Catatan, edisi 382 September 2024

28 May 2024 malam 20.00 WIB, saya terbang dari Bandara Soekarno Hatta untuk ibadah haji. Penerbangan panjang selama 9 jam dan perbedaan waktu 4 jam lebih lambat dari Indonesia tidak menyurutkan semangat, seperti halnya para jamaah lain dalam rombongan meski kantuk terus menghantui. Dan lelah yang tersisa dari perjalanan panjang juga perbedaan waktu itu tidak menyurutkan kekhusukan dan keteduhan beribadah di Madinah dan Mekkah, di bawah terik matahari bulan juni yang bersuhu rata-rata 41 derajat Celcius.

Dari ibadah di Madinah dan Mekkah, saya dan rombongan mulai persiapan untuk puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tiga kota itu adalah tempat penting dalam rangkaian perjalanan Nabi Muhammad dalam ibadah haji sebelum tutup usia. Jejak yang ditinggalkan menjadi rute para peziarah atau jamaah haji, yang disebut tarwiyah.

Kami pun pindah dari hotel di area Masjidil Haram selama 4 hari ke hotel transit sekitar 3 km dari Mekkah. Hotel itu di kota Batha, tidak jauh dari Kudai, tempat pengemasan air zam-zam. Suhu di Batha bisa mencapai 46-47 derajat Celcius, jadi lebih terik dan panas dibanding Mekkah. Biasanya cuaca yang ekstra panas membuat kesibukan masyarakat Saudi di sejumlah kota tidak terlihat padat di siang hari karena orang-orang lebih banyak yang memilih berdiam di dalam ruangan. Ketika malam tiba, barulah terasa kehidupan yang cukup meiah, lengkap dengan kemacetan lalu lintas dan antrian kendaraan bermotor di lampu merah. Café-café dan restoran ramai semarak dan keramaian di supermarket lebih terasa. 

Tahun 2015 lalu, saya mengunjungi Madinah, Mekkah, Jeddah dan beberapa tempat di Saudi untuk ziarah umroh. Saat itu, masih banyak bukit batu dan padang meranggas dihiasi bangunan-bangunan runtuh yang ditinggal pemiliknya. Entah rumah, pertokoan, showroom bahkan rest area. Beberapa kawasan diterlantarkan oleh warga maupun oleh pemerintah. Tapi kini, sembilan tahun kemudian, terlihat nyata hasil reformasi yang dilakukan Kerajaan Saudi, yang mengubah wajah Madinah, Mekah, dan Jeddah sehingga terlihat lebih segar. 

Pandemi global selama dua tahun yang memaksa ibadah haji dan umroh berhenti, rupanya memberi ruang Saudi untuk membenahi banyak hal. Jalan-jalan lingkar yang lebar banyak ditemui, juga ada stasiun kereta cepat yang futuristic, dan kawasan hijau di kota yang semakin lebat pula dengan pohon-pohon yang subur walau cuaca yang amat panas tetap menyulitkan bagi rumput untuk hidup. Layanan umum juga membaik dengan petugas imigrasi, termasuk pegawai perempuan, yang gesit. Pusat perbelanjaan berkembang: gerai internasional berjajar dengan barisan peamasaran kaum perempuan, tak beda dengan kota-kota dunia lain yang aktif. Sungguh beda dengan situasi 9 tahun lalu, juga sungguh beda dengan kesan negara Islam yang melarang perempuan berkegiatan di luar rumah. Wajah Saudi telah berganti menjadi lebih ramah. Pun masyarakatnya. 

Di Batha saya tak punya perbandingan sebelum dan sesudah pandemi selain gambaran umum kota-kota di Arab Saudi yang panas luar biasa sehingga tak terlalu sibuk ketika matahari masih berkuasa di langit sana. Gambaran yang keliru. Lalu lintas sibuk tak henti hingga malam hari, yang semakin terasa karena hotel transit kami dengan SPBU, kedai kopi drive-thru, jasa laundry, toko serba ada dan masjid. Praktis hotel kami itu menjadi bagian dari keramaian Batha, mulai pagi, siang, atau malam.

Sekedar kabar, Sahel – salah satu merk bbm di Saudi, harganya lebih murah dibanding air mineral 350ml. Air mineral dibaderol 2-2,5 Riyal Saudi sementara bbm hanya 1 Riyal Saudi. 

SPBU di kota Batha yang berseberangan dengan hotel transit kami.

Kessibukan di Batha itu makin jelas terlihat berhubung posisi kamar dan tempat tidur saya berdampingan dengan jendela kaca yang cukup lebar, yang menjadi semacam layar TV untuk menonton pemandangan kota sambil duduk di kasur. Kamar dengan ‘layar TV besar itu’ dihuni oleh saya dengan tiga kawan Indonesia lain yang sudah bersama selama 3 bulan sehingga keakraban sudah sangat cair. Ditambah lagi terasa ada kecocokan di antara kami berempat. Maka rasa penasaran selalu muncul bersama ketika terdengar sirine di bawah hotel, entah itu ambulan yang berlalu lalang membawa pasien jamaah haji, maupun riuhnya mobil patroli dan motor polisi maupun tentara Saudi yang khusus menangani Haji dan Umroh, yang biasa disebut Askar atau Askyari. 

Sekali waktu, saat menikmati kepadatan dari atas kamar hotel, kami mendadak membahas haji ‘ilegal’, yang juga sedang hangat dibicarakan di Indonesia. Disebut illegal, karena menuaikan ibadah haji dengan menggunakan visa ziarah, yang berbeda dengan visa haji dan tidak semestinya untuk haji. Praktik seperti ini sudah lama terjadi, bahkan pernah muncul istilah haji ‘backpacker’. Dulu, Kerajaan Saudi masih memberikan izin untuk para jamaah ‘backpacker’ tanpa melalui jalur resmi. Seiring bertambahnya jamaah di setiap negara, maka keberadaan jamaah ‘backpacker’ mempersuit layanan bagi para jamaah ‘beneran’ terutama menyangkut keselamatan dan kesehatan. 

Tentu, kerajaan dengan dua kota suci bagi umat muslim ini ingin melayani semua jamaah dari seluruh dunia yang datang berhaji dengan sebaik-baiknya. Berangkat dari maksud tersebut, seperti berita yang beredar, dilakukan sweeping atas jamaah ‘backpacker’ yang menggunakan viza ziarah. Tak jarang, kami melihat taksi berhenti di pinggir jalan dengan penumpang yang telah berpakaian ‘ihrom’ -kain putih sebagai syarat telah bersuci siap berhaji- harus berpanas-panasan menghadapi pemeriksaan  Asykari. Jika visa mereka memang resmi, maka selamatlah. Bagi jamaah yang ternyata tak memiliki visa resmi tak segan para petugas ini mengamankan para peziarah. Mereka yang tertangkap akan menjalani persidangan dan hukuman sesuai pelanggaran yang dilakukan, salah satunya pencekalan, para terhukum tidak boleh memasuki Mekkah dan Madinah selama 10 tahun. Tak hanya taksi dan bus umum yang diperiksa, hotel-hotel kecil yang berada di sekitar pemukiman wargadi perbukitan juga turut menjadi sasaran ‘pembersihan’ oleh Asykari. 

Kota Batha di malam hari, dari kamar hotel kami.

Saya dan ketiga teman sekamar aman-aman saja. Di leher kami tergantung Nusuk Card, yang merupakan identitas resmi yang dikeluarkan Kerajaan Saudi untuk semua jamaah haji resmi. Masih ada lagi kartu identitas jamaah asal Indonesia. Nusuk Card diberikan begitu kami turun dari kereta jalur Madinah – Mekkah. Nama kami dipanggil satu persatu untuk mendapat kartu sakti. Ketika masuk ke kota Mekkah, pun bus kami diperiksa petugas. Bukan hanya jamaah yang diperiksa, juga sopir dan penanggung-jawab rombongan. Sebagai jamaah resmi, maka usai ‘diskusi serius’ kami berempat pun terus membahas jamaah ‘backpacker’ setiap melihat mobil patroli polisi menembus padatnya lalulintas dengan kecepatan tinggi. Sementara suara sirine ambulan dan mobil patroli tak henti hingga dini hari waktu Saudi, walau bisa jadi urusan ambulan dan polisi tak berhubungan dengan kaum haji ilegal itu.

Atau bisa jadi mereka menolong para jamaah haji yang butuh bantuan kesehatan. Dengan cuaca yang amat panas, tim kesehatan semakin tak mungkin lepas mata memantau para jamaah yang  bertumbangan terkena heatstroke. Mobil-mobil ambulan berada di setiap titik. Ssementara di Mina, saya melihat mobil pemada, kebakaran menyebar kesejukan dengan menyiramkan air untuk lautan jamaah yang berada di bawah terik matahari. 

Saya dan rombongan beruntung bisa menunggu di dalam maktab atau tenda  untuk melempar jumroh -salah satu rangkaian rukun haji-  kami tengah berada dalam maktab atau tenda. Di luar suhu mencapai 48 derajat celcius pada pukul 13.00 waktu Saudi. Saat itu ada himbauan untuk semua jamaah Indonesia agar tidak melakukan kegiatan di luar ruang karena perkiraan suhu semakin meningkat. Kami diminta berdiam di dalam tenda sampai nanti pukul 17.00 menjelang petang, ketika matahari mulai agak  ‘ramah’. Ada mesin penyejuk AC di dalam ruangn namun tak sepenuhnya mampu meredam hawa panas yang menyusup ke dalam tenda. Kami semua pasrah menunggu sambil sesekali bercanda dengan berbagi cerita lucu.. 

Maktab/tenda kami di Mina.

Mina terletak di sebelah tenggara Masjidil Haram dengan luas sekitar 7,8 km persegi. Kawasan seluas itu menjadi tempat berkumpul tiga juta jamaah haji seluruh dunia. Dan Mina, tampaknya, tidak akan bisa dipeluas lagi. Berbeda dengan Arafah -yang merupakan padang tandus Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam dan Sayidatti Hawa- yang amat luas seperti ‘rahim’ yang mampu menampung sebanyak apapun manusia yang datang. Orang-orang tidak akan berdesakan dan tidak akan berhimpitan karena luas Padang Arafah 1.225 hektar! 

Masuk waktu ashar, sekitar pukul 15.30, hujan deras tiba-tiba turun di Mina. Sebuah berkah yang sangat ditunggu ketika terik matahari siap menguliti lapisan kulit ari. Di luar tenda, di jalan-jalan sepanjang Mina, tampak para jamaah bergembira menyambut hujan: ada yang menari sambil mengucapkan syukur keras-keras, ada yang berdiam menikmati air membasahi tubuh sambil menengadahkan tangan, dan banyak pula yang memejamkan mata khusyuk berdoa atas Maha Pemurah Tuhan Sekalian Alam. 

Tak semua jamaah punya maktab untuk menampung mereka dari sengatan terik matahari. Banyak yang meunggu giliran melempar jumroh di pinggir jalan, mencari peneduh di emper bangunan tenda atau menunggu siraman pemadam kebakaran. Ada pula yang yang tak masuk tenda peneduh karena letaknya jauh sementara mereka sudah berjalan menuju Jamarot, tempat melempar jumroh. Lebih baik terkena terik matahari daripada jauh dari tenda, memilih terus berjalan agar tiba di Jamarot  dengan waktu ibadah dapat terpenuhi. Ada pula joki-joki pendorong kursi roda untuk jamaah yang jika tak lagi berkuasa memaksakan tubuhnya berjalan. Tarif par ajoki kursi Roda itu sebesar 500 Riyal Saudi atau sekitar Rp 2,1 juta.

Memang benar, berhaji tak hanya mampu materi, tetapi rohani dan jasmani.  Kekuatan dan ketahanan tubuh serta mental para jamaah akan diuji, seperti yang saya alami di Arafah selepas ibadah wukuf. Kami semua bergegas antri makan malam namun ketika tiba di giliran saya tak tersisa lagi nasi, lauk, sayur, air mineral, maupun air panas. Semuanya habis selain sebuitr apel yang menjadi satu-satunya pengganjal perut saya. Ketika pasokan pisang datang, semuanya belum matang! Tapi saya tak marah-marah menggerutu tapi malah mentertawakan situasi itu dengan ringan. Saya tertawa, sementara teman-teman yang sudah kekenyangan merasa prihatin melihat saya. Jelas saya baik-baik saja karena toh sudah terbiasa puasa. Pengalaman itu menjadi bukti nyata dari uji ketahanan tubuh dan mental saat menunaikan ibadah haji. Yang nyaris tak tertahankan adalah rasa kantuk. Bahkan saya pernah nyaris kalah ketika godaan kantuk paling kuat datang saat ibadah wukuf, buru-buru ambil spray berisi air zam-zam lalu kubasahi wajah sebasah-basahnya agar tak lelap tertidur meski sebentar. 

Saya juga terkagum-kagum sendiri dengan tidak munculnya bau badan walau cuaca panas dan saya yakin tak semua jamaah mandi tiga kali sehari. Kami serombongan memang selalu bercita-cita mandi begitu masuk hotel. Tapi seingat saya, sekotor atau seberkeringat apapun diri kita ketika beribadah haji, tak tersebar bau badan. Mau lengket tiga hari hari tidak mandi, tetap saja beraroma aman. Namun kebiasaan di Indonesia mandi tiga kali sehari sudah melekat dalam kebiasaan kita, ditambah dengan semangat bahwa semakin bersih tubuh kita maka semakin tenang kita beribadah.

Menunggu senja dari kamar hotel kami di Batha.

Tak bisa dipungkiri, menunaikan ibadah haji merupakan cita-cita sekitar 1,9 miliar Umat Muslim di seluruh dunia. Seperti kata banyak orang, setidaknya sekali seumur hidup pernah menghirup udara Madinah dan Mekkah. Tak sedikit pula yang malah bercita-cita untuk meninggal di dua kota suci itu. 

Saat ini antrian untuk ibadah haji dari Indonesia, kabarnya, mencapai 40 tahun. Jadi kalau hari ini mendaftar untuk naik haji, kelak baru tahun 2064 nanti bisa terbang menghirup udara Madinah dan Mekah. Mungkin itulah yang membuat banyak orang bercita-cita mengakali antrian itu. Sayangnya, kadang tak diikuti dengan informasi yang benar dan sekaligus pula diiringi dengan kekalapan yang berlebihan, yang membuka celah yang mulus sekali untuk para penipu. 

Ungkapan beragama dengan bijak sepertinya dimaknai dengan niat membabi buta untuk segera menunaikan ibadah haji. Padahal, kuncinya adalah undangan. Jika saatnya di-Undang oleh Sang Pemilik Rumah di Mekkah yaitu Allah SWT, maka kesulitan apapun akan menjadi mudah. Jika Kanjeng Nabi Muhammad berkenan kita hadir di Madinah, maka akan dimudahkan berziarah di sana dan diberikan waktu cukup untuk beribadah di Raudhah, sebuah taman di antara makam Nabi Muhammad SAW dan mimbar tempat beliau melakukan khotbah. Insyaallah. Allohuma  aamiin. 
***

Yessita Dewi, lahir di Magelang tahun 1974. Berdomisili di Solo pinggiran. Lama di dunia radio ( 1994 – 2005 di PTPN FM Solo, 2006 -2007 di Karavan FM ) sesekali menjadi pengisi suara dan masih aktif di dunia Master of Ceremony. Kini menjadi salah satu naratordan volunteer Difalitera. Pernah menulis naskah sandiwara radio, naskah sinetron serial anak-anak, FTV dan film dokumenter sampai tahun 2017. Selain ikut berkumpul ngangsu kawruh di Sastra Pawon Solo, ia juga menulis cerpen, esai, cerkak (cerpen Bahasa Jawa) di media cetak serta beberapa buku antologi yang turut ia ramaikan. Pernah memenangi lomba sayembara novel dari Dewan Kesenian Jawa tengah 2011 dan Lomba Cerkak Mangkunegaran 2023. Kumpulan cerkaknya berjudul Nyah Santen terbit April 2024. Instagram: @yessita_dewi, Facebook: Yessita Dewi, Blog:https://kacamatayessita.blogspot, Twitter: papercut@yessitadewi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *