
Judul: Toba Tek Singh & Cerita-cerita lainnya
Penulis : Saadat Hasan Manto
Penerjemah: Lutfi Mardiansyah
Penerbit : Trubadur
Cetakan : Pertama, 2021
“Aku akui aku menulis “Thanda Ghost”. Tapi dari sisi mana pun, itu bukan cabul. Anda bisa putuskan jika Anda suka ceritaku atau tidak. Kritikus literatur bisa mendebatkan itu sesuai standar mereka atau tidak. Tapi yang jelas, ceritaku adalah literatur. Dan literatur, tak pernah cabul.”
Begitulah pleidoi Saadat Hasan Manto, salah satu cerpenis modern India, di sebuah pengadilan saat didakwa berbuat cabul karena menulis cerpen berjudul “Thanda Ghost” yang dalam buku ini diterjemahkan menjadi “Daging Dingin”. Adegan ‘memilukan’ tersebut bisa kita saksikan dalam film biopik, Manto (2018).
Itu bukanlah sidang pertama yang pernah dan mesti Manto hadiri. Enam kali ia harus mengajukan pembelaan atas dakwaan berbuat cabul karena menulis cerpen. Yang membedakan hanyalah, tiga dakwaan sebelumnya ia terima atas dasar hukum kolonial-Eropa. Sedang tiga lagi sekaligus dakwaan yang terakhir, ia terima atas dasar hukum negara barunya, Pakistan.
Dalam sejarah sastra dunia, bahkan jauh sebelum Manto, telah banyak pengarang di belahan dunia yang mendapat dakwaan serupa; Gustave Flaubert, James Joyce, hingga Marquis de Sade—untuk menyebut beberapa nama. Bahkan untuk nama yang terakhir, telah menjadi tragedi yang sulit dilupakan mengingat sepanjang hidupnya, Sade bahkan tidak sempat melihat karya-karyanya diterbitkan.
Telah menjadi rahasia umum, di dunia yang jembar dan teramat kompleks ini seksualitas masih kerap jadi isu yang sensitif untuk diperbincangkan. Sulit kita tampik bahwa dalam masyarakat, perbincangan mengenai seksualitas melulu dianggap tabu dan tak jarang mengundang kontroversi. Jangankan untuk memperbincangkannya di ranah publik, pada ranah privat (keluarga, misalnya) masih sering dipermasalahkan.
Tetapi menurut Manto, persoalan tersebut semestinya diperbincangkan di ranah publik—dalam konteks ini masyarakat India. Maka dari itu ia tak segan menulis kisah-kisah bermuatan cabul, khususnya kisah-kisah tentang dunia pelacuran yang di-tabu-kan. Menukil kredo yang ia sampaikan pada salah satu persidangan, bahwa sejatinya “Penulis menulis dengan jujur, mengungkap pelbagai kebenaran persoalan yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan tentang apa pun yang menjadi bagian dari masyarakat… Lantas, apa yang salah dengan menulis para pelacur (yang juga bagian dari tradisi dan/atau pada titik tertentu, kebudayaan dalam masyarakat kita)?”
Dalam ‘Toba Tek Singh & Cerita-cerita lainnya’, terdapat dua tajuk yang merangkum cerpen Manto: “Partisi” dan “Seks/Seksualitas”. Menurut Mahfud Ikhwan dalam kata pengantar, tampaknya pihak penerbit memerlukan “Seks/Seksualitas” dalam antologi ini untuk mewadahi cerpen-cerpen bermuatan cabul Manto, mengingat kedekatannya dengan para pelacur dan dunia tentang mereka; dunia perempuan-perempuan yang terpinggirkan. Sedang tajuk “Partisi” menjadi wadah cerpen-cerpen yang berangkat dari realitas kericuhan-kekerasan sektarian pada masa pemisahan Hindustan-Pakistan rentang 1940-an di India.
Tetapi usai rampung membaca antologi ini, saya kira pemisahan kedua tajuk tersebut tidak terlalu diperlukan. Sebab dalam cerpen-cerpen yang berada di bawah tajuk “Partisi” pun, tak sedikit menyinggung seks/seksualitas. Misal, pada cerpen “Buka!”, yang berkisah tentang sosok ayah yang kehilangan putri tunggalnya di tengah porak-porandanya salah satu kota perbatasan Hindustan-Pakistan, Amritsar, pada masa huru-hara ketika masyarakat muslim India menuntut pemisahan wilayah untuk kemudian mendirikan negara Islam yang saat ini kita kenal dengan Pakistan.
Dikisahkan Sirajuddin, nama sang ayah, berhari-hari berkeliling mengitari lingkungan sekitar seraya terus-menerus menyerukan nama anaknya, “Sakina, Sakina!” (halaman 16). Hampir pasrah karena tak kunjung menemukan putrinya, Sirajuddin mendapat secercah harap ketika ia bertemu dengan sekelompok relawan muda yang menaiki truk lori untuk mengevakuasi korban kericuhan. Para pemuda itu, sambil menenteng laras senapan, dengan gagah menjanjikan pada Sirajuddin bahwa mereka akan menemukan Sakina.
Dan memang benar adanya. Para relawan muda berhasil menemukan Sakina seturut ciri-ciri yang diinformasikan Sirajuddin: “Dia berkulit terang dan sangat cantik; dialah yang merawat ibunya, bukan aku. Umurnya sekitar tujuh belas tahun. Matanya besar, rambutnya hitam, ada tahi lalat besar di pipi kanannya.” (halaman 17)
Tetapi ironisnya, alih-alih membawa Sakina pada ayahnya seperti yang telah mereka janjikan, mereka justru memerkosa Sakina dan meninggalkannya terbaring lunglai di sebuah pondokan pengungsian sekaligus rumah sakit darurat—dengan segala keterbatasannya.
“Suatu hari Sirajuddin melihat para relawan muda itu di penampungan. Mereka sedang duduk-duduk di atas lori. Sirajuddin berlari menghampiri mereka. Truk lori itu hendak berangkat sewaktu Sirajuddin bertanya, ‘Nak, apa kalian telah mendapat kabar tentang Sakinaku?’ Mereka semua berkata dalam satu suara, ‘Kami akan menemukannya, kami akan menemukannya’… Menjelang sore, ada keributan di penampungan di dekat tempat Sirajuddin duduk. Empat orang lelaki menggotong sesuatu ke penampungan itu. Sirajuddin mencari tahu dan mendapati bahwa seorang gadis (Sakina) ditemukan tak sadarkan diri di dekat rel kereta.” (Halaman 17-18)
_________________________________________________________________________________________
Saadat Hasan Manto

Soal-soal kekerasan sektarian hingga ke-tabu-an seksualitas yang membuat Saadat Hasan Manto -seorang pria kelahiran Samrala, India, tahun 1912- menghasilkan 22 kumpulan cerpen, satu novel, tiga seri drama-radio, tiga kumpulan esai serta dua kumpulan sketsa personal. Semuanya ia tulis dalam bahasa Urdu, bahasa nasional Pakistan, yang memproklamirkan kemerdekaan dari India tahun 1947.
Dan sepanjang hidupnya, Manto mempertanyakan sekaligus menentang keberadaan “yang liyan” atau yang lain (other) dalam tubuh masyarakat India, entah itu berupa institusi pemerintah-keagamaan atau bahkan Tuhan sekalipun yang, melalui pelbagai dogma kerap menggiring sebagian besar masyarakat awam pada mispersepsi perihal wacana keberagamaan yang baik dan benar sekaligus juga mengingkari keragaman afiliasi identitas tiap-tiap manusia, khususnya identitas seksualitas.
Tulisan-tulisan Manto, seolah hadir untuk menggugat hal tersebut; melalui cerpen-cerpen realisme (konvensional) yang dibangun dengan narasi-narasi memikat dan ditulis dengan kalimat-kalimat subtil yang, secara tidak langsung menjauhkannya dari kekenesan untuk menggambarkan ironi secara berlebihan pula mengada-ada sehingga menjadikannya lebih dari sekadar cerpen-cerpen “cabul”. Dan sebagian cerpen itu terhimpun dalam kumpulan Toba Tek Singh ini.
Dengan begitu, tak berlebihan, paling tidak bagi saya, ketika seorang Anita Desai menulis “Ironi serta kemanusiaan Manto telah melejitkannya pada tingkat yang setara dengan Gogol,” sebagai endorsemen dalam salah satu terbitan buku Manto—yang juga terpacak di bagian belakang sampul buku terjemahan ini. Sebab seperti pengarang masyhur lainnya, Manto berhasil menyuarakan suatu nilai universal melalui karyanya—sekalipun karya tersebut berangkat dari hal-hal yang amat lokal, umpama seperti yang terkandung dalam kisah-kisah yang dialami para penghuni rumah asil di Lahore, India, dalam cerpen yang sekaligus menjadi judul buku ini, Toba Tek Singh.
Walau tak pernah dinyatakan terbukti bersalah dalam enam dalwaan ‘kecabulan’, pengadilan memberikan peringatan Manto bisa masuk penjara jika tidak menghentikan tulisan-tulisan yang dianggap provokatif. Peringatan pengadilan itu menyebabkan Manto terperangkap depresi dan kecanduan alkohol, yang pelan-pelan merusak hati. Upaya memulihkannya lewat klinik rehabilitasi alkohol gagal dan dia kembali terperagkap siklus kecanduan alkohol hingga meninggal pada 18 Januari 1955 di Lahore.
Tahun 1954, dia sudah menyiapkan tulisan batu nisannya: “Di sini berbaring Saadat Hasan Manto. Bersamanya terkubur semua seni dan misteri penulisan cerita pendek. Di bawah berton-ton tanah, dia berbaring tertanya-tanya siapa penulis cerita pendek yang lebih hebat: Tuhan atau dia.”
Namun keluarganya malah mengutip seorang penyair India, MIrza Ghalib, hingga yang tertulis di batu nisannya adalah, “Di sini dimakamkan Saadat Hasan Manto, yang masih percaya namanya tidak pernah dimaksudkan untuk diulang di loh waktu.” Agaknya bukan hanya keberadaan ‘yang liyan’ saja yang dihadapinya, juga dirinya sendiri hingga ke akhir hayatnya.***
_________________________________________________________________________________________
Jika “Buka!” mengangkat kekerasan seksual pada masa kerusuhan politik/militer, maka “Daging Dingin” secara eksplisit menggambarkan adegan seks sepasang Sikh, Eshar Singh dengan Kalwant Kaur di tengah perbincangan keduanya terkait situasi serba tak pasti saat perpecahan Pakistan-India.
“Eshar Singh melepas serbannya dan menatap wanita itu, matanya memohon pengertian serta pelipuran. Ia menampar pantat Kalwant Kaur yang semok dan gempal,” Juga, “Tiba-tiba ia mulai meremas pantat padat Kalwant Kaur dengan penuh gairah, ‘Aku bersumpah atas nama Wahe Guru, kau wanita yang mengagumkan!” (halaman 22)
Tetapi ketika persetubuhan keduanya berlangsung, perlahan tapi pasti konflik yang tak terduga dan begitu unik—jika tak ingin menyebutnya absurd—mulai terpercik. Kalwant Kaur yang curiga dengan gelagat Eshar Singh mulai mengajukan serentetan pertanyaan interogatif. Salah satunya dan yang terus dipertanyakan Kalwant Kaur ialah; apa yang telah dilakukan Eshar di tengah kericuhan di kota saat tak bersama dirinya? Tapi Eshar terus bungkam.
Namun bagaimanapun Eshar menutupinya, pada akhirnya Kalwant tetap memiliki caranya tersendiri untuk membuka kartu truf Eshar: ada perempuan lain yang jauh lebih disukainya ketimbang Kalwant. Sekalipun demikian Eshar masih tetap bungkam. Bahkan saat Kalwant mulai menggorok leher Eshar demi memaksanya berbicara tentang perempuan itu, Eshar masih berusaha bungkam.
Hingga di penghujung kisah, karena tak kuasa membendung hasratnya untuk memohon ampun pada Kalwant, pada napas-napas penghabisan Eshar mengungkapkan bahwa sebelum bercinta dengan Kalwant dia telah meniduri mayat seorang gadis muslim.
“Eshar Singh berusaha membuka matanya dan menatap Kalwant Kaur, seluruh tubuhnya gemetar. ‘Dia sudah mati… sebuah mayat… sepotong daging dingin… Beri aku tanganmu, Sayang…” (hal. 25)
Dan tersebab gambaran adegan seks yang jujur dan, paling tidak bagi saya, cukup mengerikan dalam cerpen inilah Manto untuk kali kelima dibawa ke persidangan. Total sepanjang hidupnya dia didakwa enam kali namun tak satupun yang berakhir dengan vonis bersalah.
Adapun cerpen-cerpen Manto di bawah tajuk “Seks/Seksualitas”, memang mengeksplorasi seksualitas. Seperti bisa kita baca pada “Bau” yang berkisah tentang seorang pria muda bernama Randheer dengan fetishseksualnya terhadap gadis-gadis Kristen dan bau keringat seorang gadis pelacur miskin atau gadis ghatan yang dapat membangkitkan gairah dan selalu ia kenang kendati ia telah menikah dengan gadis lain.
“Dalam satu upaya terakhir, Randheer membelai tubuh si gadis yang seputih susu itu, tapi ia tidak merasakan adanya getaran. Pengantin barunya itu… telah gagal membangkitkan gairah suaminya. Lantaran aroma henna telah lenyap, dengan putus asa Randheer berupaya mendapatkan kembali bau si gadis ghatan yang tak terbilas air bersih dan yang meluapi indranya…” (halaman 50)
Lalu, ada pula cerpen “Namaku Radha” yang mengambil latar industri film yang kental dengan nuansa citraan yang secara implisit mengajak kita untuk memperbincangkan kembali ihwal aktivitas seksual sado-masokis dalam kelindan kisah di dalamnya. Hal ini bisa kita telisik melalui narator “Aku”, yang adalah Manto sendiri, yang mencoba membuka diskursus melalui dialog yang terjalin antara dirinya dengan tokoh perempuan yang berperan sebagai aktris, Radha.
“Kemudian tiba-tiba ia berbalik ke arahku dan bertanya, ‘Sadiq, bagaimana menurutmu, wanita seperti apa aku ini’? Aku tersenyum dan menjawab, ‘Aku tak pernah mengerti soal kucing maupun wanita. Dulu ada seekor kucing yang tinggal di rumah kami. Setahun sekali kucing ini dicekam oleh rengekan yang mengerikan dan kemudian seekor kucing jantan tiba-tiba muncul entah dari mana dan keduanya melakukan itu dengan keganasan melebihi apa pun yang pernah kau lihat, membuat keduanya memar-memar, babak belur dan berdarah-darah. Tapi segera setelah itu, kucing milik bibi kami itu akan menjadi ibu dari empat ekor anak kucing.” (halaman 118)
Membicarakan fetishseksual, bagaimanapun adalah hal yang cukup sensitif dan terbilang pelik—saya percaya Manto dan Radha dalam cerpen tersebut pun mengamini ini. Manto, dalam dialog di atas, alih-alih membahas aktivitas seksual sado-masokis justru dengan membuat perumpamaan tentang sepasang kucing yang melakukan hubungan seksual dengan keganasan melebihi apa pun, sebagai perbandingan aktivitas seksual sado-masokis yang dilakukan sejoli manusia.
Pada akhirnya, mengingat persoalan-persoalan masyarakat India yang diangkat oleh Manto sejatinya tak berbeda jauh dan masih terasa relevan dengan persoalan masyarakat Indonesia di masa kiwari—sebuah masyarakat yang konon menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam beragama dan mengamini segala bentuk keragaman afiliasi identitas manusia. Maka sebesit pertanyaan muncul di benak saya usai menandaskan buku ini: mengapa karya Saadat Hasan Manto baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia di tahun ini?
Dan tanpa pretensi, agaknya patut kita berikan apresiasi lebih terhadap upaya Penerbit Trubadur dan penerjemah buku ini, Lutfi Mardiansyah, menghadirkan “Manto” di Indonesia.
***
Mohammad Lutfi Maula, Lahir di Jakarta. Saat ini sedang menyelesaikan studi S1 di jurusan Filsafat UIN SMH Banten. Beberapa tulisannya dimuat di media cetak dan daring seperti Jawa Pos, Koran Jakarta, Kedaulatan Rakyat, Detik.com, Mojok.co, dll.