Di Kuta Bali yang tak lagi sunyi,
ada gadis menyusur pesisir seorang diri,
hendak menelan tragedi Legian di mimpi,
tepat di dahinya yang tak berjejak hari.
Ditatapnya hari-hari yang enggan diakrabi dan dikencani,
setelah ratusan duri tak dapat dipercaki,
juga setelah tapak kaki yang segra lesap ke dasar bumi,
bersama angan-angan sore tadi.
Kata-katanya membisu di selembar kacu,
tempat air dukanya telah lama membatu.
Andai saja masa lalu hanya rajutan mimpi,
bisumu akan segra menjawabi, ratap-sesalmu yang mendayu akan menjadi saksi tak terperi,
seharusnya tidak begini, terkunci di sunyi-sunyi Kuta Balimu kini yang mau kau kutuki.
Bali, 2004