Catatan, edisi 388 Maret 2025

Sekali waktu, saya dan putri, naik JakLingko dari perempatan Haji Nawi ke Pondok Indah Mall (PIM) karena hanya sekali jalan tanpa sambungan. JakLingko itu berupa Daihatsu kecil dengan pintu samping dan dua bangku berhadap-hadapan di sisi kiri-kanan. Kami naik dan baru saja putri saya, Matta, mau men-tap kartu ke mesin di belakang pak supir, langsung saja Ibu yang duduk di dekat pintu masuk ‘memerintahkan’: “sudah cepat duduk saja dulu… nanti jatuh.” Memang angkot langsung jalan, tak memberi waktu untuk men-tap kartu.

Kami pun segera duduk di kursi dekat jendela belakang. Barulah si Ibu meminta kedua kartu kami dan secara estafet ‘memerintahkan’ anak muda yang duduk di belakang pak supir untuk men-tap. Tak ada suaran perintah selain gerakan tangan dan anak muda itu paham: masing-masing kartu di-tap dua kali. Lantas anak muda itu menyerahkan kembali kedua kartu kepada Ibu tadi, yang meneruskan kepada kami secara estafet. “Terimakasih Bu… Terimakasih Mas…” kami sampaikan dengan nada bersahabat kepada mereka berdua. Kerja sama yang efektif dan efisien tanpa banyak suara dan gerakan selain memanjangkan tangan.

Saya pun ngobrol dengan Ibu yang siang itu pulang belanja dengan dua tas plastik kecil. Dia juga bertanya tujuan kami, “PIM 2” dan si ibu menyebut satu persimpangan, “Nanti jalannya nggak jauh kok.” Kami mengangguk-angguk seolah itu adalah informasi baru yang amat membantu padahal putri saya sebelumnya sudah lebih dulu melacak lewat Google. 

Dalam perjalanan, empat anak berseragam sekolah menghentikan JakLingko kami, tapi memutuskan tidak jadi naik. Sudah ada lima orang: Ibu, anak muda, kami berdua, serta  seorang Mbak di seberang kami. Kursi depan sebenarnya masih kosong. “Mereka maunya sama-sama,” komentar Ibu itu menjelaskan kepada kami berdua. Di salah satu sudut jalan, si Ibu berhenti dan, “Mari…mari, saya di sini” dan kami berdua mengulang lagi dengan hangat, “Terimakasih Bu…” Ketika giliran kami turun -sesuai dengan arahan Google dan Ibu tadi- kami ucapkan “Terimakasih Mas…” tak kalah hangatnya dan si anak muda hanya mengangguk kecil. Mungkin dia pikir: ‘cuma gitu doang nggak perlulah sampai pakai terimakasih’.

Perilaku saling membantu -yang menurut saya hebat itu- ternyata urusan biasa-biasa saja. Dan begitulah pengalaman saya dengan beberapa JakLingko lainnya. Dalam perjalanan dari Mal Ambasador ke Tebet, saya sendirian jadi memilih duduk di kursi depan yang kosong dan baru saya sadari merupakan kursi prioritas. Tapi rupanya saya cuma sok muda, karena kenyataannya supirnya menenangkan dan bukan menyuruh pindah, “Nggak apa-apa… “ -mungkin karena melihat rambut saya yang sudah beruban. Duduk di kursi depan agak repot untuk men-tap kartu karena mesinnya di belakang kanan tubuh, jadi harus setengah memutar badan  ke kanan sedikit dan menarik tangan kanan agar bisa menjangkau mesin pembaca.

Seorang perempuan muda, yang duduk di belakang supir, langsung berinisiatif mengambil kartu saya dan men-tap dua kali: masuk dan keluar. Saya ucapkan terimakasih dengan riang dan ramah tapi dia dingin-dingin saja. Mungkin sama seperti anak muda tadi, “Gitu saja kok heboh”. Pelan-pelan saya menduga bahwa kursi di belakang supir itu yang paling nikmat: gampang masuk dan ke luar. Tak usah berbalik badan atau membungkuk lama maupun membuka pintu: cukup melangkah naik dan melangkah turun. Cuma ‘kemewahan’ itu ada bayarannya: men-tap kartu para penumpang lain.

Jadi waktu saya dan istri, Lisa, naik JakLingko dari Cililitan ke daerah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), saya pun yakin untuk naik, duduk, dan langsung menyerahkan kedua kartu kami kepada Ibu yang duduk di belakang pak supir. Dia angkat tangannya menerima kedua kartu dan men-tap masing-masing dua kali. Posisi duduknya itu yang membuat dia mendapat tugas tambahan, “Terimakasih Bu…” Dan komentar kami tentang JakLingko yang nyaman dan gampang itu dikembangkannya menjadi puja-pujinya kepada Jokowi, yang menurut saya adalah presiden penipu walau istri saya masih menggunakan istilah presiden yang mengecewakan. 

Ibu itu turun dan kami kami ulang lagi dengan hangat “Terimakasih Bu…” sebelum saya dan istri saling berpandangan melepas komentar bisu yang ‘nyinyir’ menyangkut puja-puji Ibu tadi atas Jokowi, salah satu presiden terkorup Indonesia. Saya lirik dua penumpang lain, anak-anak muda yang sepertinya tidak perduli dengan puja-puji tadi selain menatap telepon genggamnya. Bagaimanapun pelajaran dari JakLingko hari itu adalah: bekerja sama dan saling membantu walau beda politik. 

Itu pengalaman JakLingko. 

Di TransJakarta, LRT, dan MRT, saya juga bertemu dengan banyak orang-orang baik, yang rasanya tidak sesuai dengan prasangka umum tentang orang Jakarta yang serba sibuk dan tak perduli. Para petugas amat membantu jika diminta petunjuk untuk tujuan yang membutuhkan sambungan angkutan -jadi bukan cuma satu perjalanan lurus MRT dari Haji Nawi ke Senayan City, misalnya. Mereka terkesan membantu bukan sebagai bagian dari pekerjaan semata, tapi memastikan agar masalah pelanggan teratasi. 

Misalnya, ketika saya men-top-up kartu yang terakhir kali digunakan Februari 2024 tahun lalu karena kreditnya tinggal belasan ribu. Mesin top-up berada di seberang tempat saya masuk. Mas petugas yang baik itu bukannya menyuruh saya berjalan panjang memutar, namun membukakan pagar  masuk -yang mestinya berbayar- dan membukakan pagar keluar -yang juga berbayar- agar saya dan istri bisa jalan lurus dan singkat ke mesin tersebut. Dia juga membantu kami untuk menekan-nekan layar digital sambil menerangkan dengan gerakan dan suara lembut. Usai top-up, saya sampai menundukkan kepala saat mengucapkan terimakasih karena terkesan pada budi baiknya, bukan karena mendapat bantuan dari seorang petugas resmi.

Kali yang lain, saya sempat antri panjang di stasiun TransJakarta saat mendekati jam pulang kantor yang sibuk. Saya sebenarnya agak bingung karena ada barisan yang lenggang dengan hanya dua orang yang antri. Mbak berkerudung yang bertugas mendekat dan meminta saya pindah antrian di tempat lenggang untuk pintu depan, yang rupanya saat itu dijadikan pintu masuk prioritas -berkat rambut saya yang sudah ubanan. Saya terkesan melihat kesigapan Mbak petugas yang mengamati dengan seksama keadaan di stasiun TransJakarta, bukan cuma formalitas berdiri tengok-tengok kosong kiri kanan atau main HP.

Banyak juga penumpang yang baik dan ramah. Ceritanya istri saya bersama beberapa teman SMA-nya dulu mau reunian naik Whoosh. Saya mengantarnya ke Stasiun Halim naik mobil sewaan karena mengejar waktu harus tiba sebelum pukul sembilan pagi. Usai mengantarnya -saya sama sekali tak tertarik dengan Whoosh- maka saya pun bisa santai-santai naik LRT menuju Dukuh Atas. Namun cukup mengagetkan karena sekitar pukul 9.30 pagi, ternyata LRT masih padat. Masing-masing orang sibuk dengan HP-nya sambil berdiri berdesakan, selain saya yang sok-sok mengamati bahwa sebagian besar penumpang adalah para pekerja yang mau ke kantor. 

Orang-orang mulai pada turun di setiap stasiun dan ketika memasuki kawasan Kuningan, gerbong kami sudah lapang kembali. Saya berdiri di samping seorang anak muda yang tidak mengenakan earphone walau menatap terus HP-nya. Begitu dia tak menatap HP, saya langsung menyambar, “Jam segini masih banyak yang ke kantor ya, kirain sudah pada kerja…”  Dia membalas sopan dan jelas, “Iya pak… kalau pegawai negeri sama BUMN sudah masuk kerja. Swasta agak bebas.” 

Kami pun ngobrol, Dia orang IT di salah satu bank di kawasan Kuningan dan masuk jam 10.00 untuk pulang sekitar jam 18.00-an. Dia tinggal di Bekasi dan amat tertolong dengan LRT. Saatnya dia turun, kami pun saling melepas salam berpisah yang hangat, “Selamat kerja Bung…,” dengan balasan, “Hati-hati ya Pak…” Terus terang saya agak kesal dipanggil Pak karena saya masih mau sok muda dan berharap dipanggil Mas, Bang atau Bro karena saya merujuknya dengan Bung. 

Saya teruskan perjalanan ke Stasiun Dukuh Atas dengan asyik sendiri mengenang masa lalu, melewati kantor Tempo tempat saya kerja dulu dan bekas Kedutaan Besar Australia, tempat liputan ketika bom meledak di depannya. Teringat pula Green Pub di Gedung Setiabudi Building dan Topaz di Gedung Bakrie, tempat saya dan kawan-kawan minum segelas dua gelas bir selepas kerja. Ringan hati saya naik angkutan umum yang lancar dan bagus, plus ngobrol lepas dengan orang baik.

Tiba di Stasiun LRT Dukuh Atas terlihat petunjuk ke stasiun MRT tapi saya masih punya kesadaran geografis bahwa jaraknya cukup jauh. Apakah lebih baik mengikuti kaki lima jalan raya atau jalur koridor sambungan stasiun? Saya pun bertanya pada seorang petugas yang berbaik hati mengarahkan rincian untuk meneruskan jalan sebelum turun tangga dan melanjutkan dengan mengikuti arah MRT. “Nanti Bapak ikuti saja petunjuknya…” Baik, dan berjalanlah saya mengikuti petunjuk dan arahannya yang jelas. 

Sampai satu titik, ada petunjuk menuju MRT namun harus masuk ke stasiun KRL Sudirman, “La saya nggak mau Naik KRL tapi MRT…” Jelajatan saya tak menemukan petugas di dekat pintu masuk stasiun KRL. Persis di samping koridor agak ke bawah ada kaki lima jalan umum namun tak beratap seperti di koridor. Pagi itu matahari sudah mulai agak menyengat tapi ya tak apalah karena saya mau menuju MRT, bukan KRL. Cuma bagaimana ke luar ke kaki lima itu: apa harus berjalan balik mundur untuk menemukan pintu keluar dari LRT Stasiun Dukuh Atas? Bingung.

Tiba-tiba seorang perempuan muda di belakang menyapa sopan, “Mau kemana Pak…” Saya pun menjelaskan tujuan dan dia menyarankan berjalan bareng, “Saya juga ke arah sana Pak…” Kami pun masuk ke stasiun KRL dan, “Jadi harus bayar ya…” celutuk saya ketika men-tap kartu tapi ternyata tidak kena bayaran karena nanti akan langsung di tap untuk keluar, seperti dijelaskan perempuan muda itu. Sambil jalan kami ngobrol santai karena sudah merasa aman dan nyaman bakal tak kesasar lagi.  

Anak perempuan muda itu, yang saya duga sebaya putra sulung saya sekitar 30-an tahun, tamatan Fakultas Matematika ITB dan bekerja di salah satu bank di kawasan Sudirman sebagai analis keuangan Dia bertanya asal saya, yang saya jawab dari Medan dan disambung dengan pertanyaan berikut, “Orang Batak Pak? Saya marga Siagian…” Makin nyaman dan senanglah saya, yang bermarga Siregar. Dia generasi kedua perantau Batak di Jakarta dan sama seperti anak muda teman ngobrol singkat di LRT tadi, bekerja dengan jam yang cukup bebas sehingga tak harus bersaing keras merebut tempat berdiri di LRT. Jadi kepadatan yang saya alami tadi di LRT ternyata bukanlah pada titik tertinggi.

Keluar dari stasiun LRT, kami berpisah di ujung Jalan Kendal. Dia berbelok ke kanan mengarah ke kantornya dan menunjuk tangga ke stasiun MRT. Saya sekali lagi mengucapkan terimakasih yang hangat dan menjelaskan bahwa saya adalah perantau di London, yang merupakan salah satu pusat keuangan dunia. “Jadi kamu harus ke sana nanti dan nginap di rumah kami…” Dia tampak tertarik  -entah beneran atau sebagai sopan santun semata- jadi saya berikan email saya. “Beneran ya…” Boru Siagian itu mengangguk dengan senyum kecil dan saya benar-benar berharap sekali waktu ada email dari dia yang mengabarkan mau jalan-jalan ke London.

Pada satu siang di hari yang lain, saya masuk MRT dan bagian kursi prioritasnya sudah penuh dengan enam pria yang kira-kira sebaya saya karena rambut yang sudah beruban atau membotak. MRT pada jam itu lapang dan mereka ngobrol seru dan masih ada dua lagi yang duduk di seberang saya di kursi biasa. Saya yakin mereka sedang reuni kecil dan terdengar membahas beberapa teman mereka di SMP atau universitas. Kami semua turun di Stasiun Senayan, saya di belakang karena asyik juga mengamati mereka dan rasanya seperti melihat diri sendiri di cermin.

Begitu semua berada di luar, salah seorang kemudian nyelutuk, “Foto dulu… foto dulu..” Saya langsung menawarkan, “Mau saya foto Mas..” Mereka semangat karena semua akan masuk foto dan saya bertanya, “Ini reunian SMP, SMA, atau Universitas…” Ternyata reunian SMA dan usai foto salah seorang bertanya, “Mas dulu SMA berapa?” yang saya jawab, “Awak Anak Medan…” dan langsunglah semakin heboh.

“Horas Bang!” seru yang satu dan yang lain nyelutuk lebih keras, “Saya pernah di SMA 1 Medan,” dan bikin saya semangat, “Aku anak Immanuel…” Agak hebohlah kami karena kedua SMA itu cukup toplah di Medan pada masa kami dulu. Benar mereka hanya satu angkatan lebih tua dari saya, dan empat orang seperti mengepung saya dari depan untuk cakap-cakap di pelataran stasiun.

“Masih di Medan Bang?” yang saya jawab, “Nggak, sudah di Haji Nawi..” karena jelas akan lebih heboh lagi kalau saya jelaskan sekarang tinggal di London. “Pada mau reuni kemana nih…” tanya saya, “Ah pengacara semua kok..,” jawab yang satu yang saya yakin merujuk pada ‘pengangguran banyak acara’ dan yang lain meramaikan, “Nggak jelas asal ngumpul2…” Saya pun pamit, “Iyalah Mas, aku cabut dulu…” dan kami melepas salam pisah yang hangat, “Selamat reunian Mas-mas” dan dibalas “Sehat-sehat Bang…”

Tapi rasanya yang paling seru adalah satu perjalanan dari Stasiun Haji Nawi ke Stasiun Dukuh Atas. Pagi itu sekitar jam 10-an, saya dapat bangku di samping seorang perempuan yang tekun membaca buku. Dia seperti di dunianya sendiri dengan kaca matanya -berbentuk klasik bergagang hitam yang bukan bermodel riang- memberi kesan dia gemar membaca. 

Setelah sok-sok mengamati keadaan kiri kanan di gerbong, saya mulai bosan karena tak ada yang menarik dan melirik selintas ke halaman yang terbentang. Rupanya buku Bahasa Inggris dan di paling atas saya baca judul salah satu bab-nya: ‘Transendensi Sebagai Jalan Keluar’. Kira-kira begitulah judul babnya, yang memberi kesan sebagai bacaan yang berat dan memicu rasa penasaran buku apa pula itu. Tapi jelas  tak sopan atau tergolong kepo berat jika bertanya karena dia amat tekun membaca.

Menjelang Stasiun Dukuh Atas, tempat pemberhentian saya, dia menutup bukunya setelah menaruh pemisah buku di halaman terakhir bacaannya. Terbacalah judulnya: Bookshop Woman karya penulis Jepang, Nanako Hanada, yang belum pernah saya dengar. Judul yang menarik dan karena dia sudah santai tak membaca buku, maka saya pun bertanya lembut, “Maaf, boleh tahu itu buku fiksi atau non-fiksi?”

Dia semangat menjelaskannya, “Fiksi, tentang perempuan yang menceritakan buku-buku yang dia suka ke orang-orang yang dijumpainya…” dan menawarkan untuk melihat buku itu, “Mau lihat Pak…” dan saya tanggapi, “Ya persis seperti yang sedang kamu lakukan sekarang…” Kami berdua tertawa lepas dan saya minta izin memfoto sampul bukunya, “Putri saya pasti suka buku ini.” Dia kemudian menyangkat tangan dan menyodorkan tangan untuk berkenalan resmi, “Riana… (bukan nama sebenarnya).

Kami ngobrol lanjut tentang pekerjaannya di rumah produksi di Plaza Office Tower walau kuliahnya dulu bukan perfilman. “Anak-anak muda sekarang suka drama, dan kami juga memproduksi ulang drama Korea.” Saya lebih dulu turun karena janjian dengan Matta, putri saya, ke toko Alun-Alun Indonesia dan makan siang dengan kawan lama yang pernah bekerja di Eropa. Di Stasiun Dukuh Atas saya turun, “Selamat bekerja…” dan dibalasnya sopan, “Hati-hati Pak…”

Usai tengok-tengok di Alun-Alun Indonesia dan makan siang plus ngobrol lepas kangen dengan kawan lama tadi di salah satu restoran Vietnam di Grand Indonesia, saya dan putri tak punya arah jelas. Mau langsung pulang malas tapi mau duduk-duduk ngobrol sambil jajan rasanya masih amat kenyang. Tiba-tiba terlintas gagasan berkunjung ke kantor Riana dan saya jelaskan kepada Matta, yang ternyata suka dengan ide spontan yang random itu. “Ayo Pak… “

Maka kami berdua pun masuk ke Plaza Office Tower dan menjelaskan kepada satpam tujuan kami ke rumah produksi yang disebut Riana tadi. Satpam bertanya, “Sudah janjian Pak?” dan saya dengan yakin menegaskan, “Ya Pak” dan kami diarahkan ke meja penerima tamu. Kembali pertanyaan diajukan, “Sudah ada janjian Pak?” oleh si Mbak yang meminta kartu identitas untuk diganti dengan kartu tamu. “Sudah Mbak,” dan ditanggapi “Di lantai 38 Pak.”

Saya dan Matta senyum-senyum sambil berjalan sok serius ke lift bergaya seperti orang-orang serius beneran yang lalu lalang di lobby. Lift ternyata dibagi dua: satu bagian untuk lantai 1 ke 22 dan satu lagi untuk lantai 23 ke 42. Kami pun ke lift dan barulah melepas tawa karena hanya berdua di dalam lift sambil menikmati seru-nya menjadi orang penting yang serius di kawasan pusat bisnis Jakarta. “Kalau pun nggak ketemu, kita sudah lontang-lantung di kantor hebat-hebat ini Tet,” ujar saya yang disepakati Matta.

Begitu ke luar dari lift langsunglah kami pasang lagi muka serius dan terpampang nama perusahaan tempat bekerja Riana. Karyawan di meja penerima tamu bertanya lagi, “Sudah ada janji Pak?” dan tipuan saya kembali berhasil sehingga pertanyaan dilanjutkan, “Maaf, dengan siapa Pak?” sebelum kami diminta duduk di ruang tunggu yang nyaman. Saya dan Matta menahan-nahan senyum membayangkan sendiri keanehan dan kelucuan dari penjelajahan kami siang itu.

Tak lama muncullah Riana dengan wajah yang tampak agak kikuk tapi tetap tersenyum bersahabat. Jelas dia risih menyadari seorang pria setengah baya yang bertemu di bus dan langsung datang ke kantornya. Jadi segera saya kenalkan Matta ke dia, “Ini putri saya, yang saya tadi saya bilang…” dan Matta pun berkomentar, “Bukunya kayaknya asyik ya…” Berkembanglah obrolan dari Bookshop Woman ke film-film yang mereka tawarkan lewat appilkasi dan juga tentang kami yang tinggal di London. Riana dan Matta saling bertukar telepon dan saya kembali menyarankan, “Kalau jalan-jalan ke London, sudah ada tempat menginap…” 

Sepanjang obrolan, saya sempatkan juga meminta maaf yang ujuk-ujuk datang ke kantornya. Dia -saya yakin- tak keberatan sama sekali dan senang-senang saja kedatangan tamu yang asing, “Nggak apa-apa, sedang tidak sibuk kok…” Sebelum pamit, kami berfoto bertiga dibantu karyawan penerima tamu tadi dan saya serta Matta mengulang lagi, “Terimakasih, kami sudah ganggu” dan dia malah mengutip yang dulu dikatakan orang tuanya, “Kalau kita berpikiran baik, ya akan kedatangan yang baik-baik juga.”

Kontak-kontak bersahabat dan bantuan-bantuan ramah seperti di wilayah angkutan umum Jakarta itu rasanya amat langka di pusat-pusat pertokoan kelas menengah atas. Interaksi-interaksi di kaum kelas menengah atas bisalah dibilang bersikap tidak perduli pada orang sekitar dengan menempatkan diri sendiri sebagai pusat pergerakan alam semesta yang harus diutamakan. Banyak sekali orang-orang yang tak sabar masuk ke dalam lift dengan mengabaikan yang sudah menunggu sebelum dia atau mereka datang. Atau yang memotong antrian di tangga berjalan maupun yang tak mengucapkan terima kasih ketika pintu sengaja ditahan terbuka untuk mereka atau membiarkan pintu langsung tertutup biarpun ada orang persis di belakangnya yang akan melewati pintu itu. Wajah-wajah tengil yang sibuk dengan diri sendiri!

Ya benar, di angkutan umum Jakarta juga ada orang-orang seperti itu. Tapi saya berpihak pada kelas pekerja Jakarta yang menggunakan angkutan umum. Hidup kaum kelas pekerja Jakarta!
***

Liston P Siregar, editor ceritanet.com

4 Responses

  1. “Aku anak Immanuel…” Agak hebohlah kami karena kedua SMA itu cukup toplah di Medan pada masa kami dulu…

    Hehehee..

  2. Bang… Ada tulisan kah dr Anda tentang saat kerja di BBC London? Kalo ada bagi link nya ya…maaf kaya nyuruh bang, tp entah knapa saya kepingin tau cerita jurnalis Indonesia saat di London.

    1. Salam Ali,
      Ada kawan-kawan mantan jurnalis BBC Indonesia yang menerbitkan buku kumpulan tulisan berjudul ‘London Calling’ tapi aku nggak ikut. Coba aku cari tahu mungkin ada versi digitalnya. Kau sendiri kapan berbagi ceritamu di ceritanet.com?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *