Jajang R. Kawentar

batang-batang bebaris polisi pamong praja
cangkul sengkuit menjadi jeruji besi di kantor polisi
petani berperang melawan hama wereng
tanah tidak lagi mau kompromi dengan bibit
tuan tanah menaikkan harga sewa dari satu ke dua pikul
harga-harga hidup semakin menjalar pada tingkah laku
pada pakaian dan penampilan
pekerjaan pokok ditinggalkan dengan lelah
menyisir pabrik-pabrik menawarkan otot
menyisir jalanan dan gang-gang kota hingga tong-tong kosong
lahan kian gersang terbakar angan-angan
alang-alang disertai angin subur
daun tajam menembus awan bunga bermekaran
tidak ada lagi untuk ganjal perut kecuali melarikan diri

mungkin di kerumunan orang ada harapan
mungkin semudah harapan pada kerumunan orang

hutan belantara menawarkan sengsara
hasil ladang dan sawah hanya ketegangan
makan hati dan tulang sum-sum
keluarga terlantar di tengah kebun kopi dan di ladang padi
setapak demi setepak mengepak tenaga melarikan diri
gunung dan bukit mengajak berlari
sungai dan tebat mengajak berlari

yang dikejar secarik kapital
yang dikejar di bursa saham
perut dipikirkan kepala kelaparan dibiarkan
tidak kepalang tidak ada urusan
modal telah habis dimakan jaman
melarikan diri pilihan tanpa bekal dikepal kepala
petani diam dalam pelarian
memikul dagu sepanjangan
sepanjang jalan memanjangkan angan

langit mendung pegunungan
langit biru perkotaan
petani berlari memandang langit
tanah kelahiran diceraikan
air dan angin teguh pada janji
menanti kembali melarikan diri
melarikan diri kembali menanti diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *