Puisi, edisi 392 Juli 2025
Ada tangga
di dalam pikiranku,
menurun ke ruang
yang tak pernah bisa kusebut “aku”.
Tangga itu tidak bertingkat—
hanya gelap dan gema
dari langkah-langkah
yang sudah terlalu lama hilang bunyinya.
Aku turun,
bukan karena ingin tahu,
tapi karena terlalu lelah
berpura-pura utuh di atas.
***
Ponorogo, Juni 2025
Bayangan
Lampu sudah kupadamkan,
tirai sudah kututup,
tapi bayangan itu masih ada,
berdiri tepat di tengah pikiranku
seperti bekas luka
yang tak terhapus dalam tidur.
Aku mencoba bicara padanya,
tapi ia tidak menjawab.
Ia hanya menatap
dengan mata yang mirip milikku
tapi lebih dalam,
lebih gelap,
dan lebih tahu
apa yang sebenarnya kucari.
***
Ponorogo, Juni 2025
Detak Berdarah
Jam dinding di kamar ini
tidak lagi berdetak—
tapi setiap kulirik,
ada titik merah
yang mengalir pelan
dari angka dua belas ke enam.
Waktu sudah mati,
tapi ia tetap berdarah,
karena ada hidup
yang dipaksa terus berjalan
tanpa arah.
Kadang aku ingin menghancurkannya,
tapi tangan ini terlalu terbiasa
mengerti kesakitan
tanpa pernah benar-benar
melawan.
***
Ponorogo, Juni 2025
S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media. Ia juga meraih banyak kejuaraan kepenulisan tingkat nasional dan aktif di komunitas Partey Penulis Puisi.