Amir Ramdhani

bagaimana harus kulukis sungai
sedang hilang sungai ke inti laut
lalu direguk oleh lidah mentari
dan dimuntahkannya kembali
melalui awan awan karat
ke tanah tanah tajam menyengat

arus berlari deras tak terbayang
seperti mengejar hari esok yang terkurung kabut
seperti pasir yang khawatir diterjang gelombang pasang

di bawah cerlang bintang yang menopang angkasa,
selalu berserak dibenakku semata
sungai yang tercemar rusuh buih limbah
beroposisi dengan bersih
di gigir gigir kota yang tak ramah

di bawah terik bulan perak,
kutampung sungai ke dalam sajak
tempat jiwa bergolak
tapi sungai membawa cecer sampah hedonisme
dan, jiwaku menolak
berkisar antara asa
dan arus sungai yang tersiksa

ya, bagaimana harus kulukis sungai,
ia menyusuri ilalang memupus pandang
kelak jika terusik kumbang atau capung
biarlah tetap kau kenang
2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *