Beberapa tahun silam, Ibuku pernah bertanya apakah ia menjadi beban untukku. Ia mungkin curiga kenapa aku memilih untuk menjauh darinya. Aku tinggal di Jakarta, sedang Ibu, Entin Rustinah, tetap di Sukabumi, kota tempat lahirnya yang nyaris tak pernah ia tinggalkan.
Siapa yang akan merawat dan menjaga Ibu?

Itu pertanyaan yang sudah lama berlalu dan tampaknya tak terlalu serius pula. Tidak pernah kujawab dan juga tak pernah ditanya lagi. Ibu nyatanya melepas aku dan adikku dengan ikhlas. Namun pertanyaan itu sepertinya masuk ke alam bawah sadarku dan setiap minggu, akupun menempuh perjalanan 3-4 jam pulang pergi Jakarta-Sukabumi.
Begitu selepas kerja Jumat sore maka aku langsung melompat ke bus cepat atau kereta api ke Sukabumi dan kembali ke Jakarta Minggu petang atau Senin pagi. Selama 10 tahun aku menjalani ritual itu dan sepenuhnya untuk Ibu.
Maka di ruang tamu kami mengobrol seharian semalaman, mulai hal berat sampai remeh temeh. Kami ngobrol tentang tetangga yang mau kawin, saudara yang sedang sakit, maupun mantan guruku yang meninggal dunia. Sering pula aku membawa cerita dari Jakarta, tentang bos baru di kantor, tambahan kerjaan, atau sekedar kecanduan baru berolahraga. Ibu suka mendengarkan kisah-kisahku. Dia memang selalu pendengar yang baik, bagi siapapun, apalagi putri sulungnya yang sengaja pulang untuk dia.

Lebih dari 40 tahun Ibu memilih hidup sendiri. Setelah kematian Bapak, kami nyaris tidak punya apa-apa. Mendiang Bapak tidak meninggalkan warisan sepeserpun. Kerja keras Ibu juga tidak mampu untuk sekedar merencanakan punya rumah sekecil apapun sekalipun. Sejak Bapak meninggal, kami bertiga menumpang hidup di rumah kakak tiri Ibu. “Kita harus tahu diri kalau numpang di rumah orang,” ujarnya.
Maka setiap hari Ibu mewujudkan ‘tahu diri’ itu untuk ikut bangun awal setiap pagi, untuk ikut menyapu, masak dan menyiram tanaman di halaman. Tak pernah terlintas di benaknya untuk punya rumah sendiri selain membesarkan kedua anaknya.
“Aku yang harus memulainya, dan membuat hidup Ibu lebih baik lagi” tekadku suatu saat.
Mulailah aku mengintip rumah sederhana dan prosesnya berjalan lancar. Aku dan Ibu akhirnya tinggal di rumah sendiri: dua kamar tidur kecil, satu ruang tamu kecil, satu dapur kecil, dan halaman kecil berukuran satu kali dua meter. Semuanya memang serba kecil tapi milik sendiri: istana kami dan kami bebas melakukan apa saja. Juga karena kecil, kami berdua pun selalu merasa saling dekat di dalam rumah. Kadang aku merasa seperti mendengar nafasnya yang halus dan teratur ketika dia terlelap tidur di kamar sebelah. Bisa jadi aku mendengar nafas yang teratur dan halus itu lewat hatiku, bukan telinga semata.
Begitulah setiap akhir pekan kami berdua pun menikmati kedekatan yang rutin selama bertahun-tahun. Bagaimanapun jelas Tuhan tak hanya menciptakan keteraturan saja tapi juga menghadirkan perubahan, yang disukai maupun tidak disukai umatnya.
Selama dua tahun terakhir, kesehatan Ibu mulai menurun -lambung kronis, kata dokter. Ketika dia harus dirawat di rumah sakit, aku melawan takdir dan mengambil cuti panjang untuk menemaninya hingga sembuh. Namun kondisi kesehatannya naik turun dan tak pernah pulih total seperti sedia kala.
Walau Ibu perempuan mandiri yang terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, tak tenang aku membiarkannya sendirian selama lima hari sebelum aku pulang berkahir pekan. Jadi kuminta bantuan orang untuk menemaninya.
Akhir pekanku pun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bukan lagi ngobrol seharian semalaman tentang segala hal serius dan remeh temeh, namun berubah dengan mengurusnya langsung. Aku mau dia merasakan keberadaanku selama mungkin di sepanjang akhir pekan. Sesekali rasa letih menggelayuti ketika bergadang menjaga Ibu. Kutatap wajahnya dan mengalirlah kenangan-kenangan kami berdua dan kenyataan bahwa Ibu merupakan sumber kekuatan atas seluruh hidupku. Dan bersama rasa letih itu, bisa kudengar lewat hati dan telingaku nafasnya yang halus dan teratur walau tidak lagi selancar sebelumnya.

Mungkin bertambahnya kekhawatiran akan kondisi kesehatannya malah mendorongku untuk melawan lebih kuat lagi. Maka kuputuskan membawa Ibu ke Jakarta agar dia mendapat perawatan penuh dari putrinya sendiri, yang pastilah menyiapkan yang terbaik untuknya. Mungkin pula kedekatan kami selama 40 tahun membuatku yakin bahwa persekutuan kami berdua akan mampu melawan apapun di dunia ini. Empat puluh tahun aku tumbuh bersama kemandiriannya, kebijakannya, kesederhanaannya, kekuatannya, dan berdua kami akan menaklukkan penyakit apapun yang dia derita
Namun hanya beberapa bulan berselang, Ibu minta pulang. Jakarta mungkin terlalu asing bagi Ibu dan sedikitnya 8 jam kerjaku setiap hari di kantor membuat dia kesepian di tempat tinggalku di Jakarta. Aku paham bahwa pada akhirnya Ibu punya pilihan tempat yang nyaman buatnya sendiri, bukan sekedar nyaman buat kami berdua, apalagi sekedar untuk ketenanganku semata. Dan ritual akhir pekan selama bertahun-tahun terukang kembali walau jelas dengan suasana yang sudah berbeda.
Minggu pertengahan November, aku pamit untuk kembali ke Jakarta. Namun hari itu ada yang tak biasa karena ia melepasku dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa yang aneh selama perjalanan dan masih tersisa ketika aku sudah tiba di rumah, berbaring di tempat tidur, bahkan sampai keesokan harinya ketika masuk kantor, duduk di meja, menghadapi komputer dan telepon, siap bertugas memulai satu pekan yang baru.
Kutelepon Ibu, yang mengaku baik-baik saja walau matanya yang berair ketika mengantarku kemarin yang sepertinya mengatakan sesuatu yang berbeda. Telepon hari itu terasa berbeda dengan telepon telepon rutinku yang biasa, yang membuatku terhiburkan setelah mendengar suara Ibu yang selalu tenang.
Rabu 17 November aku tengah makan siang di kantor ketika menerima telepon dari yang mengurus Ibu: kondisinya kritis. Sontak aku menghentikan makan siang: selera makan berganti dengan gelisah. Aku menelepon perawat yang sudah biasa datang ke rumah untuk memeriksa Ibu, yang menegaskan bahwa kondisi Ibu sudah tidak bisa ditangani di rumah lagi. Dalam keadaan kalut aku minta Ibu untuk segera ke rumah sakit. Beberapa jam kemudian, datang lagi telepon. Kali ini dari tetangga dengan warna suara yang berupaya menenangkanku tapi sebenarnya amat menyedihkan buatku: Ibu sudah tiada.
Aku terdiam, tenggorokanku tercekat. Tak ada tangis. Emosiku tertahan, sepertinya menolak berita tentang kepergian Ibu. Dan kuulangi lagi perjalanan dengan rasa yang aneh itu, walau kali ini dengan rasa mengambang yang membuat jiwa dan ragaku kosong tak bertenaga karena sumber kekuatan utamanya, seperti kata tetanggaku tadi, sudah pergi.
Begitulah, aku bersimpuh di depan jenazah Ibu, yang tampak rupawan dengan karakter mandirinya yang terpantul, juga dengan ketenangan yang tersebar, dan kekuatan yang terpencar walau sudah berjarak amat jauh dariku. Emosiku masih melawan dan tak ada air mata yang menetes. Sanak saudara dan handai taulan menatap, memeluk, dan menghibur namun semuanya seperti lewat hampa tak bermakna.
Akhirnya emosiku ambruk di pemakaman. Aku tak kuasa membentung air mata yang mengalir deras menerima kenyataan bahwa Ibu dan aku sudah terpisah total di dua dunia yang berjarak amat jauh. Tak akan ada lagi kebersamaan kami berdua di istana kecil kami.
Kenyataan akan kehilangan Ibu masih kucoba untuk kulawan. Kuulang lagi perjalanan rutin pulang dan setiap membuka pintu rumah, Ibu seperti hadir kembali. Begitu juga Ibu terasa hadir di ruang tamu, di kamar tidur, dan di dapur tempat Ibu menyiapkan makanan untukku setiap akhir pekan. Namun kehadiran itu selalu terselingi dengan rentetan pertanyaan, ‘untuk apa aku pulang?’ atau ‘siapa yang akan kutemui?’
Bahkan pertanyaan itu sesekali menggumpal kuat menjadi rasa bersalah karena tidak berada di sisinya mendekati masa-masa akhirnya. Beberapa pekan aku menghubungi banyak teman yang sudah lebih dulu mengalami kehilangan ibu untuk menanyakan rasa bersalah itu. Tak pernah ada jawaban yang memuaskan namun ziarah rutin ke makam Ibu dan obrolan batin saat ziarah pelan-pelan berhasil menenangkanku. Pelan-pelan muncul keyakinan bahwa Ibu sudah berada di tempat yang lebih baik jauh di atas sana namun tetap bersamaku dalam wujud dan semangat yang lain.
Perjalanan pulang pergi Sukabumi-Jakarta kuulang lagi setiap akhir pekan. Bayang-bayang Ibu yang sering kunikmati saja atau kualihkan dengan menelusuri persawahan di belakang rumah dihembus udara bersih yang segar. Pelan-pelan pula kuyakini bahwa Ibu tak akan pernah hilang dari hidupku. Kemandiriannya, ketenangannnya, kekuatannya, semakin terasa menjadi inspirasi bagi hari-hariku sekarang.
Hari baik atau buruk, seperti yang dijalani Ibu, siap kuhadapi.
***
Ani Mulyani, lahir di Sukabumi dan bekerja di BBC News Indonesia, Jakarta. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof.Dr. Moestopo yang suka aktivitas gym dan menikmati esai foto.