
Judul: Mutiara Di Padang Ilalang, Cerita Seorang Penyintas
Penulis: Tedjabayu
Penerbit: Komunitas Bambu 2020
Belasan tahun lalu, saya pernah membaca buku ‘Tragedi manusia dan kemanusiaan, kasus Indonesia sebuah holokaus yang diterima sesudah Perang Dunia Kedua’ yang ditulis MR Siregar, salah seorang korban kejamnya kebijakan politik G30S/PKI versi Soeharto. Hanya beberapa halaman saja yang terbaca dari total hampir 600 halaman karena soalnya sendiri rumit dan penulisannya, menurut saya, kurang bagus. Rasanya, waktu itu, agak melelahkan untuk membacanya, baik karena gaya bertutur, isi berita/cerita, dan juga bahasa Indonesia-nya.
Buku itu dipinjamkan Carmel Budiarjo, pendiri Tapol -sebuah yayasan sosial di London yang membantu para korban kebijakan politik Soeharto era 1965. Tapol yang menerbitkan buku itu pertama kali dan hanya puluhan eksemplar saja. Belakangan catatan MR Siregar itu dicetak ulang oleh Progres dan Resist Book, yang bisa dibeli di Sophee maupun Tokopedia. Saya tidak tahu bagaimana penerimaan khalayak pembaca masa kini, namun mengenang buku itu lebih cocok untuk para peneliti sejarah, bukan kelompok pembaca umum seperti saya.
Sudah banyak buku yang mencatat perjalanan kehidupan yang sulit akibat kebijakan politik Soeharto atas Partai Komunis Indonesia, PKI. Penulis terkenal dan mantan wartawan, Martin Aleida, juga menulis pengalamannya terkena cap PKI di jaman Soeharto, berjudul ‘Romantisme Tahun Kekerasan’. Saya juga tidak membacanya hingga tuntas walau ditulis dengan gaya yang lugas, menarik, dan mengalir. Terus terang, rasanya, seperti sudah pernah membaca/mendengar cerita serupa -entah lewat media, para pegiat hak asasi manusia, maupun kisah langsung para korban, ketika saya masih menjadi jurnalis.
Mendiang amangboru* saya, salah satunya, juga dipenjara di Medan sampai belasan tahun karena pernah jadi anggota PKI. Dia hanya sesekali bercerita tentang pengalamannya di penjara karena tak suka mengingat-ingatnya. Namun sejak masih SD, saya menyaksikan sendiri susahnya kehidupan keluarganya yang hanya ditopang oleh istrinya, yang kerja serabutan di pasar. Keluar dari penjara, amangboru itu sempat tidak bisa dapat kerja dan anak sulungnya terhambat jadi pegawai negeri, walau di tingkat rendahan sekalipun.
Jadi kisah-kisah sulit dan sedih dari para korban kebijakan politik Soeharto sepertinya berlalu-lalang di sekitar, tanpa bentuk yang jelas dengan fokus yang tegas. Bahkan film istimewa ‘You and I’ arahan Fanny Chotimah yang mendokumentasikan kehidupan dua mantan tahanan politik G30S/PKI -Kusdalini dan Kaminah- rasanya tak membawa sebuah pemahaman baru tentang satu babak politik tergelap di Indonesia. Penuturan hidup Kusdalini dan Kaminah jelas memukau, namun seperti mengulang kisah-kisah yang sudah bertebaran sejak tahun 1965 lalu.
Atau film ‘The Act of Killing’-nya Joshua Oppenheimer yang dramatis sekalipun rasanya hanya melempar kilasan-kilasan dengan sudut pandang salah seorang pelaku kejahatan hak asasi manusia. Bahwa tak semua penindas orang-orang PKI adalah aparat yang jahat dan kejam namun mereka sekedar menyesuaikan diri dengan situasi sosial politik pada saat itu. Memang ‘The Act of Killing’ berhasil menyentak benak banyak orang, namun tetap saja tidak menawarkan kisah baru selain seperti yang sudah terdengar berulang-ulang.
Sampai akhirnya saya diberi seorang teman lama masa Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Imran Hasibuan buku Mutiara Di Padang Ilalang yang ditulis Tedjabayu. Ternyata masih ada satu pintu yang selama ini belum terbuka, sebuah pintu untuk masuk menohok ke dunia yang sebelumnya berlintasan di permukaan saja tanpa substansi. Maka dua hari saya terpikat oleh cerita sepanjang sekitar 400 halaman dan masih saja ada hasrat untuk mendengar/membaca lebih banyak lagi dari Tedjabayu walau sudah tak memungkinkan. Tedjabayu wafat Kamis, 25 Februari 2021 pada usia 78 tahun atau 42 tahun setelah dibebaskan dari penjara.

Hidup Yang Dilakoni
Sekitar tahun 1995, saya berkenalan dengan Tedjabayu atau Mas Tedjo, begitulah dia dirujuk ketika pertama kali mengenalnya. Waktu itu Institut Studi Arus Informasi baru mau siap-siap berdiri dan ingin membangun jaringan informasi yang bebas dari tekanan Orde Baru Soeharto. Gagasan ISAI adalah di tiap provinsi ada sekelompok orang yang berani meneruskan informasi mandiri ke Jakarta dan sekaligus menyebar informasi mandiri dari Jakarta ke daerahnya. Tedjabayu semacam ahli komputer yang merancang jaringan teknis pusat-pusat informasi itu.
Kami beberapa kali rapat di bawah koordinasi Goenawan Mohammad, tapi keikutsertaan saya terhenti karena pindah bekerja ke BBC Indonesia di London. Tahun 1996 saya ditugaskan di Jakarta selama enam bulan dan kembalilah saya berkontak dengan kawan-kawan pelopor ISAI di Jalan Utan Kayu, termasuk Mas Tedjabayu. Pelan-pelan saya mendengar bahwa dia adalah mantan tahanan politik PKI dan putra salah seorang pelukis penting Indonesia, Soedjojono.
Dia orang baik, ramah, halus, dan bersahaja. Sama seperti amangboru saya di Medan, tak terlihat sisa-sisa kemarahannya karena ditindas dan dipenjara selama bertahun-tahun. Seingat saya, jika sedang menjelaskan maupun bertanya, dia akan sampai ke ditail, jadi bukan sekedar memenuhi unsur-unsur penjalasan dan pertanyaan semata. Walau serius, tapi dia juga riang. Kami jelas bukan kawan dekat tapi saya yakin setiap orang yang beberapa kali berhubungan dengan dia pastilah akan mengenangnya dengan baik.
Dan lewat Mutiara Di Padang Ilalang, saya bukan hanya mengenang kebaikannya tapi juga kagum dengan sikap serta pandangan hidupnya. Tedjabayu, menurut saya, seharusnya menjadi salah satu panutan dalam menjalani kehidupan, yang bukan saja dijalani apa adanya tapi juga dipelajari dan sekaligus pula disyukuri. Tedjabayu, saya kira, adalah santo atau orang suci dalam kehidupan modern yang memberi inspirasi untuk mensyukuri hidup seperti apapun- jadi bukan sekedar tercatat dalam kitab-kitab keagamaan masa lalu. Dia adalah Mutiara Di Padang Ilalang.
Langsung 14 tahun
Tedjabayu dan teman-temannya ditangkap tentara Angkatan Darat Republik Indonesia pada 20 Oktober 1965 di gedung kesenian Chung Hwa Tjung Hwi, Yogyakarta. Anak-anak muda itu (Tedjabayu menjelang 21 tahun) adalah anggota organisasi mahasiswa CGMI yang sudah ditetapkan oleh rezim Soeharto sebagai onderbouw PKI. Saat itu semboyan ‘ganyang PKI’ sudah bergelora, bukan saja menjadi alasan untuk menangkapi orang juga membunuhi orang.
Truk memasuki penjara Wirogunan sementara kami berdendang riang “Paling-paling akhir Desember!”… Bahkan kami bermimpi akan keluar sebagai pahlawan-pahlawan yang baru pulag dari medan perang, Pasti kami akan disambut dengan kalungan bunga oleh kawan-kawan Gerakan Wanitan Indonesia (Gerwani) dan gadis-gadis CGMI-PR! Goblok dan naif benar kami! Tahunya, empat belas tahun! (hal 10)
Tedjabayu mengenang kembali penindasannya dengan ringan dan kadang secara jenaka. Sempat saya kira bahwa itu hanya permulaan, sebagai bagian dari tehnik bercerita yang pelan-pelan bergerak menjadi drama emosional yang mencekam. Ternyata tidak. Tedjabayu secara konsisten bercerita dengan semangat kehidupan yang bergelora, bukan dengan cuma memekikkan kemarahan atas ketidakberdayaan. Bahkan ketika makanan mereka mengandung pecahan kaca!

Belum lagi kalau sedang sial. Sayur hari itu tercampur pecahan gelas yang membuat kami harus ekstra hati-hati kalau tidak ingin lidah akan terluka. Repot juga. Kalau tidak dimakan, kami akan kelaparan… (hal 36)
Seperti banyak orang bilang, manusia juga mensiasati tekanan dan kekejaman dengan berseloroh, seperti yang dilakukan oleh para penulis terkenal jaman Uni Soviet dulu, Anton Chekov, misalnya. Tragedi manusia tak harus selalu ditangisi atau ditanggapi dengan sinisme atau sarkasme, juga lewat lelucon yang membesarkan hati untuk menjalani kekejaman atau kerja paksa yang masih akan berulang.
“Aku kena kampak je, Juk, hehehe!” Juwito dan Naryo bergegas menghentikan kerjanya dan lari-lari mendekat. Ia melihat dalamnya luka sambil mengumpat layaknya anak Jawa Timur, “Diancuk kon, Bung Tedja! Luka parah begitu kok bergumam saja. Meringis kesakitan, kek! Woo, asar Jawa Kowek!” Setengah tertawa, Juwito tergopog-gopoh merebut saputangan Naryo dan memberikannya kepadaku… (hal 165)
Berdasarkan cerita-cerita Tedjabayu yang tidak berpretensi sebagai pahlawan maupun korban tak berdaya, orang lantas bisa saja menyimpulkan bahwa hidup di mana saja pada akhirnya sama saja. Toh hidup akan selalu naik turun: ada riang, sedih, kecewa, marah, putus asa, bersemangat, dan segala macam spektrum rasa yang dimiliki manusia. Tapi ada hal-hal ekstrim yang umumnya tidak akan dialami oleh orang-orang yang hidup bebas di luar penjara atau rumah tahanan Wirogunan, Nusakambangan, Ambarawa, dan Pulau Buru.
Gatot dan temam-temannya dari beberapa unit meninggal diberondong tembakan di Jiku Kecil. Korban lain yang juga kukenal baik adalah tetanggaku, Mas Mustadji, dokter hewan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan UGM, anggota geng URECA dan demobilisasi pelajar (TRIP). Ia terpaksa bunuh diri karena ia tidak kuat menerima siksaan selama delapan hari berturut-turut… (hal 184)
Dan rentetan kematian -entah akibat kekejaman para ‘aparat Orde Baru’ atau penyakit maupun kelaparan- sampai membuat orang-orang yang selamat kehilangan kesedihan dan perasaan. Orang-orang yang tidak atau belum mati sudah tidak sanggup untuk berdiri memberi penghormatan selamat jalan. Kematian, seperti hakekat dasarnya, terbukti menjadi amat akrab dengan hidup keseharian.
Kami jadi terbiasa dengan kematian karena kawan-kawan di sebelah kiriku, atasku dan bawahku semuanya sudah meninggal. Biasanya Bung Oey Ting Han di sebelahku akan mendekati mukanya untuk membau nafasnya. Dia sangat hafal bau nafas seseorang yang akan dan sudah meninggal. Lebih-lebih kalau pada siang hari kami melihat banyak lalat merubungi wajahnya… (hal 60)
Mungkin pula rentetan kematian di sekitar membuat Tedjabayu dan teman-temannya yang tersisa menjadi lebih bersiasat untuk bertahan hidup, dengan segala cara. Pilihannya menjadi amat jelas: mau hidup -sesengsara apapun- atau menyerah mati.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai kamerwark (petugas kamar) ia kembali ke hutan. Ari-ari dia potong kecil-kecil dan direbus sampai matang. Ia membawa pulang lauk tambahan itu dan memakannya bersama beberapa kawan. Mereka terheran-heran kok tumben ada daging ekstra… (hal 58)… Dengan memegangi ujung ekornya, kami nekad menelannya hidup-hidup. Ternyata celurut itu tidak meronta-ronta dalam tenggorokan dan perut. Rupanya tikus kecil itu langsung mati kena asam di dalam perut. Setelah melakukan perbuatan barbar itu aku tidak merasakan perubahan apa-apa…(hal 81).
Catatan-catatan Tedjabayu yang rinci dengan niat berbagi pengalaman sebagai korban permainan kotor politik Orde Baru membuat Mutiara Di Padang Ilalang menjadi cerita yang memikat dan sekaligus pula mencekam. Penggunaan kata-kata sifat yang relatif jarang untuk sebuah pengalaman hidup yang amat memukul secara pribadi justru membuat buku ini, menurut saya, menjadi amat menarik. Tak ada niat buku ini untuk menggurui juga tanpa pretensi, tapi orang dengan kecerdasan rata-rata saja, seperti saya, bisa menelusuri kembali jejak-jejak penderitaan para korban kekejaman politik Orde Baru Soeharto tanpa harus menjadi pendukung PKI.
Rekonsiliasi Sosial
Isu PKI, umat beragama, dan pelanggaran hak asasi manusia sudah lama menjadi alasan untuk saling menjahati di Indonesia. Yang bersimpati pada tapol G30S/PKI disederhanakan saja sebagai simpatisan atau pendukung PKI yang anti agama. Mereka juga dituduh melupakan kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan PKI pada masa sebelumnya. Sedang yang ‘mentolerir’ pembunuhan 500.000 hingga 2 jutaan orang -angka versi Komnas HAM- dan penahanan 250.00 orang tanpa pengadilan -versi akademisi Ernst Utrecht- dimasukkan ke dalam kubu ‘konservatif’ yang munafik.
Bisa jadi sisa-sisa perpecahan itu pulalah yang mengental kembali pada masa pemilihan presiden 2014 lalu dengan kubu kadrun dan cebong. Cilakanya, ada kemungkinan ketegangan kedua kubu bakal malah semakin kencang di pemilihan umum dan presiden 2024 nanti. Dan entah di mana ujung dari sikap saling memaki dan saling menjahati, walau hampir dipastikan tak akan mengulang pembunuhan dan penahanan massal 1965. Saya yakin semua orang Indonesia -kubu kadrun atau cebong- sudah cukup belajar dari kilasan-kilasan tragedi G30S/PKI yang selama ini didengar.

Mutiara Di Padang Ilalang mungkin tak berperan besar untuk klise ‘pelajaran dari sejarah’ namun amat penting dalam mendudukkan bahwa soal utama dalam babak politik tergelap di Indonesia adalah penderitaan manusia. Dan Tedjabayu, mengulang lagi keyakinan saya, menjadi orang suci atau santo yang memberi inspirasi bahwa hidup adalah sesuatu yang harus dijalani, disiasati, dan disyukuri, tanpa perlu menjadi kadrun atau cebong.
***
*amangboru = suami adik/kakak ayah dalam budaya Batak
Foto:
1. Facebook Tedjabayu
2. Facebook Tedjabayu
3. Doc Pribadi/ Ricky Nugraha
Liston P Siregar, editor ceritanet.com