di beranda

selarik cahaya singgah di beranda ketika kau tertegun oleh sebuah kata yang purba –seperti terdengar derak patah, sesaat lalu kau memercik, larut pada cuaca

Penulis Edisi 158

BuRuli(bungarumputliar), Guru TK yang magang bertani di Sukabumi Ani Mulyani, sambil bekerja ikut kuliah Jurnalistik di Universitas Moestopo Jakarta. Herry Sudiyono, pernah masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung namun tidak selesai dan menerbitkan buku terjemahan puisi Alejandra Pizarnik. Kini tinggal di Yogyakarta.

senja

senjasesuatu sekejap lengang,dan kaupun risikdengan warna-warna kirmiji maka kelammaka kelam akan pulang kepada mataharidi manaiatiada***

Penulis Edisi 152

Herry Sudiyono, pernah masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung namun tidak selesai dan menerbitkan buku terjemahan puisi Alejandra Pizarnik. Kini tinggal di Yogyakarta. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. T. Wijaya M. bin Bachtiar, pegiat seni dan jurnalis di Palembang.

kafilah 2

di perigi tua kau membasuh wajah.terasa ada yang tanggal meski kau tak tahu apa,meski kau bergegas ke sebuah cuacaada yang tinggal dan terus menyapa…

kafilah 1

Herry Sudiyono di perigi tua kau membasuh wajah –alang-alang berbisik tentang sebuah jejak yang hilang.apakah pulang, kau bertanya, hanya sebentuk erang yang kian memutih?sebilah detik terjatuh dan menepi pada batu yang bermimpi hikayat api.apakah akar perjalanan? kau tecekat ketika udara menusuk-nusuk dengan lengking yang buta. bergegas kita, ucapmu, menyingkir dari rindu yang getir.

testimony

bukankah kau jubah yang tergeletak di kaki beringin ketika si gelandang tua berpesiar ke garba cahaya?(gigil itu telah usai, telah tunai) bukankah kau beringin dengan rima sebuah jeda? bukankah kau…?

lanskap

bangku tamanberbisiksorehujanmenggigilkedinginan

kota tua

di bawah teras sebuah rumah kau mencuri sejumput tawa,ia sebentuk terakota sebuah kota yang tuagraffiti yang seperti hendak…yang tercekat oleh bercak darah dari rejan gelandang tua ingatan, ucapmu, selalu saja akhirnya memutih,menghadirkan yang tak pernah tunai, dan kita akan mudah kecewakarena tak lagi mengerti sampai di mana

ia hanya

Hery Sudiyono ia hanya ingin menaridi lembah (kemarau, ucapmu, akan menghapuskanku)tengah malam ia hanya…