Inilah kota yang isinya toko buku, Hay-on-Wye.
Berjarak sekitar 210 mil dari London, terletak di Upper Wy Valley di perbatasan tanah England dan Wales, kota kecil ini persis berada di sebelah timur sungai Wye yang permai.

Wye dalam bahasa Wales berarti sungai, sedangkan Hay dari kata Haie (bahasa Norman French). Sangat mudah menuju kota ini. Dengan kereta api, bisa dari Manchester atau London (stasiun King’s Cross) menuju Hereford. Hanya 2 jam perjalanan. Dari stasiun Hereford, gunakan taxi atau bus menuju Hay (sekitar 50 menit). Ada 5 kali pemberangkatan bus setiap hari.

Kota kecil ini berbentuk segitiga: Belmont Road di sisi barat, Lion street di sebelah timur dan Oxford Road di selatan, yang menjadi pusat kota dengan adanya bangunan Hay Castle. Kastil Hay dibangun abad 12 oleh Lord William de Braose, seorang Normandia. Sempat dihancurkan oleh Llewelyn, pangeran Wales terakhir, dan dibangun kembali tahun 1233 oleh Raja Henry III. Dua kali terbakar tahun 1939 dan 1977, juga berulangkali berganti pemilik. Sejak tahun 2011 kastil ini menjadi milik badan amal Hay Castle Trust, yang mengelola rencana restorasi untuk dibangun kembali sebagai pusat berbagai kegiatan seni dan budaya.
Richard Booth
Hay-On-Wye terkenal sebagai kota buku setelah Richard Booth membuka toko buku pertamanya tahun 1962. Bermodal buku-buku bekas dari berbagai perpustakaan yang tutup di Amerika, dia merintis bisnis penjualan buku bekas yang ternyata sukses besar.

Tahun 1969 dia bahkan membeli gedung bioskop New Plaza Cinema dan mengubahnya menjadi toko buku Hay Cinema Bookshop. Selanjutnya dia membeli kastil Hay pada tahun 1971, menjadikannya sebagai kerajaan buku dan mengangkat dirinya sendiri sebagai The Lord of Hay. Namun toko buku legendarisnya adalah Richard Booth’s bookshop di Lion Street yang bertahan hingga kini meskipun berganti pemilik.
Kesuksesan Booth memunculkan banyak pengikut sehingga pada masanya kota ini memiliki puluhan toko buku dan menggerakkan berbagai sektor pendukung lainnya. Penginapan, restoran, dan beragam toko penyerta lainnya, tidak hanya demi bisnis perbukuan tapi juga turisme. Para pencinta buku menjadikan kota kecil ini tujuan tak hanya demi menemukan buku lama dan baru, melainkan juga untuk bertemu sesama pencinta buku. Bagi pencinta buku, aroma khas lembaran buku serupa candu dengan romantisme yang tak selalu terjelaskan oleh kata-kata.
Namun jaman selalu bergerak dan tak banyak yang kebal dari perubahan itu. Ketika teknologi digital mampu menyimpan lebih dari 10.000 teks buku dalam satu microchip, kota kecil ini terkena imbasnya. Maka beberapa toko buku telah beralih menjadi toko fashion, souvenir, handycraft dan sebagainya. Namun selalu ada yang sanggup bertahan, sehingga toko buku tetap mendominasi kota kecil yang sederhana dan bersahabat ini. Masih ditemukan toko buku khusus yang menjual buku jenis tertentu. The Poetry Bookshop di Brook street hanya menjual buku puisi sedang buku fiksi horror dan kriminal bisa ditemukan di toko Murder & Mayhem, dan buku bergambar untuk anak ada di Rose Book.

Dari kastil Hay, sahabat saya yang sudah belasan tahun tinggal di Inggris mengantar menuju toko buku legendaris itu: Richard Booth’s bookshop di 44 Lion Street. Telah tua toko itu, berupa bangunan berloteng kayu dan ruang bawah tanah berlantai semen, yang mirip gudang dengan rak-rak kayu sederhana. Ratusan ribu buku ada di sini. Baru, bekas atau terbitan lama. Beragam genre terbagi sistematis berdasar jenis. Sejarah, novel roman, science, fantasi, dsb. Buku anak memiliki sudut tersendiri lengkap dengan kursi-kursi kecil. Literasi non-Inggris memiliki rak khusus. Asia, Timur Tengah, Afrika, Rusia dan sebagainya. Sayangnya tak ada buku terbitan Indonesia di sini. Pada rak Asia lebih banyak saya temukan buku-buku Jepang.
Toko buku ini telah berganti pemilik. Richard Booth, pada usia akhir 70-an tahun, memilih menikmati masa pensiunnya entah di mana. Tetapi dia telah berhasil memilih pemilik baru yang membiarkan aura asal mula toko buku ini tetap bertahan. Sederhana dan bersahabat. Jajaran rak kayu tua menampakkan gurat yang seolah menyimpan kisah berbagai musim. Barisan buku tak jemu menunggu pembaca menghampiri.
Honesty Bookshop
Adalah gerai buku yang mengandalkan kejujuran pembelinya. Gerai buku ini terletak di pelataran kastil Hay. Berupa rak-rak buku di halaman terbuka tanpa penjaga. Disediakan kotak kaleng merah sederhana sebagai tempat pembayaran. Konon pelataran itu dulu penuh berisi buku dengan dua harga, yaitu 50 p untuk edisi soft cover dan £ 1 untuk hard cover.

Kini hanya ada dua rak buku saja, berada persis di sebelah kanan dan kiri pintu masuk halaman kastil. Harga bervariasi tertera pada tiap buku. Tidak lagi semurah dulu, tapi andaipun tidak setuju dengan harga tercantum, kotak merah itu tidak akan komplain. Berapapun pembayaran akan diterimanya, tergantung kejujuran para pembeli.
The Hay Festival
Ada beberapa festival di Hay-on-Wye. Paling popular adalah festival literasi dan seni yang diadakan setiap musim panas pada bulan Mei dan Juni. Adalah Norman Florence dan putranya Peter Florence yang menggagas dan mengadakan festival ini sejak 1988. Uniknya dana awal pembiayaan festival justru dari hasil kemenangan mereka bermain poker.
Festival ini termasuk yang diperhitungkan dan dihadiri tak kurang 100.000 pendatang setiap tahunnya serta melibatkan berbagai pesohor semacam Bill Clinton & Hillary, Jimmy Carter, Desmon Tutu -untuk menyebutkan beberapa nama yang pernah berpartisipasi dalam festival tersebut. Festival lainnya adalah Bike Fest pada medio April, Food Fest dan Art and Craft Fest di bulan Juni, Festival of British Cinema setiap September dan Winter Food Festival di akhir tahun. Tentu pandemi Covid-19 semuanya tertunda, seperti berbagai kegiatan umum lainnya di Ingris dan belahan dunia lain.
Countyside
Ada beberapa penginapan di tengah kota. Antara lain The Swan di Church Street, The Bear di Bear Street atau La Fosse guest house di Oxford Road. Semua adalah rumah tinggal yang dialihfungsikan sebagai penginapan. Tidak ada jaringan hotel berbintang di sini namun setiap penginapan rata-rata bersih dan ‘homy’ dengan kisaran tarip £ 35 -75/malam.
Pilihan lainnya, bila ingin lebih merasakan suasana pedesaan khas Inggris (dikenal dengan istilah countryside), adalah rumah penduduk di sekitar pinggiran luar Hay-On-Wye yang menyediakan fasilitas bed & breakfast. Berjarak tempuh sekitar 60 menit akan kita temukan rumah-rumah yang terletak di tengah padang rumput nan luas. Letak tiap rumah saling berjauhan. Akses jalan bagus namun kecil sehingga bila berpapasan dengan mobil lain, salah satu harus berhenti dulu. Tidak ada nama jalan, melainkan langsung nama penginapan atau pemiliknya yang tertera pada papan penunjuk. Pada umumnya pemiliknya adalah pensiunan yang kembali ke rumah desa sembari mengelola ternak yang dilepas bebas di padang-padang tersebut.

Kami menginap di Hall’s Mill House, di wilayah Huntington, milik Grace Watson seorang pensiunan guru. Tanpa pembantu dia mengelola rumah dan ternak serta merawat ibunya yang berusia 90 tahun. Sedemikian rapi dan bersih rumahnya membuat betah siapapun. Pagi hari disiapkannya English breakfast dan ditemaninya kami sarapan sembari berbagi cerita.
Ada hutan kecil dan sungai di belakang rumah. Airnya begitu bening dan dingin. Kami bermain dan menikmati gemericiknya. Sahabat saya dan Matta Kasih, putrinya meminum air sungai itu. Mereka percaya bahwa dengan minum air alam itu, akan membuat mereka kembali ke tempat darimana air itu berasal. Benarkah? Entahlah. Bagi saya sendiri, bukannya tak ingin kembali, saya justru tak hendak pergi. Saya masih ingin tetap tinggal entah untuk berapa lama.
Es Krim Domba
Gerai Shepherds Ice cream terletak di 9 High Town. Bingkai etalase kacanya berwarna hijau, menampakkan antrian di dalamnya. Antrian mengular karena penjualnya memperbolehkan pembeli mencicipi sesendok kecil tiap jenis es krim sebelum menentukan pilihan. Es krim yang terbuat dari susu domba ini memiliki beberapa pilihan rasa : ginger, spice, choco mint, dsb dengan satu harga @ £ 1/cone.

Saya beruntung tak perlu antri, Matta Kasih telah membelikan saya satu horn es krim warna hijau muda. Rasa pistachio. Sedap dan kesat tanpa rasa manis berlebihan. Di emperan Castle Street saya mengudapnya sembari menikmati romantisme sebuah kota buku. Ah, mengapa saya tak sreg menganggapnya sebuah kota? Rasanya Hay-on-Wye lebih serupa sebuah kampung atau dusun. Setiap jalannya begitu mudah kita jelajahi dengan berjalan kaki. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang, meluncur lambat tanpa tergesa.
Jelang malam. Toko-toko telah tutup pukul 5 sore. Namun musim panas membiarkan matahari bersinar lebih lama sehingga membuat langit serupa ambang sore. Lisa, ibunya Matta menggapai saya untuk beranjak. Saatnya pergi. Sesungguhnya saya enggan, ingin tinggal lebih lama. Namun selalu ada yang harus ditinggalkan dalam sebuah perjalanan demi menuju persinggahan lain.
Maka selamat berpisah Hay, kutinggal sebagian hatiku bersamamu. Mungkin tergeletak di antara rak kayu tua yang menyimpan ribuan kisah, atau terselip di antara buku-buku yang menunggu pembacanya. Barangkali tertinggal di sungai Wye, menjelma jadi buih yang mengalir bersama arus air entah ke mana.
Mungkinkah suatu hari nanti saya datang kembali?
***
Sanie B Kuncoro, penulis dan karyawati di Solo.