Dalam dinding kotak yang mengukir taktik waktu
Kubelajar menghitung jeruji dengan jari-jarimu
hingga penjaga membangunkanku
Jarum jam menusuk jantung matahari
65 derajat jatuh di celah dinding retak
hari-hari menemuiku dengan jenuh
peristiwa itu hanya sekali dalam sesaat
darah tergores abadi dalam kepenatan
tanah tumpah darahku lenyap
ditelan penjilat yang dilembagakan
kurelakan palu dan arit menyelesaikannya
pesanmu untukku pada bulan sesabit
memandang ladang lading kering milikku.
Palembang, Februari 2005