Puisi, edisi 398 Januari 2026
laut tidak biru malam ini.
bau besi terhidu
dari sauh, dari rantai,
juga dari nama yang lepas.
di sini, arus menulis namanya sendiri
pada lambung, pada tulang,
juga pada harga yang ditawar di pelabuhan.
tapi jangkar berkarat itu
masih tersimpan nama-nama.
mercusuar menyala,
di antara gelap harapan
nasib para nelayan.
di sini, sepanjang ombak berdebur,
juga selagi tembang para leluhur
mampu menjadi instrumentalia
bagi segala kecemasan,
maka perahu tak akan
takluk dalam pelayaran.
***
2025
Déjà Vu
seperti yang kau rasakan kembali,
dingin darah di kulit sejarah.
hari-hari adalah hari terkutuk,
menelusuk pada merah jantungmu,
hingga beku, pahlawan tak dikenal itu.
86.400 detik kemudian,
waktu melesat semacam peluru,
mengarah ke berbagai penjuru.
sedang bayang-bayang mengetam,
di antara nasib sembilu.
karena inti dari kemerdekaan
adalah anti terhadap perbudakan.
dan ini bukan yang pertama,
maka luka perlu mencatatnya.
***
2025
Balada Buah Belladonna
sebutir biji
masih bertahan
meski kulit terbelah.
serat turun,
batang bercabang
seperti bayang-bayang.
pada satu simpul,
sari-sari muncul
sebentar.
sisa bunga mengendap,
hitam mengetam.
buah jatuh,
satu bunyi
terdengar.
dekat batu,
kulit tetap utuh
tanpa bekas gigitan.
hari pun lewat
dan hujan datang
hingga buah menyusut;
tinggal pahit kenangan
yang mekar dalam ingatan.
***
2025
A. Dion Laèp, Lahir di Pulau Garam, Jawa Timur. Menulis di beberapa media. Saat ini sedang menyiapkan buku puisinya, Peluru untuk Kekasih yang Berhati Merah.