Federico Garcia Lorca, Gema Flamenco, dan Kebangkitan Duende – Sitok Srengenge

Catatan, edisi 406 September 2026 Fajar 19 Agustus 1936 belum sempat menyentuh perbukitan, antara Víznar dan Alfacar, dekat Granada, ketika letusan-letusan senapan memecah keheningan. Di sebuah lereng yang hingga kini tak pernah dapat dipastikan letaknya, seorang penyair berusia tiga puluh delapan tahun roboh bersama beberapa tahanan lain. Tak ada pengadilan. Tak ada nisan. Hanya tanah […]

Kepala Kerbau – Muhammad Asqalani eNeSTe

-sebuah Tradisi Semah Rantau Puisi, Edisi 403 Juni 2026 kerbau jantan itu telah hening,menyatu dengan niat mendarah daging,orang-orang Tanjung Beringin. hujan sepanjang luan, piaw-piaw terus melaju,menghulu kepala kerbau, calempong bertalu-talu,basah adalah berkah, di badan menyarung tuah. hanya ada lubuk,hanya pada lubuk,piaw-piaw tak terantuk, sholawat serentak khusuk,      kepala tegak menunduk, dada cegak pun rasuk.amin ke amin, disesap […]

Paru-Paru Kota – Indriea

Puisi, edisi 399 Februari 2026 jalan ini seolah tak berujung,tak mengingatkankupada jejak masa lalu mana pun.di simpang empat aku menemukan bayangan manusiatiang-tiang listrikmemanggul kabel,janji, harapan. ada asap jatuhdi atas aspal. deru mesintubuh berdesaksaling sikutterburu-buru di kejauhanderetan papan iklan. ibu memaki anaknyalelaki menyumpahi kemacetansedang seorang gadiskeluar dari dalam layar. jalan initak membawakuke mana pun. seseorang berdiridi jembatan […]

Hantu-Hantu Membawa Makanan – T. Wijaya

Puisi, edisi 398 Januari 2026 Akhirnya saya menangis bersama ibu di Bukit Barisan, sebab laut di langit merindukan Merapi, Singgalang, Talamau, Sinabung, dan Leuser. Tubuh-tubuh leluhur menjadi lumpur dan pohon-pohon dipaksa mati. Hantu-hantu membawa makanan, sisa pesta dari panggung organ tunggal. Kuasanya memaksa Tuhan menyingkirkan ilmu pengetahuan dan daftar panjang kematian. Mulutnya dipenuhi merkuri dan […]

Selat – A. Dion Laèp

Puisi, edisi 398 Januari 2026 laut tidak biru malam ini. bau besi terhidudari sauh, dari rantai,juga dari nama yang lepas. di sini, arus menulis namanya sendiripada lambung, pada tulang,juga pada harga yang ditawar di pelabuhan. tapi jangkar berkarat itumasih tersimpan nama-nama. mercusuar menyala,di antara gelap harapannasib para nelayan. di sini, sepanjang ombak berdebur,juga selagi tembang […]

Natal – Wiwit Atra Putra

Puisi, edisi 397 Desember 2025 Pernah kugantung harapanseperti mekar randudi musim dingin. Sedang udara bergetardi ruang lengang,sebelum sumbu sejarahhangus tinggal rangka. Barangkali, rindu dan jarum waktu,akan memutar kembali kenanganyang menyimpan kepedihan. Kemudian malaikat tak bernamaakan menyelimuti kelam malamku,dengan sayap kasih yang tak terdengar. Luka yang membeku di salib kayu itu,berdenting lembutdi hati yang senantiasa menanti suatu penebusan. […]

Sebelum Keyakinan – Radja Sinaga

Puisi, edisi 397 Desember 2025 yang tersisa di sini mungkinbagaimana kau menjadi suara satu-satunya kukenaliseperti adzan magrib yang senantiasa menyeret ke pelukan ibu layaknya masa depan adalah kabutsangsi jalan tak bertujuanhanya gamang yang teronggokdan tanganmu jadi tunggal untuk meraba dunia aku tak perlu agama di sinibeserta tuhan yang beda penyebutanhanya kehancuran diajarkankecuali tatapanmu yang lebih […]

Kereta – Rakha Swastara

Puisi, edisi 396 November 2025  Ia diam,seperti logam putihyang pernah dilukisjam enam pagi.Tak ada rel.Hanya garis mejayang retaksejak sendoktak jadi dipakai. Pernah ia berlarimelewati sepatu,melewati punggung kursi,menyusup ke lautdari sepreidan dengusseorang masinis kecil. Kini roda ituberputar pelan,oleh angindari jendela. Bukan tangan.Bukan suara. Di bawah ranjangia bersandarpada bonekayang kehilangan mata. Seseorang pernahmenaruhnya di situ,dan lupa berkata:aku […]

Bapak (1) – Palito

Puisi, edisi 392 Juli 2025 bapak, di kehidupan malam selasa iniada taring waktu mencabik jantung katayang kau jahit ke lubang dadaku,tapi direbut paksa dari piring nasihat,belum sempat kulahap tandas, sudah disergap kawanan laparyang mengendus kelemahanku,sementara matamu tak lebih dari batu nisan,dingin, beku, tak melihat bahwa aku kehilangan separuh tubuhku. bapak, di garis hidup yang kaugoreskan dengan telunjukmu itu,belum […]

Tangga Menuju Dalam Diri –  S. Sigit Prasojo

Puisi, edisi 392 Juli 2025 Ada tanggadi dalam pikiranku,menurun ke ruangyang tak pernah bisa kusebut “aku”. Tangga itu tidak bertingkat—hanya gelap dan gemadari langkah-langkahyang sudah terlalu lama hilang bunyinya. Aku turun,bukan karena ingin tahu,tapi karena terlalu lelahberpura-pura utuh di atas.***Ponorogo, Juni 2025 Bayangan  Lampu sudah kupadamkan,tirai sudah kututup,tapi bayangan itu masih ada,berdiri tepat di tengah […]