gizi untuk tubuhnya. Dapat diduga pula seringnya terjadi wabah penyakit dalam periode waktu tertentu telah membunuh manusia secara massal, yang segera mengurangi jumlah penduduk.
***
Eliakim Sitorus, Tamat dari Universitas Sumatera Utara Medan, melanjutkan S2 ke Universitas Satyawacana Salatiga dan lalu lalang sebagai pegiat pemberdayaan masyarakat dan penyelesaian konflik.