Akhirnya saya berhasil mendapatkan vaksin di awal Agustus 2021 ini, setelah mendaftar dan didaftarkan oleh berbagai pihak sana-sini.
Ternyata proses vaksin memberi beragam cerita pada setiap orang. Ada yang mudah, ada yang rumit berbelit. Ada yang menolak vaksin, ada yang berjuang demi mendapatkannya. Ada yang mencurigai vaksin sebagai bagian dari konspirasi, ada yang mengganggapnya sebagai bagian dari melawan takdir. Beberapa kali saya mendengar langsung dari lawan bicara saat topik obrolan tentang vaksin : “Kalau memang takdirnya mati ya mati saja, dengan atau tanpa vaksin.”
Betul. Tapi takdir adalah misteri, dan saya percaya bahwa takdir juga melibatkan upaya, ikhtiar. Takdir juga seumpama rejeki, layak dicari dan diperjuangkan dengan sebuah upaya. Maka demikianlah saya memburu vaksin demi niat hati untuk terlindungi kesehatan saya.
Dari apa yg saya alami, kesimpulannya, para petugas lapangan pelaksanaan vaksinasi, memiliki pengaruh yg sangat besar dalam menentukan percepatan terbentuknya Herd Immunity /Kekebalan Komunitas. Kalau mereka luwes dan mengutamakan visi kekebalan, maka akan sangat membantu. Sebaliknya, bila tipikal birokratis, terjadilah sebaliknya.
Inilah pengalaman yg saya dapatkan.
Perbedaan domisili memberikan perbedaan proses vaksin yang signifikan. KTP saya dengan domisili di wilayah kabupaten ternyata mendapatkan pembagian jatah yang lebih terbatas dibanding dengan penduduk berdomisili kota, yang diutamakan.
Demikianlah yang terjadi, adik saya dengan KTP kota sangat mudah mendapatkan jatah vaksin. Hanya bermodal fotokopi lembaran undangan vaksin massal pada sebuah pasar dan ‘pengakuan’ memiliki kios di pasar tersebut, dia langsung antri, suntik dan ‘woila’… sertifikat jadi seketika. Bahkan seorang pemilik perusahaan dengan jumlah karyawan sekitar 10 orang sempat memanfaatkan sentra vaksinasi di pasar tanpa sedikitpun perusahaannya berkaitan dengan pasar tersebut.
Jauh beda dengan saya yang harus hilir mudik daftar dan ditolak. Pertama didaftarkan rombongan dengan teman, nama dia muncul tapi namaku tidak. Lalu daftar lagi di komunitas gereja, direspon via WA bahwa data diproses, tapi tak ada lanjutnya.
Bahkan saya pernah mendatangi sentra vaksinasi yg diadakan Hippindo di De Tjolomadoe. Ceritanya ada kerabat yg mendapatkan tiket vaksinasi di sentra tersebut tapi karena dia sudah telanjur mendapatkan vaksin dari pihak lain, maka kami konsultasi untuk mengalihkan tiketnya kepada saya. Berbekal surat kuasa (bermeterai!!) saya mengajukan diri. Ternyata saya ditolak dan dibantu untuk didaftarkan ke Peduli Lindungi.
Awalnya saya berpikir bahwa itu betul-betul ‘bantuan’ tapi sebenarnya hanya sekedar pengalihan saja. Jadi pendaftaran saya dialihkan ke sistem yang memang adalah program vaksinasi nasional. Sesudah itu… wallahualam. Entah apa yg terjadi mbuh karepmu. Dan betul, saat mereka memandu saya untuk daftar di Peduli Lindungi, respon sistem memberi saya lokasi vaksin di sebuah RS di Semarang. Tanpa tanggal dan info lainnya. Respon mereka: “Tenang saja Bu, nanti mereka yang atur, tunggu saja.” Lalu saya dipersilahkan pergi dari sentra.
Tak ada kelanjutan dari sistem tersebut.
Di saat yang lain lalu ada pemberitahuan dari WA grup komunitas di RT (rukun tetangga), bahwa ada jatah vaksin sesuai domisili Karanganyar, tapi untuk warga usia 60 tahun. KTP saya tak memenuhi syarat usia itu, masih di batas usia kurang dari 60 tahun. Ya sudahlah.
Di kemudian hari saya mendapat informasi bahwa ketentuan batas usia itu ternyata ada yang mendapat kelonggaran. Petugas lapangan meminta mereka yang tak memenuhi kualifikasi untuk menunggu, bila sampai batas waktu vaksinasi ternyata jatah obat tersisa, maka pengajuan mereka bisa diterima.
Perlakuan petugas lapangan yang berbeda dengan petugas di program Hippindo.
Beberapa waktu kemudian sepupu saya mendapat kupon dari program Halodoc Primary Care, yang bekerjasama dengan perusahaan farmasi PT Konimex, mengadakan sentra vaksinasi. Karena sepupu saya sudah mendapat suntikan vaksin dari penyelenggara lain, maka kupon tersebut dialihkan pada saya. Dia melakukan pendaftaran online dan berhasilkan mendapat notifikasi jadwal vaksin dengan nama saya tercantum. Notifikasi yang saya syukuri. Akhirnya mendapat jatah juga.
Ternyata perjuangan belum selesai…
Jadwal vaksin saya jam 10.00 WIB. Saking semangatnya saya datang 20 menit sebelumnya. Sampai di lokasi antrian panjang sekitar 100 orang. Ada info bahwa untuk peserta usia 50 ke atas, boleh langsung. Bertanyalah saya pada penjaganya dan dijawab: “Tidak bisa, tunggu dulu sampai antrian yang jam 9 itu rampung.”
Ditunjuknya antrian yang seratusan itu. Badalah. Padahal di antara antrian itu termasuk yang jadwal jam 10 juga, tidak ada pemilahan dan pendataan di awal.
Saya kemudian menepi, sembari berpikir. Saya tidak berkeberatan antri, tapi jarak antrian terlalu berkerumun sehingga mengkawatirkan.
Mendadak kemudian melintas di dekat saya sepasang kakek dan nenek, yang datang untuk vaksin juga. Melihat mereka, seorang petugas mendatangi dan bertanya jadwal mereka, ternyata jam 10 sama dengan saya, dan petugas itu memanggil petugas memeriksa data notifikasi. Dengan segera saya memanfatkan aji mumpung, antri di belakang kakek nenek itu. Berhasil, notifikasi saya sesuai data dan dipersilahkan masuk. Petugas penjaga yang tadi menolak saya, melengos tapi membolehkan saya masuk.
Sampailah saya di bagian screening.
Muncul masalah, ternyata data saya di sistem Peduli Lindungi muncul, yang menyatakan bahwa lokasi vaksin saya di RS Semarang. Lokasi yang jaaaauh dari domisili KTP. Mereka menyatakan menolak saya. Seorang petugas yang tampaknya senior menjelaskan bahwa saya harus mengurus ke RS yang ditunjuk untuk vaksin di sana atau mencabut pendaftaran itu.
Saya bertanya balik, bagian apa di RS itu yang harus saya hubungi untuk urusan itu? Saya yakin bahwa pasti RS juga tidak tahu dan bahwa itu adalah bagian kerja sistem yg kebetulan ‘nyangkut’. Sang petugas senior tidak tahu dan memilih pergi. Tapi untunglah ada petugas yang tidak menyerah dan mengusut kasus saya dengan menghubungi entah siapa. Saya menunggu sembari telepon pada RS vaksinasi saya. Tidak berhasil, nada dering tak berhenti tidak ada yang menerima.
Beberapa saat kemudian, petugas yang gigih itu kemudian mempersilahkan saya untuk proses tahapan vaksinasi selanjutnya. Data yang nyangkut telah berhasil dibereskan. Dan sayapun mendapatkan vaksin saya yang pertama. Betapa saya berterimakasih pada petugas itu, yang sayangnya lupa saya tanya namanya.
Dialah tipikal pelaksana lapangan yang bervisi mengutamakan percepatan kekebalan imunitas. Tanpa kegigihannya, saya akan terpaksa pulang dan berjuang lagi untuk mendapatkan vaksin. Dialah pejuang vaksin.
Pertanyaannya, berapa banyak petugas pelaksana di lapangan yang memiliki kegigihan dan bervisi utama mencapai secepatnya kekebalan imunitas?
Mari berharap bahwa ada banyak petugas lapangan seperti beliau.
***
Tulisan ini sudah diterbutkan di Facebook @saniebkuncoro
Sanie B Kuncoro, penulis dan karyawati di Solo.