Judul: Tuan Presiden
Penulis: Miguel Ángel Asturias
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2019)
Halaman: 416

Judul: Tuan Presiden
Penulis Miguel Angel Asturias
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit Pustaka Jaya (1985)
Halaman: 501

Tuan Presiden adalah salah satu dari banyak karya sastra yang menggambarkan kekejaman penguasa dan betapa besar dampaknya bagi rakyat yang berada di bawah kuasanya. Gaya bahasa dan karakter-karakter novel ini begitu memikat. Pembaca akan berkenalan dengan sekelompok kaum sampah: tersatukan hanya oleh kemelaratan dengan berbagai macam tabiat dan kesusahan hidup yang membuat mereka berada benar-benar di ambang maut. Berkumpul oleh malam di sebuah Pelataran Tuhan Allah dan terpisahkan oleh fajar. 

Di pelataran inilah kemudian terjadi peristiwa yang menjadi awal dari peristiwa menegangkan sepanjang cerita. Pada suatu malam ketika sedang tidur, gelandangan pemabuk, si pandir, atau si Munyuk -yang akan kalap apabila mendengar orang menyebut-nyebut ibunya- diganggu oleh seorang kolonel dengan meneriakkan kata ‘ibu’. Sang kolonel pun, Jose Parrales Sonriente, dicolok matanya, digigit hidungnya sampai robek, dan kemaluannya ditanduk dengkul sampai roboh tak bergerak-gerak.

Kematian sang kolonel menjadi cikal bakal terungkapnya kekejaman Tuan Presiden, dan kita dapat menyaksikan betapa permainan penuh intrik mengisi lembar demi lembar novel ini hingga cerita berakhir dengan tegangan yang terus terjaga. Begitu kuat tegangan itu karenanya pembaca tidak serta merasa bebas ketika telah menuntaskan lembar terakhir. Tegangan itu tumbuh dengan kuat di dalam kepala, menjelma bagai hantu. Jelas sekali sangat mengusik.

Pembaca mengenal intrik pertama, ketika Sang Oditur Militer -kaki tangan Tuan Presiden- memaksa para gelandangan mengakui bahwa pelaku pembunuh sang kolonel bukanlah si Munyuk melainkan dua musuh yang ingin disingkirkan oleh Tuan Presiden: Jenderal Eusebio Canales dan Pengacara Carvajal. Akan tetapi salah seorang gelandangan, Si Laler, bersikukuh menyampaikan yang ia ketahui dengan sikap jujurnya untuk mengungkapkan yang sebenarnya terjadi. Kejujuran dan ketabahan yang begitu keras kepala yang membuatnya berakhir di kereta sampah sebagai ‘separuh’ jasad -karena ia tak punya kedua kaki.

Kita tahu dalam sejarah, orang-orang tak bersalah yang selalu menjadi korban. Para penguasa selalu menemukan cara untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak mereka sukai dan mengukuhkan kekuasaan mereka. Dalam novel ini, Tuan Presiden menunjukkan besarnya kekuasaan yang ia miliki dengan menunjukkan tipu daya yang mengacaukan orang-orang di sekelilingnya.

Maka Miguel Cara de Ángel atau Miguel Muka Malaikat, orang kepercayaan Tuan Presiden, diminta untuk mengabarkan kepada Jenderal Eusebio Canales bahwa ia akan ditangkap dan harus melarikan diri selagi sempat. Sebuah tipu daya yang dirancang untuk kematian sang Jenderal dan diyakini akan berjalan lancar namun berbelok ke arah lain. Orang kepercayaan Tuan Presiden tadi malah menikahi anak Jenderal Eusebio Canales, yang ditargetkan mati tapi berhasil melarikan diri. 

Tapi peristiwa yang terjadi nyaris kebetulan itu menyeret banyak orang ke lubang neraka.

Sepasang suami istri yang baru mendapatkan anak tersiksa hingga babak belur, kehilangan mimpi-mimpi bahagia yang mereka bangun. Sementara Tuan Presiden terus menunjukkan taringnya hingga orang-orang tak berdaya yang dianggap (dicitrakan) sebagai musuh negara, ditumpas tiada sisa dan berakhir di tahanan bawah tanah, rumah bordil, atau paling beruntung di kuburan.
________________________________________________________________________________________________________________

Miguel Angel Asturias  (1899-1964)
Lahir di Guatemala dan tamat Fakultas Hukum dengan tesis ‘The Social Problem of the Indian’ yang diterbikan tahun 1923. El Senor Presidente atau Tuan Presiden adalah novel pertamanya yang ditulisnya ketika dia tinggal di Paris, Prancis, bekerja sebagai wartawan merangkap mahasiswa. Ketika diktator Guatemala Jorge Ubico tumbang tahun 1944, dia ditunjuk menjadi diplomat Guatemala di Meksiko dan terbitlah El Senor Prresidente dalam Bahasa Spanyol. Dia juga menulis puisi serta beberapa novel lain dan meraih Nobel Sastra tahun 1967.
(Foto: Dominique Roger – unesco.org)

__________________________________________________________________________________________________________________

Karya penting Miguel Angel Asturias ini pertama kali diterbitkan tahun 1946 dalam bahasa Spanyol dan sampai saat ini masih sangat perlu dibaca. Ada kontras yang sangat menyedihkan antara nasib orang-orang yang dekat dengan Tuan Presiden dengan mereka yang tidak dekat dengannya. Persis seperti yang terjadi saat ini di banyak tempat: kenikmatan yang ditawarkan oleh negara hanya dapat dinikmati oleh orang yang dekat dengan penguasa, yakni mereka yang terlibat aktif pada saat penguasa meraih kekuasaan, yang tidak jarang dengan cara penuh kebejatan. 

Jika Asturias memaparkan kebusukan pada tingkat negara di ratusan halaman novelnya, agaknya waktu 75 tahun sudah menyebarkannya sampai pada hidup keseharian orang-orang yang nyata di kabupaten di pelosok-pelosok dunia.

Begitu mengakarnya, begitu kuatnya, tak berbeda seperti yang diamati Asturias 75 tahun lalu, “…mereka yang berkekurangan terpaksa bekerja keras demi makan sehari-hari sementara yang lain hidup lebih dari cukup dengan ‘bekerja’ dalam industri pengangguran terpandang; sebagai kawan-kawan Tuan Presiden; sebagai tuan tanah pemilik rumah -empat puluh rumah, lima puluh rumah-; sebagai tengkulak dengan bunga sembilan, sembilan setengah, dan sepuluh persen per bulan; sebagai pejabat yang menduduki tujuh atau delapan jabatan publik sekaligus; sebagai pemain konsesi dana pensiun, gelar-gelar profesional, rumah judi, lapangan sabung ayam, orang Indian, pabrik arak, rumah bordil, kedai-kedai minum, dan koran bersubsidi.” (hal. 22)

Rakyat dalam novel ini, adalah gambaran diri kita, sebagai gelandangan-gelandangan. Dan si Munyuk -salah seorang dari kita, para gelandangan itu-  yang mengakhiri nyawa kolonel hanya semata-mata karena kalap terhadap kata ‘ibu’ yang didengarnya, harus berakhir di ujung pistol sebagai penderita rabies -begitulah pembenaran untuk pembunuhan oleh penguasa. 

Kita sekaligus pula sang jenderal, yang menderita atas apa yang tidak ia lakukan dan menderita sepanjang hidup atau Camila, yang mengetuk-etuk pintu paman-pamannya namun tak satupun berkenan menerimanya maupun Koster mendekam di penjara lantaran mencabut pengumuman ulang tahun ibu Tuan Presiden hanya karena ia tidak bisa membaca. Juga Dokter Barreño, yang mengetahui kejahatan Kepala Kesehatan Militer dan harus menerima ancaman saat hendak berkata jujur. Bahkan ketika hendak menerapkan keahliannya, pak doker dianggap berniat menjatuhkan nama baik penguasa. 

Kejujuran pun akan menjadi kejahatan apabila mengganggu kepentingan penguasa. Kejujuran pun bakal mengantarkan orang pada kematian maut. Maka kita semua, para gelandangan, memilih secara sadar untuk pragmatis seperti istri sang dokter, yang mengungkapkan sebuah kenyataan pahit dalam sistem yang bekerja pada kita selama ini. “Tidakkah kau sadar bahwa untuk mendapat sesuatu dalam hidup ini kau harus lebih banyak akal daripada ilmu?” tegas istrinya.

Tapi tidak, hidup tidak selalu ditentukan oleh kejujuran atau kejahatan seperti itu, seperti diyakini Si Jompo Fulgencio, kakek tua baik hati yang menjajakan kupon undian di jalanan -seorang Katolik taat dan penarik uang yang cakap. Ia berkata:

“Kawan, kawan, sathu-sathunya hukum di mukha bumi ini adhalah lotre: lotre bisa mengantarmu ke phenjara, membhuatmu dhitembak, membuatmu dhiangkat jadi deputhi, dhiplomat, presyiden rhepublik, jyenderal, atau mentheri! Apa ghunanya kerja, kalau syemua ini bisa dhidapat melalui lotre? Lotre, Kawan, lotre, jadi kemarilah beli bebherapa kupon indian!” (hal. 142)

Ya, benar, hidup hanya lotre!
***

Arianto Adipurwanto, lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Tahun 2017 diundang mengikuti Literature & Ideas Festival (LIFE’s) di Salihara, Jakarta. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *