Saya Tidak Mau di Surga Sendirian

T. Wjaya Sama seperti orang Indonesia lainnya, saya miskin. Sama seperti manusia lainnya, saya banyak dosa. Sama seperti semua makhluk di langit, dan di bumi, saya tidak tahu apa-apa. Tapi, saya tidak mau masuk surga sendirian, meskipun itu kehendak Tuhan. Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana hidup abadi di surga sendirian. Hidup dengan kemewahan, dikelilingi bidadari […]

Batu. Lelaki Tamak dari Palembang

T. Wijaya Selama hampir 20 tahun, Batu mengurung dirinya di dalam kamar. Dia menikmati panasnya, dinginnya, lembabnya, dan kebenciannya pada kegagalan. Kegagalan seorang laki-laki, menghadirkan perempuan yang pergi tanpa pernah memberitahu apakah rahimnya sudah dibuahi atau belum. Batu mungkin lelaki yang tamak, dia sudah punya seorang istri dan telah memberinya tiga anak. Tetapi, di kamar […]

Tentang Penulis Edisi 93

Harry Mulyawan,pegawai bank swasta di Jakarta yang gemar menulis. T. Wijaya,pegiat seni yang tinggal di Palembang

Sungai Musi Bukan Pacarku (Mengurai Kegagalan)

T. Wijaya Sungai Musi bukan pacarku. Tapi dia selalu menggodaku. Kulitnya tidak menarik seleraku. Kuning kecoklatan. Tapi setiap saat aroma tubuhnya, kepadaku, selalu mencoba menjelaskan masa lalu dirinya: Disetubuhi keperkasaan Bala Putra Dewa, ditaklukan Dharmawangsa, dirongrong perompak Chang Lien, diagungkan Ki Gede Ing Suro, dan kini entahlah…pabrik-pabrik dan rumah panggung yang nyaris roboh memimpikan karakter […]

Tentang Penulis Edisi 84

Arie MP. Tamba, penyair dan penulis cerpen kelahiran Medan ini kini tinggal di Bekasi. T. Wijaya, pegiat sastra yang tinggal di Palembang. Mia Singgih, tamat dari Fakultas Sastra UI dan kini tinggal di kota kecil Hilperton, Inggris. Senang bercocok tanam, jalan di alam lepas dan nulis puisi. Hayat, sehari-hari bekerja sebagai karyawan di Jakarta dan […]

Tentang Penulis Edisi 78

T. Wijaya, tinggal di Palembang, Maya Maniez, lahir di Jakarta, sekolah di Surabaya, dan sekarang tinggal di Amerika

Beberapa Ponsel Mengajaknya Makan Siang

T. Wijaya. Aku membuka bungkus permen, saat mereka menceritakan ilmu pengetahuan yangmahal. Asap rokok itu menghisapku. Seperti perempuan-perempuan nakal yangmemberiku susu dan nasi bungkus. Permen kutelan. Dingin. Mataku berbeda dengan mata mereka. Bau mulutku pundibenci ketiak mereka. Kami tidak sama di tepi Sungai Musi ini. Dan, aku tidaktahu bagaimana limbah amoniak itu merusak otakku yang […]

Jangan Menunggu

Di sepanjang dapur piring yang kering menghantam kepala anak-anak kita. Kitaanjing hingga subuh. Sekian tahun menunggu, tidak ada yang baru. Habis sudahbatu janji batu. Kita harus pergi seperti matahari di dalam kulkas mereka. Tajamkan piring yang kering agar membara. Dan, tidak lagi menunggu batu janjibatu. Semua tahu kita harus membangunkan mereka pada pukul 4 subuh.2004

Tentang Penulis Edisi 43

T. Wijaya, wartawan dan pekerja seni. Tiga kumpulan puisinya sudah ditebitkan, antara lain Krisis Kamar Mandi (1995). Tinggal di Palembang. Lenah Susianty , pernah di The Jakarta Post dan BBC Siaran Indonesia sebelum jadi ibu rumah tangga sambil penterjemah.

Presiden Shinta – T. Wijaya

Sejak lahir Shinta sudah mempertanyakan soal kematian. Saat itu kereta api sudah mengenal klas eksekutif. Abahnya yang bertugas membersihkan sampah dan mencuci lantai gerbong eksekutif, setiap kali kereta tiba di stasion Kertapati. Jawaban atas pertanyaan Shinta mengenai kematian hanya satu: kemiskinan. Shinta duduk dua jam lebih di ruangan karaoke. Dia tidak masuk kuliah. Sudah sepuluh […]