kueja kembali aksara demi aksara
yang dulu melenakanku pada sebuah angan
mungkin juga harapan

kata demi kata
kini kian tak berarti
semuanya kabur dan hanya jadi mimpi

ketika kusadari aku tak mampu
menjadi seorang kekasih
sedapat mungkin aku pertahankan
rintih yang selalu berteriak
dengan lantang dalam hati

sementara kau mungkin tersenyum
di balik tirai malam
yang tak sanggup kusibak
untuk sekadar menatap wajahmu

kupunguti repihan rindu ini
untuk mengenang kembali
bahwasanya aku pernah mencintai
dan kau tak ingin memiliki
Tanjung Santan, 23 Juli 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *