Kotaku telah mati, kawan
sisa kilau lilin Sukowati-ku
yang kemarin masih indah, kini telah padam
terlindas angin busuk menikam perut

Kotaku telah mati, kawan
harapan apa lagi yang masih bisa digapai
bila hukum dan demokrasi hanya jadi kata basa-basi

Kotaku telah mati, kawan
bermimpi pun rasanya tak kuasa lagi
sebab, kebenaran tinggal menjadi patung-patung bisu
yang dikangkangi para mayat

Kotaku telah mati, kawan
cerita tentang apa lagi yang bisa dibangun
bila Merah-Putih itu hanya dikibarkan barisan mayat,
mayat-mayat yang takut lapar,
mayat-mayat yang takut kehilangan darah,
mayat-mayat yang takut mati.

Kotaku telah mati, kawan
tapi aku tak boleh mati
sebab aku tetap ingin mengibarkan Merah-Putih-ku, walau hanya dalam hati

Kotaku telah mati, kawan
tapi kita tak boleh menguburkan diri
peluklah aku, kawan
dan mari kita nyanyikan Indonesia Rasa bersama
di tempat yang tak mati.
***
Sragen Kulon, Mei 2001

Sutrisno Budiharto, bekerja dan berkarya di Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *