Dokter Zhivago 16 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru Yang masuk itu orang gemuk dengan kemeja Tolstoy dan ikat pinggang kulit yang lebar, sepatu but dari vilt dan celana yang melembung ditentang lutut. Rupanya seperti orang yang baik hati, tapi sebuah ‘prince-nez’ dengan pita hitam lebar bergerak ganas di ujung hidungnya. Ia telah mencopot […]

Tentang Penulis Edisi 16

Myra Sidharta, psikolog yang tinggal di Jakarta dan penulis lepas di sejumlah media. Nenek empat cucu. Maya Susiyani, tamatan Humas dari STIKOSA-AWS Surabaya. Kini jadi Kepala pemberitaan Radio Mercury Surabaya. Sutrisno Budiharto, aslinya Wonogiri dan sempat kuliah di Yogyakarta tapi belum rampung sudah bergabung dengan Kedaulatan Rakyat, pindah ke Harian Surya, dan sekarang di Radar Solo. Pernah dihajar massa Golkar […]

Akhirnya – Sutrisno Budiharto

Pada akhirnya kita adalah sampahseperti kentut yang selalu dicampakkanseperti kencing yang harus disingkirkanseperti tinja yang harus dibuangseperti limbah-limbah yang selalu di-sia-sia-kan Pada akhirnya kita adalah sampahBuat apa pusing memaniskan diriMenyepuh nama dengan emas segala:padahal malaikat tak bisa ditipu Pada akhirnya kita harus menyerahkemanapun berlarisetinggi apapun membangun mimpiakan luruh juga nantinyaharus berlutut juga akhirnyaseperti daun yang […]

Tanah Air dan Presidenku – Sutrisno Budiharto

Sesungguhnya…aku sangat ingin mencongkel mata kalianyang terhormat para hebatagar kalian bisa melihat lagibahwa tanah airku, tanah airmubukan hanya Indonesiatanah air sejatiku lebih luas dari jagad raya Sesungguhnya…aku juga ingin merobek lebar-lebar telinga kalianyang mengaku pahlawan rakyatagar kalian bisa mendengar lagibahwa presidenku, presidenmubukan hanya Soekarno, Soeharto, Habibie atau Gus Durpresiden sejatiku adalah penguasa segala alam Namun […]

Kota Mati – Sutrisno Budiharto

Kotaku telah mati, kawansisa kilau lilin Sukowati-kuyang kemarin masih indah, kini telah padamterlindas angin busuk menikam perut Kotaku telah mati, kawanharapan apa lagi yang masih bisa digapaibila hukum dan demokrasi hanya jadi kata basa-basi Kotaku telah mati, kawanbermimpi pun rasanya tak kuasa lagisebab, kebenaran tinggal menjadi patung-patung bisuyang dikangkangi para mayat Kotaku telah mati, kawancerita […]

Cina-nya Indonesia – Liston P Siregar

Waktu masih SD di Medan, masa awal 1970-an, Mamak punya tukang jahit langganan. Orang Cina tua berkaca-mata tebal dan selalu pakai celana piyama garis-garis biru tua. Kadang dia pakai baju piyama juga, tapi lebih sering pakai kaus kutang putih, yang kalau diingat-ingat lagi sekarang aku yakin merk Swan. Tokonya di Kampung Keling –namanya memang Kampung […]

Sekali Lagi, Tionghoa Atau Cina – Myra Sidharta

Pada masa ini, soal Tionghoa atau Cina merupakan hal yang mubazir dan sekaligus sepele bagi saya. Bukankah ada begitu banyak hal-hal yang jauh lebih penting dan lebih aktual untuk dibahas? Mundur atau tidaknya Gus Dur, Imlek sebagai hari Nasional, pencabutan TAP-TAP yang ternyata berjumlah 62 butir, bukankah semua ini jauh lebih penting? Ada apa lagi […]

Mimpi Administrasi Saya – Maya Susiani

Saya pernah bermimpi, semua urusan administrasi, terutama yang berhubungan dengan instansi pemerintah Indonesia, bisa cepat, murah dan tidak ada calo.Saya memang bukan orang yang sangat teramat sibuk, yang terasa membuang waktu kalau terlibat urusan itu. Tapi juga bukan orang kaya raya, yang bisa membayar jasa seseorang untuk mengurus tetek bengek administrasi. Saya cuma ingin semua […]