Masih ingatkah akan Tjamboek Berdoeri?
Ya, dialah penulis Indonesia dalem Api dan Bara (IdAB) yang diterbitkan persis sesudah serbuan Belanda pertama di Malang, November 1947, lantas diterbitkan ulang dengan pengantar ciamik mendiang Ben Anderson, 2004. Dalam pengantar itu Ben bukan cuma mendudukkan IdAB sebagai salah satu karya sastra luar biasa, melainkan juga menyebut penulisnya sebagai sastrawan hebat sesudah Pramoedya Ananta Toer.

Buku itu, kembali menurut Ben, berhasil menggambarkan pergaulan manusia berbagai bangsa pada periode akhir Kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan kemudian masa kemerdekaan dengan berbagai perasaan, gembira, sedih dan ngeri, semuanya campur baur menjadi satu, dalam tempo yang bebarengan.
Sebetulnya Tjamboek Berdoeri adalah nama samaran Kwee Thiam Tjing (1900-1974). Lahir 9 Februari 1900, di Pasuruan, Kwee Thiam Tjing (KTT) adalah putra pasangan Kwee Tjing Khing dan Liem Liang Nio. Ayahnya bekerja sebagai pegawai di Pabrik Gula Kebon Agung, Malang, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa.
Mengecap pendidikan dasar di ELS (Eerste Europese Lager School), si anak sulung dari 10 bersaudara ini kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) Tulungagung dan kemudian Malang. Selepas dari MULO -sejauh informasi yang diperoleh- dia tidak melanjutkan ke AMS (Algemene Middlebare School) yang saat itu sudah dibuka di Malang. Tidak terlalu jelas alasannya. Mungkin masalah biaya lantaran tanggungan orang tuanya semakin banyak. Mungkin juga dia ingin langsung bekerja. Yang pasti, sesudah lulus MULO …”ia banjak ambil privaatles dan zelfstudie, berbareng itoe ia banjak bantoe soerat-soerat kabar”…, tulis Tan Hong Boen dalam Orang-Orang Tionghoa Jang Terkemoeka di Java (Solo, 1935).
Walaupun hanya berpendidikan setingkat SLTP, tetapi bisa dipastikan dia fasih berbahasa Belanda, (Inggris dan Jerman), dan banyak bergaul dengan orang-orang Belanda. Dua hal yang pada waktu itu menjadi semacam ‘paspor’ untuk mendapatkan posisi dan pekerjaan bagus di Hindia Belanda. Dia, misalnya, sempat bekerja menjadi pegawai bagian administrasi di S.L van Nierop, perusahaan perdagangan besar Belanda yang punya cabang di Surabaya sekitar tahun 20-an sebelum terjun ke dunia jurnalistik. Perusahan yang berpusat di Amsterdam ini antara lain memproduksi sabun wangi dengan merk S.L van Nierop. Akan tetapi sesudah setahun bekerja di perusahaan ini, dia malahan mengundurkan diri kendati atasannya yang orang Belanda berusaha mencegahnya. Alasannya? Sudah tidak tahan lagi karena, “..melakukan pekerjaan “sleurwerk”, tiap hari sama saja..”, tulisnya di Indonesia Raya, 2 April 1973.
Sesudah itu dia terjun ke dunia jurnalistik dengan bekerja di bulanan Lay Po yang baru diterbitkan di Bandung oleh Toko Marie sekitar 1922. Menurut iklannya, Lay Po mengadopsi American Magazine. Majalah ini berdiri 1906 dan berjaya sekitar 1920, pernah dicetak sampai 1,8 juta eksemplar pada tahun 1922. Isinya beragam, mulai dari artikel, cerita, features dan berbagai kisah ringan lainnya. Yang menjadi hoofdredacteur adalah Lauw Giok Lan, redaktur senior Sin Po, dan kemudian bergabung juga Tio Ie Soei.
Sejak awal kemunculannya penerbit Lay Po mengaku mencetak sampai 7.000 eksemplar dan mendistribusikan ke hotel, restoran, stasiun, rumah bola dan sebagainya. Dalam media yang mirip-mirip majalah hiburan di jaman sekarang itu, KTT belajar dan berlatih mengembangkan kemampuannya menulis berita ringan, cerita maupun kolom serta mengalihbahasakan berita dan cerita.
Kemunculan Tjamboek Berdoeri
KTT bekerja di bumi Priangan tidak terlalu lama, hanya sekitar dua tahun, 1922-1924, dan kemudian pindah ke Pewarta Soerabaia yang ketika itu dikemudikan Liem Koen Hian (1897-1952). Lebih tua tiga tahun dari dirinya, Liem Koen Hian sudah malang melintang sebagai jurnalis ulung ketika KTT masih bersekolah, atau baru lulus MULO. Pada tahun 1916, misalnya saja, ketika KTT masih sibuk dengan sekolah MULO di Tulungagung atau Malang, Liem Koen Hian sudah menjadi pemimpin redaksi Tjhoen Tjhioe di Surabaya.
Sampai sekarang masih belum terlalu terang bagaimana perkenalan dan perpindahan KTT yang sementara itu berada di Bandung ke Pewarta Soerabaia dan Liem Koen Hian yang ada di Surabaya. Ben Anderson menduga Liem Koen Hian tertarik dan berkenalan dengan KTT gara-gara surat kiriman ‘di luar tanggungan redaksi’ yang berisi caci maki terhadap Sin Po Oost Java Editie dari seseorang bernama ‘Gandroeng Bali’ yang beralamatkan dari N.V. Nierop & Platon.
Perlu ditambahkan di sini, sejak 1 Juli 1922, surat kabar Tionghoa peranakan Sin Po yang berbasis di Jakarta membagi surat kabarnya menjadi dua edisi Oost Java dan West Java, dengan isi yang relatif sama. Perbedaannya terletak pada aksentuasi berita dan pemberitaan di daerah yang bersangkutan.

Sebagai surat kabar yang bermarkas di Surabaya (dan Jawa Timur), maka sedikit banyak kehadiran Sin Po menggerogoti oplaah Pewarta Soerabaia. Walaupun pada awalnya kehadiran Sin Po disambut hangat, tetapi kemudian sambutannya menjadi dingin dan akhirnya mulai serang menyerang di antara kedua surat kabar tersebut. Perbantahan mereka semakin sengit ketika Tan Tek Ho (1894-1948) menjadi pemimpin redaksi Sin Po Oost Java Editie dan polemik itu berakhir dengan perkelahian antara Tan Tek Ho dengan Liem Koen Hian sebagaimana ditulis Tan Hong Boen (Solo, 1935). Sekadar catatan, Tan Tek Ho pernah menjadi anak buah Liem Koen Hian di Pewarta Soerabaia.
Kembali ke KTT. Karier jurnalistik di Pewarta Soerabaia bermula dengan menjadi pembantu surat kabar ini untuk wilayah Malang/Bandung. Beberapa tulisan awal, dengan diperkenalkan oleh redaksi, menyebutkan kalau dia berada di Bandung atau Malang. Yang disampaikan dalam tulisan awalnya adalah tanggapan dan surat atas tulisan dua orang nona yang muncul di Lay Po. Ada juga komentar dia terhadap melempemnya organisasi-organisasi Tionghoa di Malang terhadap masalah banjir yang melanda Tiongkok.
Menurut Ben Anderson, nama Tjamboek Berdoeri muncul pertama kali di Pewarta Soerabaia pada 22 Djuli 1924. Namun penelusuran saya justru menunjukkan bahwa nama ini sudah ada sekitar 12 Djuli 1924. Nama itu muncul dengan tulisan yang mengkritik HoedjinHwee (Perkumpulan Para Nyonya). Perkumpulan yang diberdirikan di Malang tahun 1919 ini bertujuan untuk mendorong kemajuan perempuan Tionghoa baik sebagai pengurus keluarga maupun pergaulan sosial dengan lezing dan kegiatan ketrampilan lain secara rutin.
Namun ternyata, belakangan hari, tulis Tjamboek Berdoeri, berbagai kegiatan itu sudah berkurang sehingga ia khawatir perkumpulan itu sudah terserang penyakit (Pewarta Soerabaia, 17 Djuli 1924). Kritik ini segera ditanggapi oleh pimpinan perkumpulan tersebut, dan kemudian ditanggapi balik oleh Tjamboek Berdoeri, sehingga menjadi polemik sampai awal Agustus 1924. Rupanya itulah awalan kemunculan si Tjamboek Berdoeri di dalam dunia jurnalistik Melayu Tionghoa.
Penjara dan Romantisme Bujangan
Sepanjang hidupnya, KTT alias Tjamboek Berdoeri hanya menghasilkan satu buku, yakni Indonesia dalam Api dan Bara yang diterbitkan Perfectas, Malang, 1947, kemudian diterbitkan ulang (2004). Bukunya yang lain, Menjadi Tjamboek Berdoeri (MTB, 2010) berasal dari serial kolom Kwee Thiam Tjing (KTT) di Indonesia Raya dari 22 Juli 1971-28 Juli 1973.

MTB menjadi semacam memoar KTT, berkisah pengalamannya sebagai jurnalis, tahanan, sersan stadswacht (penjaga kota bikinan Pemerintah Kolonial Belanda), Tonarigumicho (Ketua Rukun Tetangga jaman Jepang) dan saksi pelapor pembantaian Tionghoa di Malang.
Perjalanan kariernya sebagai seorang jurnalis, redaktur, dan kolumnis di berbagai surat kabar Melayu Tionghoa seperti Pewarta Soerabaia, Soeara Publiek, Pembrita Djember, Matahari dan Sin Jit/Tit Po dengan periode waktu sekitar 20 tahun. Walaupun hanya bekerja dengan singkat, tidak sampai 10 tahun di masing-masing surat kabar, karena sebagian besar penerbitan yang dimasukinya (atau didirikannya) hanya berumur pendek, kecuali Pewarta Soerabaia. Topik tulisannya mulai dari masalah sehari-hari yang dihadapi warga Tionghoa, perkumpulan Tionghoa sampai dengan persoalan kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang tidak adil terhadap Tionghoa (dan bumiputera). Akibatnya, sebagaimana dicatat Tan Hong Boen (1935), …”dimana ia dengen sekalih goes telah dapet 9 persdelict jang kendati 6 perkara telah bisa bebas tapi restant jang laen telah bikin ia mendekam dalem pendjara 10 boelan lamanja…”.
Pengalaman dalam penjara selama 10 bulan tersebut, baik di Kalisosok maupun Cipinang, kelak dituliskan dalam kolom-kolomnya di Sin Tit Po dan kemudian dituliskan ulang dalam memoarnya Indonesia Raya. Menurut kisahnya, dia mulai ditahan preventif, ditahan sebelum dibawa ke pengadilan, karena delik pertama sekitar Januari 1926, dan mulai bersidang Mei di tahun yang sama. Walaupun ditahan, sejauh pengetahuan saya, dia masih kerap menulis di Soeara Publiek dari Januari sampai November 1926. Tentang hal ini, KTT mengaku,…”sering djuga saja masih bisa tulis di “Soeara Poebliek” jang mana bisa sampai medja redaksi di djalan Gresik via saluran gelap.”…
Walaupun sudah mendapatkan 9 persdelict sebagaimana dituliskan di atas, KTT tetap sering mempertanyakan kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada waktu itu. Salah satu yang patut diceritakan di sini ialah kasus penaklukan Atjeh (Soeara Publiek, 29 October 1925). Dengan mengomentari pemberitaan Soerabaijasch Handelsblad, (SH) alias Surat Kabar Perdagangan Surabaya, yang memberitakan rakyat Atjeh licik, tidak bisa dipercaya. dan masih suka melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Dengan tulisan berjudul, “Kalo saja mendjadi Seorang Atjeh…!”, jelas judul ini mengadopsi tulisan terkenal Soewardi Soerjaningrat yang bertajuk Als ik een Nederlander was diterbitkan di De Expres 1913 atau dua belas tahun sebelumnya.
Dalam tulisan itu KTT mengatakan bahwa rakyat Atjeh bukan tidak bisa dipercaya, melainkan mereka menolak dijajah Belanda karena dijajah itu tidak enak. Sikap yang dianggap pengecut itu sebetulnya sama saja dengan sikap Belanda sewaktu dijajah Spanyol (atau Napoleon). Artikel ini kemudian diakhiri dengan sajak pendek berikut ini:
O, als ik eens ‘n Atjeher was,
Hoe zou m’n rentjong spreken!
O, als ik een ‘n Atjeher was,
Menschenbloed zou aan m’n klewang kleven!
(O, jika saja saya seorang Atjeh,
Bagaimanakah rentjongku akan berbicara!,
O, jika saja saya seorang Atjeh,
Klewangku pasti akan basah darah manusia!),
Indonesier
Dan jelas tulisan di atas dianggap melanggar persdelict lagi dan KTT berusaha menghindari hal itu dengan memakai nama samaran lain, yakni Indonesier. Pihak redaksi juga menyediakan redaksi zitter (redaksi duduk), yakni redaksi palsu yang siap dipenjara untuk urusan pers delik. Dan benar sesudah penerbitan tulisan itu, pihak kejaksaan meminta kepala reserse Surabaya menahan preventif penulis kolom yang dianggap menghasut tersebut.
Redaksi menangkis tudingan hasutan karena tulisan Indonesier itu ditujukan untuk mengomentari surat kabar SH yang memanaskan telinga. Dikatakan bahwa, ..”Itoe sairan ditoelis dalam basa Blanda. Tjoba maksoed penoelisnja betoel boeat mengasoet, tentoelah sairan itoe ditoelis dalem bahasa Atjeh atawa bahasa Melajoe, tida dalem bahasa jang tida bisa dimengerti oleh sasoatoe orang Atjeh… “. Kendati begitu tetap saja kejaksaan menuntut dan meminta penahanan preventif terhadap penulis kolom tersebut. Yang maju sebagai zitter redaksi adalah Ang Kian Hie, yang sudah berjanji akan merahasiakan nama asli penulisnya dan bersedia menanggung segala resikonya. Walaupun diancam dimasukkan penjara, tetapi Ang Kian Hie tetap menutup rapat nama penulis tersebut. Dia tidak takut di penjara karena, buat dia, ke penjara itu…”Tida djadi apa. Sama seperti tetirah di Lawang…”. (“Tida jadi apa”, Soeara Publiek, 18 November 1925).

Masalah selanjutnya ternyata Ang Kian Hie baru saja dilepaskan dari penahanan preventif beberapa bulan sebelumnya lantaran tuduhan terlibat dalam perampokan. Dan sesudah dilepaskan dia langsung diangkat sebagai redaktur Soeara Publiek. SH segera menyerang dengan berseru, …”bagoes sekali dalam keada’an pers Timoer”..”. Serangan ini pun ditanggapi SP dengan jawaban yang kurang lebih sama, dengan memberikan beberapa contoh bahwa banyak orang Belanda dan jurnalis Belanda yang berlaku tidak patut tetapi toh nama mereka tetap mentereng dalam dunia surat kabar Belanda di Surabaya. (‘Preksa Badan sendiri, sobat’, SP, 20 November 1925). Seakan tidak puas, pada halaman lain artikel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda yang bagus menjadi, “Van frissche toestanden gesproken!”, (SP, 20 November 1925)
Sepulangnya KTT dari penjara pada November 1926, ada dua hal yang dihadapinya. Yang pertama adalah keraguannya untuk melanjutkan karier jurnalistik karena risikonya yang cukup besar dan penghasilan yang tidak menentu. Dalam beberapa tulisannya sebagai Tjamboek Berdoeri dia menceritakan bagaimana istrinya mendesak dia supaya meninggalkan profesi jurnalistik dan berganti menjadi pedagang supaya hidupnya lebih tenang, mengurus keluarga. Dalam surat kabar juga sempat ada pemberitahuan bahwa KTT sedang perlop untuk beberapa waktu.
Hal kedua yang dihadapinya adalah masalah jodoh. Sampai usia lebih dari seperemat abad itu, dia belum mempunyai istri. Walaupun dalam berbagai tulisannya sebagai Tjamboek Berdoeri, dia mengaku mempunyai istri. Bahkan dengan nama Hoedjin Tjamboek Berdoeri, ‘istrinya’ sempat menulis persoalan perempuan Tionghoa beberapa kali pada tahun 1925. Tulisan ‘istrinya’ itu juga pernah ditanggapi Tjamboek Berdoeri sendiri, sehingga bagi pembaca terasa bahwa mereka bedan-benar ada, suami istri Tjamboek Berdoeri. Kenyataannya tidaklah demikian. Tjamboek Berdoeri alias KTT baru menikah di tahun 1928. Kapan persis bulan dan tanggalnya, putri KTT sendiri juga tidak ingat dengan pasti.
Istrinya kemudian, Nie Hiang Nio, masih berkerabat karena perkawinan dengan famili KTT. Tidak ada informasi persis apakah mereka berpacaran sebelumnya ataukah mereka dijodohkan melalui comblang dan kemudian melalui fase bertunangan sesudah perjodohan diterima. Tidak ada bahan yang pasti. Namun membaca tulisannya sekitar tahun 1927 mungkin kita bisa menduga-duga bagaimana romansa KTT. Tengoklah syair berikut:
Kaloe saia lagi rindoe?
Oh, nona jang tjantik manis sebagi boelan poernama,
Moekamoe jang eilok seperti berbajang bajang di depan mata.
Satoe kali akoe perna ketemoe pada-moe, rasa hatikoe pata.
Dan akoe, nona, tida nanti bisa idoep
di ini doenia, zonder ada di damping
koe, kaoe jang koe tjinta.
Kaloe akoe boleh permisi berkata
nona
Akoe menjataken satoeloesnja, jang
akoe tjinta
Akoe tjintaken kaoe dengen antero
djiwa,
Dan akoe merasa soekoer, kaloe
kaoe djoega menjinta
Nona, djantoeng hatikoe jang tersajang.
Kaoe poenja moeka jang tjantik
selaloe terbajang-bajang.
Segala apa di ini doenia boleh men-
djadi ilang,
Tapi hatikoe tetep aken poenjaken
kaoe saorang.
Apatah djoega akoe boleh mengharep
nona,
Jang kaoe nanti angsoerken tangan-
moe, pada dirikoe jang renda.
Jang maskipoen kaoe perlakoeken se-
bagi boedak rasanja ridlah,
Angsal sadja kaoe tida djadi marah?
Oh, nona jang tjantik manis dan
berboedi,
Akoe merasa beroentoeng kaloe bisa
dapetken kaoe poenja diri,
Maskipoen akoe moesti makan nasi
dengen ikan teri,
Angsal sadja akoe bisa dapet tjinta-
moe jang soetji.
Nona, akoe tjinta padamoe dengen
satoeloesnja
Dan Allah nanti jang mendjadi saksinja,
Kaloe akoe maoein kaoe tjoema sebagi teboe, jang diboeang ia poenja sepa,
Biarlah Allah nanti koetoek akoe selama-lamanja.
Tapi nona, lagi sekali akoe menanja,
Dan akoe harep kaoe djoega mendjawab,
Apatah kaoe kiranja soeka,
Kaloe akoe dengen ridlah djadi kaoe
poenja boedak?
Djawablah nona jang manis, tjantik
dan sajang,
Soepaia hatikoe tida selaloe bergontjang.
Akoe tjoema mengharep satoe penjaoetan,
Jaitoe kaoe tjintaken dirikoe saorang.
Tapi itoe semoea nona, tida bisa kedjadian.
Akoe barangkali ketemoe padamoe,
tjoema di dalem impian.
Maskipoen bagimana besar adanja akoe poenja kainginan.
Toch tra nanti bisa kesampean.
Oh nona, bagimana deres aer mata-
koe bolehnja membikin basa
Bagimana keras dirikoe terseksa.
Lantaran dihadepin ‘koe selaloe berbajang roepamoe sadja.
Jang ingin tinggal menjinta sampe kita orang binasa.
Oh my darling, my darling jang tjantik, manis.
Akoe memoehoen padamoe dengen menangis.
Soekalah kiranja kaoe, mendjadi istrikoe,
Jang sedeng kerasnja, menanggoeng rindoe.
Tapi ach, lagi sekali pertjoema.
Biarpoen akoe menangis sampe keloear dara,
Toch kaoe tida bakal djadi akoe poenja.
Akoe melaenken boleh harep kaloe
soeda poelang ka soearga.
Di mana kita ketemoe lagi di itoe tempat baka.
Kaloe saia lagi rindoe?
(Soeara Publiek, 26 Maart 1927)
Puisi tersebut seperti menggambarkan keresahan hati penulisnya. Jelas puisi itu tidak cengeng dan kelihatan juga sisi jenaka penulisnya. Walaupun di dalam kalimat terakhir artikel itu ada kalimat ..”Diminta dengan hormat soepaia ini sair tida dikasi oendjoek pada hoedjin…”, kita semua tahu bahwa hudjin itu sesungguhnya tak ada, dan syair itu mungkin mewakili kegelisahan hati seorang bujangan yang bernama Tjamboek Berdoeri. Bener of betul, bukan?
***
Foto:
1. Sophee.co.id dan Goodreads.com
2. National Geographic Indonesia
3. Wikipedia
4. Goodreads.com
Arief W Djati, salah seorang penyunting buku karya Kwee Thiam Tjing, ‘Indonesia dalem Api dan Bara’ 2004, dan ‘Menjadi Tjamboek Berdoeri’ 2010. Saat ini sedang mengerjakan biografi Kwee Thiam Tjing.