Hendri Kremer

Bersinarlah bulan purnama, seindah tulusnya cinta kita. Dan sayangnya, tidak selamban, waktu yang kutatap kini.

Andaikan kau peluk bumi ini. Sampai mati pun aku pasrahkan kau pergi. Hanya saja, kupinta kau tetap-NYA bersinar hingga aku mati. Bebola itu, berpijar laju dan mulai bergaris lingkari angsana yang mulai subur di pinggir jalan.

‘Candu’ ini sudah tidak nikmat lagi. Pahit pula rasanya. Untuk apa bergembira, karena gegap, semakin rancak mengikuti zaman. Bermuara pada satu belokan di sekitar kawasan yang katanya surga yang dipenuhi rumput hitam berbau pesing.

Untuk apa dimengerti, karena yang kini kau percaya besok akan menghilang, bagaikan herik jangkrik di malam sepi. Rumput tak lagi jadi makanan, cacing tak lagi jadi teman. Malang tak jadi kata yang selalu ditambahkan melintang.

Semuanya… belukar yang tidak pernah dipotong. Semuanya, cantik ayu bila dibiarkan. Apakah penilaian hanya di luar pagar, coba lihat sapi itu, disembah, diberikan makanan, diberikan penghormatan bagi yang percaya. Lihat ular itu, dicintai melebihi manusia yang berharkat tinggi. Miskin kah kita? Ya miskin jiwa yang bahagia, miskin akan kejauhan, miskin akan rasa besar dan bangga, miskin karena takut dijadikan budak atau gulak di jaman Stalin.

Tertikam sudah biasa. Ternoda bukan yang luar biasa. Merandai hingga ke lantai, menjilat hingga berleak di pinggir sepatu. Kadang itu jawaban, bila sudah tidak ada jalan. Apakah harus kumengerti. Terjemahkan dalam adanya arti. Bukan bahasa yang kini kau mengerti.

Hidupku dikurung selalu, tetapi aku tetap milikmu. Bersedih di malam hari, murung, lana dan gubrisan rona dunia menggoda. Berjibaku menurut kata hati, paham dan dalam…dalam….dalam.

Jangan-jangan katakan aku tidak berguna. Sebab, gedung yang kau duduki tak selamanya tinggi, pasti ada seorang insinyur yang membuatnya lebih tinggi dari gedung yang kau duduki saat ini.

Apakah begitu tinggi. Ku tak tahu. Ukur saja sendiri. Itu bukan urusanku lagi. Mestinya adanya jembatan penghubung. Yang menghubungkan kau, aku, dan seorang insinyur. Jadi, bila orang bertanya, kenapa kau selalu melompat-lompat. Aku balik bertanya apa masa depan yang kau hadapi itu statis? Atau kau yakin dengan satu keyakinan. Jangan, karena masa depan di depan jendela Bill Gates selau berisi banyak jendela berikutnya. Tak percaya ikut saja. Bahkan kegilaan teknologi pun tak ubahnya bajing loncat seperti kau dan aku berpikir, tak pernah jelas.

Masa depan penuh. Entah penuh dengan molekul, mikroba, virus, bahkan antivirus, wabah, trend. Apakah aku melompat dengan kegilaan ini. Mungkin, karena zaman ini yang membawaku, bukan aku terikut zaman.

Mencermati mungkin jawaban. Menjadi hatiku, mungkin merindukan, mungkin O…la….o…lala.

Pahami salamku ini, mungkin segelintir. Karena dimensi penuh, tidak memuat satu barang untuk disampaikan. Banyak muatan dalam satu kontainer penuh yang mesti sampai sebelum waktunya habis
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *