Dokter Zhivago 35 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. Mereka tak ketemu Anna hidup-hidup. Waku mreeka buru-buru naik tangga ke kamarnya, ia sudah meninggal sepuluh menit yang lalu. Sebab kematiannya ialah serangan asma, akibat busung paru-paru yang akut. Diagnosanya terlambat dibuat. Beberapa jam yang pertama, Tonya menjerit-jerit, memukulkan kepalanya ke lantai dan tak mau […]

Dokter Zhivago 36 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. “Allah Kudus, Kudus dan Jaya, Kudus dan Kekal, kasihanilah kami.” Apa ini? Dimana dia? Orang mengangkat keranda ke luar. Ia harus bangun. Ia tertidur berpakaian lengkap d dipan pada pukul enam pagi. Ia yakin badannya panas. Kini orang mencari dia di seluruh rumah, […]

Dokter Zhivago 34 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. Menjelang pukul dua pagi. Telinga Yura mengiang-ngiang. Tadi ada selingan dengan teh dan petits fours dan kini orang mulai berdansa pula. Tak ada lagi yang mau mengganti lilit-lilin di pohon kalau habis menyala. Yura berdiri tercenung di tengah kamar dansa, memperhatikan Tonya sedang berdansa dengan […]

Dokter Zhivago 33 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. Selama itu Lara duduk di kamar dansa. Ia tak berpakaian malam, pun tak kenal siapapun di situ, namun ia tak pergi-pergi, lalu berdansa walsa dengan Koka seperti orang tidur jalan, ataupun mundar-mandir di kamar tanpa tujuan. Sekali dua kali ia berhenti dan berdiri ragu-ragu di […]

Dokter Zhivago 32 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. Upacara kuno berlaku pada perayaan Natal di rumah Sventitsky. Pukul sepuluh setelah anak-anak pulang, pohon dinyalakan kedua kalinya untuk yang muda dan dewasa; pesta berlangsung sampai pagi. Orang-orang yang lebih tua main kartu semalam suntuk dalam kamar duduk ‘Pompeia,’ terpisah dari kamar dansa […]

Dokter Zhivago 31 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. “Musim dingin itu Yura mempersiapkan karangan tentang susunan urat saraf mata untuk perlombaan Medali Emas di universitas. Walaupun ia hanya berwewenang dalanm ilmu kedokteran umum, iapun hampir mempunyai pengetahuan spesialis tentang fisiologi penglihatan. Minatnya untuk itu berhubungan dengan segi-segi lain dalam wataknya –bakatnyauntuk […]

Dokter Zhivago 30 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. “Jangan sentuh mofku!” Emma Ernestova mengulurkan tangannya hendak membantunya menanggalkan mantel; ia menyambutnya dengan pelbagai ‘O’ dan ‘Ah,’ mengatakan bahwa Victor Ippolitovich sedang keluar, tapi ia hendak menunggu di situ. “Tak mungkin. Aku tergesa. Mana dia?” Ia menghadiri perayaan Natal. Dengan menggenggam secabik kertas yang […]

Dokter Zhivago 29 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. Pekerjaannya pada keluarga Kologrivov tidak menghalangi Lara menamatkan sekolahnya dan mulai berkuliah di Universitas. Ia belajar dengan baik, hingga akan berpromosi tahun depan, tahun 1912. Dalam musim semi tahun 1911 muridnya Lipa lulus sekolah. Ia sudah bertunangan dengan insinyur muda, Friesendank. Keadaannya baik […]

Dokter Zhivago 28 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. Lara tinggal tiga tahun pada keluarga Kologrivov, aman seperti dalam benteng. Tak seorangpun mengganggunya, bahkan ibu serta saudaranya yang menjadi asing terhadapnya, menjauhkan diri dari padanya. Kologrivov adalah usahawan gaya baru yang utama, Ia memandang rendah serta membenci kelas yang sedang merosot itu dengan dendam […]

Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu 6 – Bramantyo Prijosusilo

“Hey, sis, how about a coffee before we go to your flat?” Keith memecah kesunyian. Jagger terhenyak, mobil mereka kini sedang menyusuri satu jalan yang dipenuhi dengan kios-kios di tepinya, tak jauh beda dari kaki lima di Indonesia. “Ini jalan Portobello, Jagger, ingat, aku pernah cerita di London ada jalan seperti jalan Malioboro di Jogja?” […]