Episode Penyair

Amir Ramdhani mengapa penyair bersinar redup? tiba tiba saja semesta jadi hampasegala hampa manusia berubah jadi sepisepi gurau tawanyasepi ocehannyasepi suara hatinya matahari jadi matibulan sekarattapi sebenarnya mati segalanya bermuara pada tapitapiku tapimutapi yang tak pernah bersatudan seharusnya kita satu perahutapi ke mana lagi kubawa engkaujalanan sudah berdebu april, 2004

Tentang Penulis Edisi 95

Mula Harahap,pengelola penerbitan dan pengurus Yayasan Adikarya IKAPI. Amir Ramdhani, mahasiswa Universitas Nasional Jakarta yang aktif menulis puisi sejak SMP

Tentang Penulis Edisi 81

Liston P. Siregar, editor ceritanet, Amir Ramdhani, mahasiswa Universitas Nasional Jakarta yang aktif menulis puisi sejak SMP.Dalipin, tamat dari UGM, jadi wartawan di Detik sampai dibredel dan sekarang tingga di London

Lipstik Plastik Motor

Amir Ramdhani        perempuan itu memolesi jantungnya                                                                             dengan lipstik menyala redup               tembok tembok     menyusun tubuhnya dari batubata masa silam                                    yang berceceran tanpa semen                                                                                                                       lalu seperti plastikplastik hitam                                                                           serupa malam yang dikerandakan                   perempuan itu mengelap tapaktapak lipstik                                                                                    di jantungnya                                                                                        21 april 2004

Makam

sesekali memang harus diam. membuka kembalilaci ingatan masa lampau, lalu meletakkanbeberapa kamper di dalamnyaagar kecoa peliharaanmu tergelepar terkadang ban mobil mesti dikempeskan,ditusuk oleh paku atau diiris dengan golok kejiagar angin lama berganti dengan angin baru tapi perjalananmu belum sampaidan takkan pernah kau temukan tujuantujuan adalah dusta paling laknatsebab apa yang kau genggam saat iniadalah yang […]

Sepasang Mata Dalam Reot Bus Kota

kau datang hanya untuk sialdan siang segera menyambutmudengan tusukan sepasang matadalam reot bus kotadan sepasang mata itu berkuasakepada isi dompetmusekali kau lengahsekali kau terengah-engahsebab sepasang mata itu begitu kompak begitu khianatdengan geliat tubuh begitu licik begitu cerdikdan kecerdikan adalah petaka bagimu12 mei 2004

Keramaian Mengeroyok Kesepianmu

keramaian telah mengeroyok kesepianmumuka-muka penuh murkatembok-tembok yang dekil oleh cipratan piloxtongkrongan-tongkrongan kehilangan napasah, kekonyolan itudan kau cuma gitar bolong terbengongdibungkus cemas “cepat, pergilah!karena kepergian akan cepat menghapus kenangan” setengah mendadak, setengah menjebaktiba-tiba meledaksisanya, asap trotoar begitu pendiam begitu kejam dan kamu sendiriancicak-cicak jatoh dari temboknyamuk-nyamuk oleng sayapnyakeramaian membajak kesepianmumei, 2004

Hutang-hutang Yang Tak Kunjung Tumbang

Amir Ramdhani kugaduhi laci batinmu. sebuah laci yang selaluterkunci. kau meletakkannya di pinggiran got.aku ingin mengkampaki kuncinya dan membakarnyadi atas tumpukan sampah. kugaduhi kardus bengis pembungkus nyawamu.tapi setiap kegaduhan berubah menjadi jebakan.setiap pesan berubah menjadi ancaman. got di mana kau meletakkan laci itu,seperti membangun daerah kekuasaannya sendiriseperti tikus-tikus busukserupa cicak-cicakyang tak tidur menterori nyamuk-nyamuktapi desing […]

Tentang Penulis Edisi 77

Titi Irawati, pegiat HAM yang tinggal di Dili, Timor Lorosae. Ke Timor Lorosae Aku kembali akan diterbitkan dalam kumpulan memoar Keping Kenangan..Amir Ramdhani, mahasiswa Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta yang rajin menulis di Pikiran Rakyat, Jawa Pos dan media masa lainnya. Luqman Hakim, tinggal du Surabaya dan pernah mendapatkan peringkat III nasional dalam pekan seni mahasiswa […]