Dewi kegelapan mengandung tanpa persetubuhan. Di bulan ke-7 terhuyung-huyung memegang buncit di perutnya. Limbung di perjalanan bentang 7-9 bulan. Peluh di dahinya mengucur, membasahi malam panjang di paro sepi. Rintik air peluh jatuh menjadi hujan malam, menggenang di danau kecil, tempat bercermin wajah membiru di pucat sayu. Embun-embunnya menggantung di ranting malam, menggerayut menanti semarak cahya kelahiran baru.

Di bulan ke-8 genderang malam mendentang. Kali mendepak-jejak dinding perut, menjelmakan harmoni kidung malam. Membangkitkan nyenyak dewi malam dari lelap tidurnya. Pesta malam menggema di kekidungan menanti tiba. Malam-malam di bulan ke-8 adalah malam pesta penantian. Di wajahnya membintik galaksi, merajut lukisan bening dalam derap bintang-bintang kecil berlarian kesana-kemari. Gerayat terurai, di antaracahya kerlip menderai.

Di bulan ke-9 dewi malam lelap dalam tidurnya. Sunyi-senyap meratui malamnya. Rona wajahnya asri, menyanjung degup-degup di riang nyanyi jiwa. Di jiwanya ada jiwa menahan himpit dinding gelap. Tak sabar segera ingin mendua.

Tiba-tiba saja ia terjaga, satu gelepak-getar digetar janin. Pening dan mual dibuatnya. Segera saja ia rebah di atas awan hitam yang melembut di raganya. Merenggangkan paha-mekangkang dinafas tersengal. Jerit dan erang membangunkan penghuni malam. Sais, ngais, nyayat jeritnya menanda saat juang, menggema di dinding-dinding langit. Pegang erat degulan awan. Air ketubannya mulai mengalir menjatuh di muka bumi, memalur diwujudalur aliran sungai.

Aurora terang merebah di sekelilingnya, menyapa geliat melepas beban di buncitnya. Lambat-laun merekah cahya di genangan awan. Jelas dan bening menerawang cahya pelangi. Lalu mendarat di muka bumi, menanda kelahiran baru. Kelahiran bulan berbinar meninggalkan bunda kegelapan. Temani malam-malammu.
Sankt Augustin, 141204

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *