Gendhotwukir

Tak ada azan magrib sepulang main bola
Sambil menenteng degan atau tebu dengan
Lusuh baju di sekujurnya. Atau juga azan subuh
Ketika hendak bergegas mandi setelah mimpi basah,
siap berangkat sekolah.

Tak ada kokok ayam di fajar yang menyadarkan,
bahwa semua hanya mimpi, juga saat
kemolekan Poniyem terbawa dalam mimpi,
ketakutan hendak terterkam macan, juga lantaran
iring-iringan ke kuburan.

Tak ada bunyi lesung di pagi hari,
penanda hidup memang harus diperjuangkan dan ditelateni,
seperti Mbah Min yang pagi-pagi buta tergesa
menumbuk padi dan jagung untuk Soleh yang
ingin sarapan bubur, sebelum ke sawah yang tak lagi gembur.

Tak ada suara musik ndangdut yang memecah
Keheningan pagi yang sunyi, dari rumah jauh di seberang jalan
Dengan rumah tak bersemen, cukup bergedhek saja agar suara musiknya jauh terdengar
Tapi, memang begitulah, Ponidi hobi musik melayu,
dari sejak remaja hingga kini beranak dua.

Tak ada kelana ke tetangga desa, ramai-ramai
Nonton kethoprak atau wayang, atau hanya sekedar kalah
Main dadu dan setelah itu mengumpat karena tak sempat
makan kupat tahu.

Tak ada teriak ketakutan di tengah malam di pekuburan tua yang angker
Dengan beringin dan kamboja yang mengelilinginya, saat-saat kita
pulang larut dari layar tancap di desa Sabrang.

Semua itu tak ada tapi tetap dipuja, di kota baruku yang bisu, tak mampu
Dengan penatmu, setelah dirimu terbujur kaku di atas
Apartemen-apartemen tak berdebu.
Bonn, 090205

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *