Catatan, edisi 402 Mei 2026
Menjelang ulang tahun 2026 ini, istri dan kedua anak bertanya hadiah apa yang saya inginkan. Pertanyaan yang sulit. Pada usia awal 60-an, rasanya tak ada lagi yang diinginkan selain kesehatan dan hubungan hangat dalam keluarga inti dan dengan kawan-kawan dekat. Urusan barang-barang kesukaan, rasanya, sudah bereslah atau bukan prioritas lagi.
Tapi masak ulang tahun tidak ada hadiah.
Sebagai penggemar musik dengan spektrum yang cukup melebar, segera terlintas di benak untuk mendapat hadiah berupa pilihan 10 lagu terbaik orang-orang terdekat. Tiba-tiba muncul keinginan mendengar 10 lagu pilihan terbaik orang-orang, yang bukan pengamat atau jurnalis. Soalnya, kalau pengamat dan jurnalis -apalagi di jaman influencer sekarang ini- maka mungkin pilihannya berbau sponsor atau promosi. Sementara saya mau pilihan yang jujur-jujur saja. Jadi 10 lagu terbaik itulah yang saya minta dari istri, kedua anak, dan beberapa teman dekat. Bukan tugas yang gampang tapi mereka bersedia bekerja keras memilihnya.
Dan amat menarik! Lewat pilihan 10 lagu terbaik itu, saya rasanya bisa lebih mengenal karakter mereka. Sekaligus pula saya menikmati lagu-lagu itu karena banyak yang tak masuk dalam radar saya, yang punya selera bisa menikmati beragam jenis musik. Kedua anak saya dan dua orang dekat lain juga membuat semacam catatan tentang alasan saat memilih lagu yang masuk dalam daftar mereka. Amat menarik!
Cuma setelah mendapat pilihan 10 lagu dari orang-orang terdekat itu, saya pun jadi tergoda untuk membuat 10 pilihan versi saya. Tidak ada urutan namun rasanya lagu yang pertama dalam daftar memang merupakan pilihan utama. Daftar ini merupakan lagu pilihan, jadi bukan komposisi instrumental karena untuk urusan itu, jelas saya harus bekerja lebih keras sebagai penggemar jazz fusion era 1980-an. Memilih komposisi instrumental akan jauh lebih sulit karena harus memilih dari gunung tumpukan yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih besar.
Nah Jika Anda ingin langsung mendengarnya tanpa membaca alasan dalam memlihnya, silahkan ke Spotify : https://open.spotify.com/playlist/42wq4GVtnef6LeHhpA8nlP?si=41eb33d45e934016
1. Karn Evil First Impression Part 2 – Emerson Lake and Palmer (ELP)
Saya pertama kali mendengar lagu ini di Medan tahun 1980-an awal, di rumah seorang teman senior. Kami kumpul-kumpul di rumahnya dan dia putar kaset 10 Classic Rock yang salah satunya adalah Karn Evil First Impression Part 2 karya Emerson Lake and Palmer (ELP). Saya langsung terkesan dengan lagu itu walau kawan-kawan lain lebih suka Bohemian Rhapsody (Queen) atau Stairway to Heaven (Led Zeppelin). Tapi buat saya karya ELP itu yang menggugah karena iramanya jumpalitan secara brutal dengan melodi keyboard dan gitar yang kuat namun sekaligus harmonis sebagai sebuah kesatuan.

Saat itu, rasanya, saya hanya terperangah dengan iramanya dan belakangan makin suka setelah mengerti liriknya: Welcome back my friend to the show that never ends… Come inside, the show’s about to start… Guaranteed to blow your head apart…” Memang rasanya kepala saya meledak-ledak mendengar lagu ini. Penggemar berat ELP akan berpendapat Karn Evil harus didengar utuh tiga bagian, jadi bukan cuma satu bagian saja. Dalam banyak kesempatan saya -yang sudah menjadi penggemar berat ELP- memang mendengar utuh tapi jelas lebih menikmati bagian kedua dibanding yang pertama dan ketiga. Maka saya pun yakin menempatkan Karn Evil First Impression Part 2 karya ELP ini sebagai peringkat satu dalam daftar lagu kesukaan saya.
2. Roundabout – Yes
Saya tidak menempatkan lagu ini duduk di peringkat kedua namun jelas amat mudah memasukkannya ke dalam 10 lagu terbaik pilihan sepanjang masa. Roundabout adalah lagu classic rock sejati! Kita bisa mendengar campuran irama klasik dan dentaman rock yang terpadu. Pencetan keyboard Rick Wakeman dan petikan gitar Steve Howe dengan sempurna menampilkan campuran classic dan rock yang harmonis. Ditambah lagi dengan keunikan suara Jon Anderson, yang bukan seperti kebanyakan penyanyi rock atau penyanyi klasik.
Roundabout, buat saya, adalah lagu classic rock tulen! Awalnya saya menduga liriknya tentang orang yang berputar-putar tak karuan tanpa tujuan namun melakukannya dengan riang gembira: roundabout, Belakangan saya baru paham bahwa liriknya adalah tentang bundaran di jalanan di Skotlandia. Ketika itu Yes sedang tour di Skotlandia dan mereka harus melewati 25 bundaran dalam perjalanan ke Glasgow. Bagaimanapun tetap saja buat saya lagu ini adalah ‘mutar-mutar tak karuan yang asyik’.
3. He Is Sailing – Jon & Vangelis
Saya tidak paham betul lirik lagu ini ketika pertama kali mendengarnya namun jelas tahu judulnya He Is Sailing yang berarti Dia Berlayar. Dan memang rasa seperti itulah yang ditawarkan oleh irama lagu ini: berlayar di laut maupun ruang angkasa tanpa tujuan yang jelas selain menikmati sebuah penjelajahan yang bebas merdeka. Instrumental musik Vangelis dan karakter suara Jon Anderson berhasil menciptakan suasana berlayar bebas di alam terbuka bagi para pendengar lagu ini, setidaknya saya.
Ada pula kata-kata di lirik yang dikarang-karang sendiri oleh Jon Anderson -“Coca say Tey Toka”– yang tak ada artinya namun semakin menegaskan gagasan tentang dunia yang terbuka tanpa batas untuk dijelajahi lewat kata-kata yang puitis. Belakangan, ketika Bahasa Ingris saya sudah lebih baik, saya pun semakin menikmati liriknya: “Out of the mist into tropical splendor… With garlands of flowers… In Majestical fusion we see tonight..”
4. Somewhere I Belong – Linkin Park
Lagu ini diperkenalkan oleh kedua anak saya, Juang dan Matta. Jelas saya bukan penggemar aliran musik nu metal tapi mendengar Somewhere I Belong membuat saya jadi pecinta berat Linkin Park. Tahun 2017 saya pun ikut nonton pentas Linkin Park di Arena O2 London, masih dengan vokalis utama Chester Bennington, sebelum dia bunuh diri. Saya pun kut berjumpalitan dengan anak-anak seusia Juang dan Matta, yang 30-an tahun lebih muda dari saya. Pemicunya adalah Somewhere I Belong, yang jelas akan mudah masuk dalam 10 lagu terbaik saya.
Lagu ini penuh energi dan juga tergolong classic rock yang berawal dengan irama tenang namun kemudian melompat keras dengan hentakan kuat untuk menyebar energi yang dashyat. Putra saya, Juang, berpendapat bahwa salah satu alasan saya suka lagu ini adalah liriknya cukup cocok dengan posisi saya sebagai imigran: “I wanna find something I’ve wanted all along… Somewhere I belong…” Mungkin dia benar, tapi jelas tanpa lirik itupun maka Somewhere I Belong amat memukau buat saya.
5. Don’t Let It Show – Alan Parson Project
Saya yakin bahwa orang-orang yang suka lagu ini terkesan pada bagian akhirnya dengan permainan keyboard yang memukau. Tidak biasanya bagian yang paling menarik malah ditempatkan di bagian akhir seperti pada Don’t Let It Show. Dan sepertinya cara itu cukup berhasil menarik perhatian pendengar sehingga orang mendengar sampai habis sambil menanti degan asyik penutup lagu yang memukau itu. Awal lagu ini sebenarnya cukup melankolis namun tetap menarik untuk terus didengar dan pelan-pelan meningkat semangatnya hingga mencapai puncak di ujung lagu.
Ketika saya mulai paham Bahasa Inggris, saya pun menjadi semakin suka dengan lagu ini dengan lirik yang bercerita tentang upaya manusia menghadapi kegalauan hidup sehari-hari: “If it’s getting harder to face every day… Don’t let it show, don’t let it show… Though it’s getting harder to take what they say… Just let it go, just let it go.” Banyak lagu Alan Parson Project yang saya nikmati secara rutin namun Don’t Let It Show yang mampu masuk dalam 10 lagu pilihan.
6. Setengah Tiang Harry Roesli
Bagaimana mungkin menyusun 10 lagu pilihan tapi tak ada Harry Roesli? Pertama kalinya saya mendengar Harry Roesli lewat kelompok Kharisma di jaman SMA ketika gejala vokal group sedang memuncak. Tapi saya baru benar-benar terpukau saat mendengar album Rock Opera Ken Arok, yang nge-rock tapi cinta Indonesia, jadi bukan ke-’Barat-baratan.’ Sekaligus pula kritiknya yang tajam dan berani atas pemerintah yang korup. Lagu yang amat cocok untuk generasi muda 1980-an yang ingin tampil sebagai sosok yang perduli dan tak mau terbawa arus utama Orde Baru yang cuma nurut. Saya merasa mencoba masuk ke dalam golongan anak muda ‘mbalelo’ yang keren. Dan begitulah Harry Roesli menggubah musiknya, aransemennya, dan liriknya: dengan pendekatan ‘mbalelo’.

Setelah Rock Opera Ken Arok, maka praktis semua album Harry Roesli saya ikuti dengan cermat, termasuk berburu album-album yang tidak beredar untuk umum seperti Cuaca Buruk dan Cuaca Masih Buruk atau Jangan Pilih Politisi Busuk. Jelas amat sulit sekali memilih satu dari puluhan karya Harry Roesli, tapi satu yang dengan kuat muncul ke atas adalah Setengah Tiang yang terdengar sebagai balada cinta atas sebuah negeri. Irama dan liriknya amat indah sehingga terasa dalam ke hati dan benak. Liriknya pernah ditampilkan sebagai puisi di ceritanet.com https://ceritanet.com/?p=6884: “Engkau bebas kau merdeka… dan ceritakan pada dunia apa yang engkau alami… oh di sini negeri ini…” Hidup Setengah Tiang Harry Roesli!
7. Consider Me Gone – Sting
Harus diakui bahwa ketika memikirkan 10 lagu terbaik maka rasanya Sting juga harus masuk karena ada masanya saya mendengar secara rutin lagu-lagu Sting album demi album. Namun harus diakui pula bahwa lagu-lagu Sting semacam kehilangan ‘kesaktian’ seiring dengan berjalannya waktu. Kekuatannya seperti terikat dala periode tertentu, jadi hampir sama seperti kebanyakan lagu-lagu pop yang hanya berjaya terbatas pada masanya namun tak cukup kuat untuk menyeberangi lintasan waktu. Bagaimanapun rasanya harus ada jugalah lagu Sting dan saya sempat memilih Seven Days namun akhirnya memilih Consider Me Gone, yang direkam Sting secara live di sebuah kastil di Prancis untuk album Bring On the Night (1986).
Lagu ini ternyata yang paling sering saya dengar dari kumpulan lagu-lagu Sting dan masih terasa tetap memiliki daya yang sama kuatnya ketika dulu pertama kali mendengarnya. Consider Me Gone juga sempurna sebagai campuran padu musik pop, jazz, dan folk dengan iringan terompet Branford Marsalis yang lincah sementara suara Sting masih ‘serak-serak seksi’ namun mampu mencapai nada-nada tinggi yang berenergi.
8. Nine – Dianne Reeves
Inilah lagu terbaru yang masuk dalam 10 lagu terbaik pilihan saya. Dianne Reeves saya kenal, dan juga oleh banyak orang era 1980-an, lewat lagunya Smile dan Sky Island. Sekali waktu, saya ingin membuat playlist dari para penyanyi jazz era 1980-an dan menemukan lagu Nine, yang langsung lengket mendalam di hati dan benak. Irama dan liriknya amat sempurna untuk menggambarkan anak-anak yang bermain riang dengan fantasi yang bebas tanpa batas: “Anna brought a bag of her mama’s cooking spoons… So we could dig a hole and to try to reach China… And get there by early noon…“
Ada juga rujukan tentang Bude Savannah, yang menjadi tempat anak-anak mengadukan keluh kesah dan Dianne Reeves kemudian menutup dengan cerita tentang anak-anak yang rebutan menjadi dokter dan perawat: “I’m the doctor, you’re the nurse… What you mean, I was first…” sebelum mereka bubar untuk pulang ke rumah masing-masing karena tiba saatnya makan malam. Lagu ini adalah sebuah cerita tentang kehidupan anak-anak sehari-hari yang disampaikan dengan irama riang gembira. Dan saya pun selalu merasa riang dan gembira setiap mendengar lagu ini karena ikut terkenang kembali masa-masa kecil bermain dengan kawan-kawan di Medan dulu.

9. When The Cookie Jar is Empty – Michael Franks
Michael Frank adalah vokalis yang muncul pada akhir 1970-an dengan irama dan lirik yang santai, ringan, dan menghibur. Dia langsung menjadi yang ‘harus’ didengar anak-anak muda pada masa 1970-an akhir hingga awal 1980-an. Lagunya yang paling popular, Lady Wants To Know, sampai ditulis oleh Goenawan Mohammad di Catatan Pinggir Tempo sebagai gambaran tentang generasi muda saat itu: yang santai-santai dan tak terlalu perduli urusan-urusan sekitar selain hidupnya sendiri.
Tapi lagu itu, buat saya, terlalu lembut dan saya jauh lebih suka When The Cookie Jar is Empty dengan kocokan gitar yang menggoyang dan lantunan keyboard yang terus mengikuti vokal Michael Franks. Belakangan ketika mulai membaca liriknya, terasa agak aneh untuk selera saya karena liriknya saya pahami tentang bayi yang sedang makan tapi toples kue-nya kosong. Bagaimanapun iramanya dan kekayaan musik pengiringnya sudah terlanjur melekat di hati dan benak.
10. Latin Lovers (Incompatibilidade de Genios) – Joao Basco & Lee Ritenour
Sebagai penggemar berat jazz fusion, Lee Ritenour adalah salah satu gitaris yang cukup penting dalam khasanah musik saya. Sebagian besar musiknya instrumen tapi dia mengolah karya pemusik lain dan menjadi tak kalah populernya seperti Isn’t She Lovely (Stevie Wonder) atau Stone Flower (Antônio Carlos Jobim) dan -yang paling penting buat saya- Latin Lovers (Joao Basco).
Lagu itu asyik dalam memadukan keriangan gitar Lee Ritenour dan improvisasi vokal Joao Basco. Saya suka membuat playlist dari satu komposisi/lagu yang dibawakan oleh beragam pemusik dan sempat gagal mencari improvisasi Latin Lovers sampai akhirnya menemukan judul asli karya Joao Basco ini adalah Incompatibilidade de Genios. Sekarang saya pun sudah ada playlist variasi lagu itu dan jika tertarik mendengar: https://open.spotify.com/playlist/0lsB5zdMWZk3dBHBUkoEUO?si=611d4987d13047f5
***
Liston P Siregar, editor ceritanet.com