Osip Mandelstam, Kata Yang Gagal Dimusnahkan – Sitok Srengenge

Catatan, edisi 404 Juli 2026 Pada malam-malam tertentu di Moskwa awal 1930-an, banyak orang berbicara dengan suara yang lebih lirih daripada desir tirai jendela. Bukan karena mereka sedang membahas rahasia negara. Mereka sedang membicarakan puisi. Di sebuah apartemen sempit berlampu redup, beberapa orang duduk rapat. Tidak ada mesin tik. Tidak ada kertas dan pena. Hanya […]

Kepala Kerbau – Muhammad Asqalani eNeSTe

-sebuah Tradisi Semah Rantau Puisi, Edisi 403 Juni 2026 kerbau jantan itu telah hening,menyatu dengan niat mendarah daging,orang-orang Tanjung Beringin. hujan sepanjang luan, piaw-piaw terus melaju,menghulu kepala kerbau, calempong bertalu-talu,basah adalah berkah, di badan menyarung tuah. hanya ada lubuk,hanya pada lubuk,piaw-piaw tak terantuk, sholawat serentak khusuk,      kepala tegak menunduk, dada cegak pun rasuk.amin ke amin, disesap […]

Vimshati Varshani – Alexander Robert Nainggolan

– asrina novianti Puisi, edisi 401 April 2026 1.bukankah aku acap meluruh ketika dirimu menjauh, saat bujangku menghilang di balik gaunmu. dan setiap pelukan atau genggaman tangan adalah bahasa yang beternak. kita yang muda, riang dalam mamah-biak rencana.“jangan takut, selama bersama,” dan kuhabiskan lagi seluruh rindu. bahkan saat musim hujan datang menjemput– kerap ada rentang […]

Hantu-Hantu Membawa Makanan – T. Wijaya

Puisi, edisi 398 Januari 2026 Akhirnya saya menangis bersama ibu di Bukit Barisan, sebab laut di langit merindukan Merapi, Singgalang, Talamau, Sinabung, dan Leuser. Tubuh-tubuh leluhur menjadi lumpur dan pohon-pohon dipaksa mati. Hantu-hantu membawa makanan, sisa pesta dari panggung organ tunggal. Kuasanya memaksa Tuhan menyingkirkan ilmu pengetahuan dan daftar panjang kematian. Mulutnya dipenuhi merkuri dan […]

Natal – Wiwit Atra Putra

Puisi, edisi 397 Desember 2025 Pernah kugantung harapanseperti mekar randudi musim dingin. Sedang udara bergetardi ruang lengang,sebelum sumbu sejarahhangus tinggal rangka. Barangkali, rindu dan jarum waktu,akan memutar kembali kenanganyang menyimpan kepedihan. Kemudian malaikat tak bernamaakan menyelimuti kelam malamku,dengan sayap kasih yang tak terdengar. Luka yang membeku di salib kayu itu,berdenting lembutdi hati yang senantiasa menanti suatu penebusan. […]

Sebelum Keyakinan – Radja Sinaga

Puisi, edisi 397 Desember 2025 yang tersisa di sini mungkinbagaimana kau menjadi suara satu-satunya kukenaliseperti adzan magrib yang senantiasa menyeret ke pelukan ibu layaknya masa depan adalah kabutsangsi jalan tak bertujuanhanya gamang yang teronggokdan tanganmu jadi tunggal untuk meraba dunia aku tak perlu agama di sinibeserta tuhan yang beda penyebutanhanya kehancuran diajarkankecuali tatapanmu yang lebih […]

Kereta – Rakha Swastara

Puisi, edisi 396 November 2025  Ia diam,seperti logam putihyang pernah dilukisjam enam pagi.Tak ada rel.Hanya garis mejayang retaksejak sendoktak jadi dipakai. Pernah ia berlarimelewati sepatu,melewati punggung kursi,menyusup ke lautdari sepreidan dengusseorang masinis kecil. Kini roda ituberputar pelan,oleh angindari jendela. Bukan tangan.Bukan suara. Di bawah ranjangia bersandarpada bonekayang kehilangan mata. Seseorang pernahmenaruhnya di situ,dan lupa berkata:aku […]

Bapak (1) – Palito

Puisi, edisi 392 Juli 2025 bapak, di kehidupan malam selasa iniada taring waktu mencabik jantung katayang kau jahit ke lubang dadaku,tapi direbut paksa dari piring nasihat,belum sempat kulahap tandas, sudah disergap kawanan laparyang mengendus kelemahanku,sementara matamu tak lebih dari batu nisan,dingin, beku, tak melihat bahwa aku kehilangan separuh tubuhku. bapak, di garis hidup yang kaugoreskan dengan telunjukmu itu,belum […]

Tangga Menuju Dalam Diri –  S. Sigit Prasojo

Puisi, edisi 392 Juli 2025 Ada tanggadi dalam pikiranku,menurun ke ruangyang tak pernah bisa kusebut “aku”. Tangga itu tidak bertingkat—hanya gelap dan gemadari langkah-langkahyang sudah terlalu lama hilang bunyinya. Aku turun,bukan karena ingin tahu,tapi karena terlalu lelahberpura-pura utuh di atas.***Ponorogo, Juni 2025 Bayangan  Lampu sudah kupadamkan,tirai sudah kututup,tapi bayangan itu masih ada,berdiri tepat di tengah […]

Membayangkan Hilirisasi – A. Dion Laèp

Puisi, edisi 391 Juni 2025 benarkah jalan kitamengitari garis kurva? pagi belum terbuka. tapi sejumlah pertanyaantelah berdesakan di warung kopi;apa gunanya Menteridi negeri yang katanya demokrasi? perlahan, bulan tampak memar. setelah segalanya dicemari,apa yang berharga di negeri ini? sebentar lagi,embun akan diisap matahari. barangkali pada suatu hari,hijau hanya ilusijika yang tersisa hanya warna sepiapada kata-kata.2025 […]