
Judul : Earthlings
Penulis : Murata Sayaka
Penerjemah : Ginny Tapley Takemori
Penerbit : Granta Books
Terbit : 2021
Tebal : 256 Halaman
ISBN : 9781783785698
Setelah mengguncang pembaca global dengan novel debutnya, Convenience Store Woman (Gadis Minirmarket), suara Murata Sayaka masih terus mendengungkan kritik terhadap kehidupan masyarakat modern. Wajah kehidupan metropolitan tetap menjadi latar kisahnya. Namun, ia mengalihkan lampu sorotnya lebih jauh lagi.
Kalau Gadis Minimarket sebatas mengangkat persoalan kenormalan di masyarakat, maka Earthlings tampak lebih berani lagi dengan bereksperimen membangun tatanan baru: sebuah dunia yang tak lagi terikat dengan nilai dan aturan yang dianut masyarakat selama ini.
“Kotaku merupakan pabrik yang memproduksi bayi manusia. Orang-orang tinggal di dalam sarang yang saling berdekatan. Persis seperti kamar ulat sutra di rumah kakekku. Sarang itu berjejer di tepi jalan, dan setiap sarangnya dihuni sepasang laki-laki dan perempuan dan bayi-bayi mereka. Tiap pasangan berkembang biak membesarkan anak mereka di dalam sarang mereka. Aku tinggal di salah satu sarang itu juga,” kata si tokoh utama Earthlings, Natsuki.
Dalam pandangannya, tatanan dalam masyarakat dianalogikan sebagai factory atau pabrik yang mendoktrin manusia sebatas untuk jatuh cinta, menikah, dan mempunyai anak. Sementara manusia adalah komponen di dalamnya, tidak lebih sebagai alat yang dibutuhkan oleh sebuah ‘pabrik produksi’. Manusia komponen itulah yang disebut sebagai Earthlings.
Di sisi lain, Natsuki, sedari kecil memiliki khayalan yang bebas. Ia mempunyai boneka landak mini bernama Piyyut, yang ia yakini sebagai utusan dari planet Popinpobopia yang datang untuk menyelamatkan bumi dari banyak krisis. Natsuki juga mengaku punya kekuatan magis: Piyyut memberinya tongkat dan cermin ajaib untuk menunjang kekuatannya. Tentu kita bisa menduga kalau itu hanyalah buah imajinasi khayalan kanak-kanak semata. Natsuki tidak pernah membicarakannya, ia merahasiakan identitas itu kecuali terhadap sosok terdekatnya, Yuu, sepupunya.
Kelak, bersama Yuu dan juga suaminya, Tomoya, khayalan itu termanifestasi dalam tindakan mereka yang ingin mendobrak tabu dan keluar dari tatanan Earthlings.
Kira-kira, apa yang membuat Natsuki sampai mempunyai pikiran semacam itu? Kita bisa menganalisisnya dari beberapa sebab. Pertama, Natsuki sepenuhnya bukan anak yang tumbuh dalam hangatnya kasih sayang keluarga. Bahkan, ia kerap mendapat perlakuan kasar dari ibu dan saudara perempuannya.Kata Natsuki, “Betapa bergunanya memiliki kotak sampah di dalam rumah. Dalam rumah ini, itulah peranku. Ketika Papa dan Mama dan Kise mendapat kekesalan yang tidak bisa lagi ditahan, mereka menimpakan semuanya kepadaku.” Selain itu, di mata ibunya, Natsuki juga tidak becus dalam banyak hal. Setiap tindakan yang ia lakukan tidak lebih sebagai sesuatu yang merusak, sesuatu yang tak diharapkan.
Kedua -seolah perlakuan tadi belum cukup- Natsuki juga mendapat pengalaman buruk di lingkungan sekolah. Ada seorang guru yang memanipulasinya, memanfaatkan kepolosannya, hingga melecehkannya. Dan saat ia menceritakannya kepada orang lain, termasuk kepada ibunya sendiri, justru Natsuki yang disalahkan. Guru itu dibela sebab memiliki citra sebagai guru yang tampan dan baik hati. Sejak saat itu, Natsuki memiliki trauma yang terus menghantui. Karena perlakuan itu pula, ia merasa mulutnya rusak dan tidak bisa lagi merasakan apa pun. Akumulasi dua pengalaman buruk itu yang patut dicurigai membentuk pemikiran Natsuki.
Tentu, novel ini tidak menarasikan kehidupan Natsuki berakhir di tiang gantungan karena saking frustrasinya, misalnya. Tidak. Sebab bersama Yuu, yang secara absurd ia anggap pacar, kemudian suaminya, Natsuki bersumpah beberapa janji. Sumpah itu tidak semua mereka lakukan, tetapi ada satu yang terus mereka pegang, yakni ‘bertahan, apa pun situasinya’.
Natsuki terus bertahan. Setelah suatu tragedi pelecehan dan ‘skandal masyarakat’ yang ia lakukan bersama Yuu di rumah kakek mereka di Akishina, hidup Natsuki bergulir sebaik mungkin dengan menjadi ‘komponen dari masyarakat’. Ia melakukan hal utama yang membuatnya diterima: sekolah yang baik, bekerja, dan menikah.

Sayaka Murata (dalam bahasa Jepang, 沙耶香) adalah salah satu penulis paling menarik di Jepang saat ini. Ia sendiri masih bekerja paruh waktu di sebuah minimarket, yang memberinya inspirasi untuk menulis Gadis Minimarket atau Convenience Store Woman (Konbini Ningen). Dia memulai debutnya pada tahun 2003 dengan Junyu (Breastfeedingi), yang memenangkan Hadiah Gunzo untuk penulis baru. Tahun 2009, Sayaka meraih Hadiah Noma dengan Gin iro no uta (Silver Song), dan empat tahun kemudian meraih Hadiah Mishima Yukio untuk Shiro-oro no machi no, sono hone no taion no (Of Bones, of Body Heat, of Whitening City). Gadis Minimarket atau Convenience Store Woman merebut Penghargaan Akutagawa 2016. Sayaka memiliki dua cerita pendek yang diterbitkan dalam bahasa Inggris (keduanya diterjemahkan oleh Ginny Tapley Takemori): “Lover on the Breeze” Ruptured Fiction(s) of the Earthquake (Waseda Bungaku, 2011) dan “A Clean Marriage” (Granta 127: Japan, 2014).
Akan tetapi, sama seperti tokoh di novel lainnya, Sayaka tidak membuat hidup Natsuki berjalan lancar dan menerima begitu saja aturan tak tertulis itu. Sosok Natsuki dengan semua pemikirannya adalah pemberontak, sekalipun orang-orang terus menekannya untuk tetap mengikuti semua tuntutan. Natsuki, misalnya, menikah sekadar untuk meredam kebisingan ibu dan saudara perempuannya yang terus memojokkan. Suatu kali, di usianya yang ketigapuluh satu tahun, Natsuki mengunjungi laman yang bisa membuat kita membentuk kesepakatan menikah tanpa menimbang rasa cinta. Maka bertemulah ia dengan Tomoya, laki-laki yang juga memiliki masalah serupa.
Tomoya merupakan sosok yang tak kalah ekstremnya dengan Natsuki. Ia seperti menjadi perwujudan laki-laki yang gagap dalam masyarakat yang sepenuhnya patriarkis. Dalam beberapa kasus, ia justru tampak rapuh dan lelah dengan segala tuntutan keluarga dan masyarakat. Katanya, “Siapa pun yang keluar dari aturan dalam Factory akan dihakimi. Itu tidak bisa dihindarkan.” Ia bicara dalam konteks baru saja kehilangan pekerjaan dan keinginan untuk mencari pekerjaan dimaknai sebagai pemenuhan tekanan keluarga dan masyarakat, alih-alih demi menunjang kebutuhannya.
Mendapati ketidakmujuran nasibnya, Tomoya sungguh menginginkan pelarian.
Suatu kali -Natsuki kerap menceritakan rumah kakeknya di Akishina yang dikesankan nyaman dan menenangkan- Tomoya ingin datang ke sana, tinggal beberapa jenak menenangkan pikiran. Sementara Natsuki, yang sebenarnya setuju dengan gagasan suaminya, agak ragu atas kemungkinan apakah mereka bisa ke sana atau tidak. Ia mesti terlebih dahulu meminta izin pihak keluarga, terutama ibu dan kakak perempuannya, Kise. Perkara memberi izin atau tidak cukup meragukan mengingat rumah itu kini dihuni oleh Yuu, sementara di masa lalu ia dan Yuu terlibat skandal keluarga.
Tapi pada akhirnya, mereka berhasil tinggal di sana sementara waktu. Masa-masa yang kemudian menjadi pijakan dari sekian peristiwa penting dalam Earthlings. Bagi Natsuki sendiri, rumah kakeknya menghadirkan luka dan bianglala. Ia seperti menjemput berbagai kenangan pahit dan manis di tempat itu, sebab tiap jengkal dan ruang menerakan ingatan atas sekian hal. Masih ditambah lagi dengan keberadaan Yuu, laki-laki tipe manusia yang —dalam istilah Tomoya dan Natsuki— taat mengikuti semua prasyarat untuk menjadi bagian dari komponen Factory (pabrik).
Di dalam beberapa kesempatan, Yuu tampak menolak secara tak langsung gagasan-gagasan berontak yang dikemukan Tomoya —untuk menyetubuhi salah seorang anggota keluarganya, misalnya. Namun, lambat-laun, seiring dengan interaksi dan bangkitnya kenangan masa lalu bersama Natsuki, Yuu sepakat bergabung bersama Natsuki dan Tomoya sebagai alien, atau ‘orang Popinpobopia’. Mereka memiliki misi menjalani hari dengan aturan sendiri dan menolak stigma, nilai dan tatanan yang diciptakan oleh Factory.
Ketimbang novel sebelumnya, eksperiman kisah yang dijewantahkan Sayaka dalam Earthlings lebih berani dan absurd. Novelis perempuan ini bahkan dengan bebas menunjukkan adegan pemerkosaan, pembunuhan, kekerasan fisik dan psikis terhadap anak, sampai keliaran ide serta perilaku yang mendobrak banyak norma dan ketabuan. Tentu, tidak semuanya bisa kita sepakati tapi eksperimennya seolah menegaskan betapa jengahnya ia dengan standar-standar yang dianut masyarakat dewasa ini.
Lewat Earthlings, ia juga seperti menebar pantikan atas sekian hal yang patut direnungkan: memangnya salah menjadi anomali di tengah masyarakat? Bukankah tidak masalah untuk tidak selalu memenuhi tuntutan keluarga dan masyarakat? Kenapa orang-orang sedemikian sibuknya memberi standar dan mengatur kehidupan orang lain?
Dari situ, Earthings bisa dianggap sebagai karya antitesis terhadap seberagam nilai-nilai yang dianut masyarakat. Kendati mencermatinya berarti tamasya atas serangkaian tawa, horror, dan rasa mual, tapi karya ini secara baik menunjukkan keunikan dan kesegaran perspektif Murata Sayaka.
Electric Literature merupakan penerbit digital non-komersial yang didirikan oleh Andy Hunter dan Scott Lindenbaum pada tahun 2009 dengan berawal sebagai jurnal triwulanan. Komitmennya menerbitkan karya yang cerdas dan bersahaja, mengangkat suara-suara baru dan mengkaji bagaimana sastra dan dongeng bisa membantu upaya mengatasi masalah keadilan sosial maupun situasi kekinian. Ketertarikannya terutama pada penulisan yang melintasi budaya, aliran, dan media. Situsnya berisi info-info perbukuan dari banyak mancanegara, ulasan buku, esai sastra, dan wawancara dengan banyak tokoh dan penulis. Laman mereka bisa dikunjungi lewat tautan berikut: https://electricliterature.com/

Itu pula, barangkali, yang membuat Electric Literature menempatkannya sebagai salah satu pengarang Jepang kontemporer yang patut diperhitungkan.
***
Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia. Ia bisa disapa lewat akun IG dan Twitter: @karaage_wahid.