Sekitar setahun lebih menjadi pengasuh anjing, saya sudah bertemu dengan beragam ras dan karakter. Ada yang bilang, karakter anjing tergantung ras. Golden Retriever, misalnya, disebut cerdas dan bersahabat sedang Border Collie, katanya, energetik dan selalu siaga. Adapun French Bulldog, konon, easy going. Terus gimana dengan ras silang, yang merupakan anak perkawinan antar ras? Entahah. Yang jelas, sama seperti manusia, anjing punya karakter beragam dan inilah beberapa di antara mereka.
Evie dan Ivy
Dua anak angkat berkaki empat ini adalah French Bulldog yang berteman tapi juga bersaing. Tubuh Evie sedikit lebih besar jadi lebih tenang sedangkan si kecil Ivy, berkesan masih perlu membuktikan diri agar tak dianggap remeh. Persaingan mereka paling terasa ketika dibawa jalan. Ibu pemiliknya sudah mengingatkan kalau mau tenang maka bawa jalan satu per satu, bukan sekaligus berdua. Hari pertama, saya memilih hemat waktu maka dibawa sekaligus berdua sambil mikir, “Ah… anjing kecil-kecil saja kok, gampanglah itu.”

Anggapan yang salah karena Evie dan Ivy berebut untuk berada di depan. Walau relatif kecil, semangat bersaing yang tinggi membuat saya agak terseret-seret di belakang: sepertinya mereka yang membawa saya jalan. Pokoknya rebutan untuk paling depan sampai tak perlu mendengus sana sini menyelidiki jejak anjing yang sebelumnya lewat atau yang tadi kencing di pohon. Tobat saya.
Hari kedua dan berikutnya, saya bawa satu per satu. Barulah mereka berperilaku sebagaimana mestinya seekor anjing. Masing-masing mengendus tiap sudut yang ada jejak anjing dan kencing sedikit untuk menetapkan teritori kekuasaan. Perjalanan pun lebih menyenangkan, tak terburu-buru seperti mau mengejar bus.
Evie dan Ivy juga boleh mendapat makanan manusia: daging ayam asal bukan yang pedas. Dalam urusan makanan, juga terjadi persaingan dengan Ivy selalu melompat lebih cepat ke depan jika saya memberi tanda-tanda mau memberi jajanan ayam bakar. Penafsiran saya adalah Ivy membuat pernyataan, “Jangan anggap saya tidak ada karena saya kecil” sedangkan Evie agak tenang karena yakin pastilah kelak mendapat jatah.
Lantas pertemanan mereka? Kalau sedang main di halaman belakang, keduanya kejar-kejaran dan sok-sok berkelahi tapi tak melukai. Masih tetap berbau persaingan. Sekali waktu keduanya tertangkap berkomplotan mencuri sepatu lari saya. Siang itu, saya sedang duduk di ruang TV, dan melintaslah Ivy berjalan perlahan-lahan dengan Evie di samping menutup sebagian tubuh Ivy. Keduanya menuju ke halaman belakang.
Tiba-tiba istri saya yang sedang duduk di halaman belakang berteriak, “Sepatumu Pak!” Maka saya melompat dan Evie segera melepaskan gigitan pada sepatu tapi Ivy masih mencoba lari, yang tak akan kemana-mana karena halaman kami yang kecil. Saya bentak keras Ivy dan dia lari berlindung di belakang kaki istri saya dengan pandangan seolah-olah saya adalah orang jahat yang ingin melakukan kekerasan kepadanya.
Tily
Walau bertubuh besar, Tily berhati lembut. Anjing ras campuran berwarna coklat ini diselamatkan dari jalanan, kata ibu pemiliknya. Dia diduga sempat menderita kekerasan fisik, yang membuatnya serba takut, jadi mungkin sebenarnya bukan lembut semata. Waktu kunjungan pemeriksaan awal, dia memang langsung mau saya sentuh sambil berlari-lari kecil berkeliling halaman. Tapi kehati-hatiannya mengemuka. Melihat dia sudah mau menjelajah sendiri halaman belakang sebagai lingkungan barunya, ibu serta bapak-nya yakin Tily bisa ditinggal bersama kami.

Pada hari kedatangan untuk menginap selama dua minggu, ekornya sudah bergerak-gerak riang ketika masih di seberang pintu kaca. Begitu masuk ke dalam rumah, dia langsung lari ke halaman belakang sementara ibunya menjelaskan urusan rutin harian: makanan, jajanan, mainan, dan tempat tidur sedang bapaknya melatih saya menggunakan kalung di lehernya untuk mencegah agar dia tidak menyalak.
Saya kira alat itu semacam sensor yang bergetar jika Tily menyalak sehingga membuatnya tidak nyaman dan menghentikan gonggongan. Saya sok serius mengikuti instruksi walau dalam hati yakin, “Namanya anjing ya mengonggonglah, asal nggak berkepanjangan.”
Begitu ibu dan bapaknya pulang, Tily sudah tak perduli lagi untuk ikut mengantar ke pintu depan. Biasanya beberapa anjing masih berlari ke arah pintu melihat pemiliknya menjauh dari rumah. Tily tidak. Dia menghilang, tapi ibu bapaknya senang karena itu pertanda awal bahwa dia sudah langsung kerasan. Begitu menutup pintu depan, saya ke halaman belakang dan Tily tak terihat. Juga tak terdengar suara apapun.
Saya panik dan berteriak, “Tily!” biarpun sebenarnya halaman belakang berpagar tertutup. Tapi ada bagian pagar rendah dan anjing sebesar Tily mungkin saja melompat jika memang berniat serius. Maka saya panik. Jika ia melompat ke halaman sebelah, bisa jadi dia sudah di lepas ke jalan raya.
Tiba-tiba dia muncul sambil lari bergegas dan langsung menuju tempat tidurnya di ruang duduk. Rupanya dia menjelajah di balik tanaman yang cukup lebat. Saya lega tapi kemudian tak enak melihat dia sepertinya ketakutan dibentak keras gaya Batak, begitulah tafsir istri. “Kau teriaknya Batak kali, takut dia.” Dan dia memang berbaring tertib tak bergerak di atas tempat tidurnya walau, seperti kata ibunya, dia sebenarnya suka main di halaman.
Saya elus-elus dia sambil menjelaskan dengan suara lembut bahwa saya panik karena dia tadi sama sekali tak kelihatan. Saya memang sering ngobrol dengan para anak angkat berkaki empat itu, biasanya dalam Bahasa Indonesia kecuali kalau sedang membentak atau marah. Saya yakin mereka mengerti yang. Salah satu malah ikut perintah ‘duduk’ ketika diucapkan oleh bapaknya dengan logat Inggris walau harus diakui ada nada yang serupa dengan ‘sit’ dan gerak telunjuk.
Kembali ke Tily, dia akhirnya tenang lagi dan mau main ke halaman: lari-lari kecil sambil mendengus-dengus. Belakangan, setelah kami jalan pagi maupun sore, terlihat dia punya penciuman yang amat tajam. Beberapa kali dia ngotot menyeberang jalan dan setelah diikuti rupanya tercium bau sampah makanan, entah itu remehan fish and chip atau sisa-sisa sandwich. Dia juga tak suka sama mobil yang bersuara keras dan melompat menyergap sambil menyalak sekuatnya. Jadi saya harus ekstra kuat memegang talinya jika berjaan di kaki lima jalan raya yang ramai.

Dua minggu dia semakin kerasa di rumah dan punya lokasi khusus untuk bermalas-malasan, di pojok dekat pintu ruang sarapan yang berdinding kaca. Di bawah siraman matahari, dia suka berbaring di sana setelah lelah berjalan atau bermain di halaman. Hanya malam hari dia berbaring di tempat tidurnya di ruang duduk.
Ketika tiba waktunya dijemput, ibu dan bapaknya masuk dengan semangat karena kangen. Dia juga melompat dari lokasi malas-malasnya sambil menggoyang-goyangkan ekor dengan gembira karena dielus-elus ibu dan bapaknya. Cuma setelah beberapa waktu, dia kembali ke lokasi malas-malasnya, bukannya bersiap ke luar rumah untuk pulang. Ibunya harus memanggil “Tily…” dan barulah dia ikut ibu dan bapaknya masuk ke dalam mobil.
Saat kunjungan kedua, Tily sudah jauh lebih santai lagi. Dia juga langsung lari ke halaman belakang dengan ekor bergoyang-goyang riang dan saya juga tenang saja karena yakin dia ada di halaman. Rutinitas kami jalani bersama lagi dengan santai dan ketika dijemput pulang, dia melompat mendekati ibu bapaknya tapi setelah cukup ‘melepas rindu’ kembali lagi berbaring di tempat berbaring favoritnya, seolah-olah, “Ok, sudah ya, saya mau santai-santai lagi.” Sebagai bapak angkat, perilaku Tily itu membuat hidung saya kembang kempis sedikit: senang karena anak angkatnya kerasan.
Jazz
Sebagai anjing yang juga diselamatkan dari jalanan, Jazz tergolong sudah berhasil total mengatasi trauma masa lalu. Tidak ada tanda-tanda kecemasan karena dia santai saja langsung datang mendekat ke saya untuk siap dielus-elus sejak pertama kali bertemu. Anjing jenis Staffordshire Bull Terrier, katanya, lembut, suka main, dan tak repot ngurusnya. Begitulah Jazz. Dia amat jarang mengonggong selain malam hari jika mencium ada musang, kucing, atau tupai yang melintas di halaman belakang.

Jazz suka main bola, cuma setelah sekitar lima atau enam kali akan melambat dan kemudian tak tertarik lagi selain duduk di samping saya. Maklumlah dia penderita arthritis dan harus minum obat dua tablet saat sarapan dan tiga tablet saat makan malam. Karena penyakitnya itu juga maka Jazz tak harus dipaksa jalan walau ibu-nya menyarankan agak ditarik sedikit, “Tapi kalau tetap tidak mau, ya sudah.”
Semua anjing yang saya asuh suka jalan. Hanya Jazz, yang satu-satunya tak suka jalan, walau mungkin sebenarnya bukan tidak suka tapi kesakitan jika jalan terlalu jauh karena arthritis-nya. Tapi setiap kali mau jalan, Jazz tak keberatan dipasang tali kendali, seolah-olah dia siap untuk jalan. Kenyataannya kami cuma sampai di simpang jalan karena dia sudah ngambek. Anjing jenis Staffordshire Bull Terrier kuat, dan jika dia berhenti maka saya setengah mati menariknya. Lebih berat lagi adalah dia tahu arah kembali ke rumah adalah berbalik arah dan berjalan sambil menarik saya. Setiap dia memutuskan untuk berhenti jalan dan pulang, sayapun takluk mengikuti menuju ke pintu rumah, yang dia sudah hapal.
Belakangan dia memilih untuk cara yang lebih sederhana: begitu ke luar maka dia berjalan bersemangat ke belakang rumah dari sebelah samping. Sampai di pagar belakang dia langsung berbalik untuk kembali ke pintu depan. Titik. Jarak bolak-balik pintu depan dan pagar belakang itu, paling 10 meteran. Seolah-olah dia menegaskan, “Ok aku sudah jalan. Sekarang kita ke halaman lagi.”
Yang Jazz suka adalah makan, bahkan tergolong rakus. Apa saja disikatnya dengan terburu-buru seolah makan bukanlah kenikmatan tapi perlombaan penting yang harus dimenangkan setiap saat. Untuk mengurangi kecepatan makannya, dia punya mangkuk khusus dengan pagar-pagar sehingga harus makan sedikit demi sedikit walau tetap dengan kecepatan maksimal. Suara makannya pun terdengar amat seru.

Jazz tak boleh menyantap makanan manusia karena perutnya sensitif. Diduga pada masa hidup di jalanan dulu dia dikasih segala macam jenis makanan manusia, entah pedas atau asin maupun manis, sehingga berpengaruh pada kondisi perutnya. Jajanannya hanya yang disiapkan khusus untuk anjing.
Tapi Jazz amat gigih dalam urusan meminta makanan. Setiap kami makan siang, dia akan duduk di dekat kursi saya, mengangkat kaki kanannya untuk mencolek lengan saya. Setelah itu, dia taruh kepalanya menyandar di paha dengan pandangan wajah setengah memelas setengah menuduh, “Anda telah melanggar peraturan kesejahteraan satwa dengan tidak memberi mereka makan.” Setiap makan dia akan melakukan hal serupa namun-dasar anjing yang baik- tidak pernah melompat ke meja untuk merebut makanan. Colekan dan wajahnya itu saja yang jadi andalannya dan bagi orang yang bermental lemah, pastilah Jazz sudah dapat lemparan cemilan makanan manusia.
Saya kirim foto wajah memelas itu, lengkap dengan penafsiran bahwa dia menuduh saya melanggar peraturan. Ibu-nya menjawab dengan tiga meme tawa besar sambil mengucapkan terimakasih karena saya tidak tergoda.
Saya suka berdua-dua dengan Jazz, entah itu di halaman atau jika malam tiba di dekat tempat tidurnya. Dia berbaring malas-malasan dan saya berbaring di sampingnya sambil membaca atau main HP. Sesekali dia mengeluarkan suara pelan ‘momo momo momo’ dan saya balas dengan cerita apa saja karena sepertinya dia minta ngobrol.
Robby
Robby adalah anak angkat langganan. Sudah berulang-ulang dia tinggal di rumah, entah itu dua minggu, tiga hari, atau cuma akhir pekan. Ceritanya ibu dan bapaknya dulu mengandalkan putranya sebagai pengasuh jika mereka pergi ke luar kota. Cuma belakangan putranya itu menikah dan punya bayi. Maka Robby harus dicarikan pengasuh baru. Agen menawarkan saya kepada mereka karena rumah Robby tak jauh dari rumah kami.

Robby cocok sebagai ras Cockapoo -campuran Cocker Spaniel dan Poodle- karena riang dan bersahabat. Sejak peninjauan pertama, dia sudah merasa seperti di rumah sendiri tanpa perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Melompat-lompat di halaman belakang, menerobos tanaman-tanaman terus mencium-cium kaki saya sebelum balik lagi berkelana di halaman. Pokoknya selama ada tempat berlari bebas dan ada teman bermain maka urusan pun beres.
Cilakanya Robby masih relatif muda -menjelang dua tahun- jadi rasanya tidak pernah lelah. Saya suka Robby karena mendorong saya juga olahraga kecil dengan pura-pura bermain ala rugby. Jadi bola saya lempar ke ujung halaman dan dia mengambil dan kemudian saya megejar dia untuk merebut kembali bola. Persis seperti main rugby: dia akan menghindar dengan cepat dari sebelah kiri, misalnya, dan jika saya kejar dia langsung berbalik lagi. Kalau saya sudah menyerah dengan diam tak mengejarnya, barulah bola dilepas dan kembali saya lempar lagi untuk mengulang lagi ‘rugby’ itu.
Cuma, berbeda dengan Jazz yang pada satu titik memiih berhenti untuk santai berdua atau ‘ngobrol’ maka Robby praktis tak bisa berhenti. Kalau saya bilang, “Sudah Robby, saya sudah capai,” dan masuk ke dalam rumah maka dia akan mengikuti untuk menaruh bola di lantai sambil menanti dengan muka memberi instruksi, “Ayo lempar lagi.” Kalau saya diam saja, maka dia angkat kakinya untuk mencolek saya. “Ayolah.” Jika saya tetap diam maka bolanya digigit dan disorong-sorongkon ke lutut saya. Dengan segala cara dia akan mencoba dan awalnya saya menyerah karena berharap tambahan satu kali lempar bola maka dia akan tenang. Tidak karena buat Robby: dia akan ulang lagi ‘tekanannya’ itu.
Saya pun menguatkan diri sampai dia yang akhirnya menyerah untuk main dengan boneka mainannya: menggigit-gigit sambil menggoyang-goyangkan seolah mainan itu mau melepaskan diri jadi dia harus menggigit lebih keras. Cuma jika saya bergerak, entah ke dapur mengambil minum atau ke kamar kecil, dia pun melompat lagi mengambil bola. Kembali bola ditaruh di dekat saya, juga dengan wajah memelas, “Ayolah, main lagi.”
Kalau saya pindah tempat, dia pun ikut dengan bolanya. Perlu beberapa waktu untuk membuat dia yakin lagi, “Baik, memang sudah tidak main.” Aksi dan reaksi itu terus berulang hingga malam menjelang tidur: setiap saya bergerak maka diapun merespon dengan mendekat membawa bola. Ada saatnya bola tenisnya saya sembunyikan ketika sedang dia makan, dan dia tetap merespon setiap gerakan saya dengan bonekanya plus wajah, “Ayo, ini juga bisa dilempar.”

Setelah beberapa kali datang, barulah saya dan Robby bisa duduk-duduk santai berdua di halaman belakang tanpa harus main kerja-kejaran bola. Awalnya saya duduk dan dia masih menawarkan bola, tapi pelan-pelan dia sudah paham jika tiba saatnya bukan untuk main tapi duduk-duduk: saya melihat HP dan dia di sebelah menggigit daun, ranting, rumput, atau boneka mainanannya. Kalau dia bosan, dia menjelajah ke balik-balik tanaman sambil terus mengawasi saya. Jika saya berdiri dan masuk ke dalam rumah, diapun melompat mengikuti saya setelah mengambil bola, berharap telah tiba kembali waktunya bermain.
Sekali waktu kami tak bisa mengasuh Robby karena kesibukan yang lain. Ketika datang lagi, ibunya -sambil serah terima tempat tidur, tempat makan, minum, selimut, dan segala tetek bengeknya- mengeluh tentang pengasuh yang lain, “Dia tak pernah ngobrol sama Robby.” Wajahnya serius ketika menyampaikan keluhan itu. Saya cuma tersenyum, sambil berkomentar dalam hati, “Wah apa Robby bercerita kepada ibunya tentang kelakuan para pengasuhnya?”
Star, Thanos, Nancy, Max, Magpie
Tidak semua anjing tinggal di tempat kami dalam waktu panjang. Ada yang cuma beberapa hari saja dan ada yang bahkan cuma dua hari di akhir pekan karena pemiliknya biasanya membawa mereka liburan ke manapun. Cuma kadang ada hal-hal yang tidak memungkinkan untuk membawa anjing, seperti pesta perkawinan di luar kota atau nonton konser musik. Maka dikirimlah mereka ke rumah kami.

Star, jenis Golden Retriever, dipindahkan ke rumah kami selama seminggu karena rumahnya sedang direnovasi. Dia menjadi anak tunggal dari pasangan muda profesional, yang memanjakannya. Jadilah Star sebagai anak lasak yang tak berhenti main! Persis seperti Robby. Praktis dia baru berhenti main jika hari sudah gelap dan pintu ke halaman belakang ditutup. Barulah dia berbaring di tempat tidurnya sambil matanya tetap awas melihat kami karena -ya persis seperti Robby- setiap gerakan akan membuat dia berdiri dan mengikuti kami, entah itu ke kamar mandi atau ke dapur.
Membawa jalan Star tergolong gampang karena dia berteman dengan anjing maupun orang yang ditemui di jalan namun juga menurut jika ditarik untuk meneruskan rute jalannya. Bukan seperti Robby yang kadang masih ngotot berharap orang atau anjing lain mau main dengan dia sehingga tak selalu mudah untuk kembali melanjutkan perjalanan. Star mencerminkan karakter Golden Retriever sebagai anjing cerdas dan bersahabat.
Thanos tergolong anak kecil yang bandal. Semua barang kalau bisa diambilnya untuk main, entah itu sandal, sepatu, pot bunga, botol plastik, atau apa saja yang bisa digigit. Kalau berhasil mengambil sesuatu maka dia lari ke halaman belakang, berharap kami mengejarnya. Kalau dicuekin maka dia akan mendekat sambil memperlihatkan sandal atau sepatu yang diambil sambil berkata, “Aku mengambil sandalmu. Ayo kejar aku.” Tapi jangan coba kejar karena Thanos adalah French Bulldog yang berlari amat cepat dan gesit memutar arah larinya. Jadi tabah saja tak memperdulikan dia karena sebenarnya sepatu atau sandal itu tidak dirusak selain dijadikan mainan, sementara boneka mainannya tak terlalu diperdulikan.

Mungkin karena masih suka mengigigit sana sini, maka pada malam hari Thanos harus tidur di dalam kandang kecilnya. Dia tidak bisa ditinggal sendirian untuk menejelajah rumah sesukanya, seperti ditegaskan ibunya ketika mengantar dia. Tak enak melihat dia dikurung di kandang tapi saya juga tidak boleh membuat ibunya kelak kesusahan memasukkan dia ke kandang.
Sekali waktu dia berhasil mengambil sandal rumah dari tempat yang sudah ditutupi. Saya ambil tongkat dan saya angkat ke atas dengan suara kuat, “Thanos. Lepas sandal itu!” Dia tahu saya marah jadi dilepasnya sandal itu dan masuk ke kandang kecilnya untuk duduk tertib di sana. Beberapa menit kemudian, dia ke luar dan perlahan-lahan mendekat ke kaki saya menawarkan rekonsiliasi tapi saya masih pura-pura marah dan dia kembali lagi ke kandangnya.
Beberapa menit dia datang lagi, menawarkan rekonsiliasi kedua. Wajahnya membuat saya luluh dan diapun langsung melompat-lompat lagi, minta disayang-sayang. Seru juga rasanya melihat anjing punya indra untuk berkomunikasi dengan manusia dan punya kemampuan mencerna emosi manusia.
Nancy cuma tinggal dua malam karena ibunya nonton konser musik punk di Manchester. Saya mendapat kesan ibu-nya seorang perempuan single dan memanjakan Nancy. Sayapun repot memastikan dia tidak naik untuk duduk di sofa. Begitu ada kesempatan, dia akan melompat duduk santai di sofa, bukan di tempat tidur kecilnya dan tak mudah untuk menurunkannya karena di rumahnya dibolehkan duduk di sofa. Tapi selain itu dia anjing yang manis, main bola kecil seadanya, makan dengan tertib, dan bisa duduk tenang di tempat tidurnya, jika tidak diberi kesempatan sama sekali loncat ke sofa.

Saya sempat tergoda untuk membiarkan dia duduk di sofa di samping saya sambil nonton TV dengan memberi lapisan kain melindungi sofa, tapi istri saya melarang, “Satu saja boleh duduk di sofa, nanti semuanya kau bolehkan duduk di sofa.” Jadi menjelang tidur, kamipun harus membalikkan sofa ke arah dinding biar Nancy tidak melompat. Sedang di dua kursi lain ditaruh meja kecil untuk mencegah Nancy.
Max datang ketika putra kami masih tinggal di rumah. Putra saya itu lebih suka anjing dan sepertinya anjing bisa merasakan. Maka Max lebih sering main di dalam kamar putra saya kecuali ketika jam kerja pada masa orang-orang kerja dari rumah, WFH. Max juga sepertinya dimanja dan bisa naik tempat tidur atau sofa sesukanya, termasuk ke tempat tidur. Kami melarang semua anjing naik ke sofa, apalagi tempat tidur.

Suatu petang saya tiba-tiba tak melihat Max di ruang duduk maupun di halaman belakang. Saya panggil-panggil dia tak datang tapi putra saya yang menjawab dari dalam kamar, “Di sini.” Masuklah saya ke dalam kamar dan melihat dia duduk dengan tenang tak bergerak di atas tempat tidur sambil memandang saya seolah-olah mengatakan, “Ya, ada masalah apa?” Saya mau meminta dia turun, tapi putra saya meminta, “ Biarkan saja Pak.”

Sejak saat itu, jika sedang tidak makan, tidak jalan, dan tidak main di halaman, dia akan datang ke kamar putra saya. Pada jam kerja siang hari, dia berbaring di depan pintu yang tertutup, sabar menanti karena yakin kelak pintu akan terbuka dan dia boleh masuk untuk naik ke tempat tidur. Penantian itu kadang sampai beberapa jam namun dilakoninya dengan sabar.
Magpie atau Maggie merupakan ras Lurcher atau campuran anjing balapan Greyhound dengan ras lain. Dia juga merupakan anjing yang diselamatkan dari jalanan dan sepertinya masih punya banyak trauma sehingga amat berhati-hati. Ketika pertama kali datang, dia tak mau saya sentuh walau bapak pemiliknya berupaya dengan memegang tangan saya dan menciumkan ke hidungnya. Namun begitu saya mendekat, dia langsung lari lagi berkeling halaman belakang. Bagaimanapun bapaknya tetap yakin bisa meninggalkan dia dengan kami selama seminggu.

Memang tak mudah baginya untuk menerima lingkungan baru dan orang-orang baru. Biasanya anak-anak angkat berkaki empat yang datang itu cuma butuh sehari semalam untuk mulai betah dan terbiasa. Magpie tidak. Ekornya lebih sering dalam keadaan turun ke bawah, yang katanya menggambarkan anjing yang ketakutan atau tidak nyaman dengan keadaan sekitarnya. Sampai hari ketiga baru dia mulai bisa didekati untuk dielus-elus setelah sebelumnya dia langsung menjauh jika didekati. Di ruang duduk yang kecil sekalipun, dia akan bergerak untuk menjauh dan saya tak mau memaksa jadi membiarkan dia tenang dan kembali ke tempat tidurnya untuk berbaring sambil mengamati awas ke arah saya atau istri yang duduk di sofa.
Bahkan pada hari keempat dia sudah melompat menyapa ‘Selamat Pagi’ dengan ekor terangkat yang digoyang-goyang bebas jika melihat kami turun dari kamar atas. Pelan-pelan pula dia mau dileus-elus dan sebelum dia dijemput ada saat-saat ketika kami bisa berbaring berdua malas-malasan di halaman belakang maupun di tempat tidurnya. Tapi yang paling menyenangkan buat saya adalah ketika saya, istri, dan Magpie jalan-jalan ke taman umum dekat rumah dan ada saatnya saya harus berpisah sebentar. Ketika saya kembali ke taman, dia melihat dari jauh dan menarik tali untuk segera mendekati saya dengan ekor yang digoyang-goyangkan riang dan membiarkan dielus-elus sebelum kami bertiga jalan lagi. Ketika bapaknya menjemput, dia tampak senang namun sebelum masuk ke dalam mobil dia berbalik arah sebentar dan saya pun mendekat untuk mengelus-ngelusnya kepalanya.
***