Puisi, edisi 397 Desember 2025

Pernah kugantung harapan
seperti mekar randu
di musim dingin.

Sedang udara bergetar
di ruang lengang,
sebelum sumbu sejarah
hangus tinggal rangka.

Barangkali, rindu dan jarum waktu,
akan memutar kembali kenangan
yang menyimpan kepedihan.

Kemudian malaikat tak bernama
akan menyelimuti kelam malamku,
dengan sayap kasih yang tak terdengar.

Luka yang membeku 
di salib kayu itu,
berdenting lembut
di hati yang senantiasa menanti 
suatu penebusan.

Dan suara yang jatuh dari hatiku
barangkali adalah selamat datang
bagi yang lahir di palung malam.
***
2025

Banjir

Sebab bukit ini kau kikis pelan-pelan
kau gadaikan tanah warisan
hingga angin kehilangan jalannya
dan debu menutup hidung kami

Sebab hutan yang dulu rimbun
kau ubah menjadi halaman pabrik
lalu kau suruh kami percaya
bahwa semua ini kemajuan.

Maka mata air yang biasa kami datangi
kini menyisakan karatan besi

Jerit demi jerit pun menembus pagi,
selain rumput yang kian menipis
di bawah tapak kaki.

Lantas, mengapa tanah menjadi keras
mengapa langit memar warna abu
mengapa serulingnya tak lagi
mengalun-merdu?

Kami pun turun menuju lembah
menumpang teduh di kandang tua
melawan dingin yang menggigit kulit
meski tak ada yang memberi tahu, mengapa?
***
2025

Simulakra

Gigi malam menggigit langit,
hingga hujan menetes 
dari kantung musim,
menuju ruas waktu.

Dan kaca pecah sendiri,
jarum jam tersedak di dinding,
sedang kota menelan langkahku,
tanpa suara, tanpa arah ke mana?

Di sini,
aku memungut bayangmu,
seperti serbuk besi,
yang berselubung pada udara,
sebelum detik lepas,
dan kita, ada untuk menderita?
***
2025

Perjamuan Para Penafsir

Di Basrah,
tinta baru ditumpahkan 
pada meja kayu,
seolah bahasa pun tak sanggup
menahan beban makna.

Al-Jahiz tiba,
menulis suatu teologi.
Lalu muncul Al-Asy’ari,
merapikan jubah seperti hendak sidang.

Sedang di belakang,  
menyusul Al-Maturidi,
membawa gulungan argumen
yang lebih panjang dari malam.

Bagaimana kabar sifat-sifat Tuhan?
tanya Al-Jahiz sambil meniup tinta.

Al-Asy’ari mendesah,
setelah kuanya, apakah kau berdiri
bersama zat atau hanya nama?
ia menjawabnya, manusia terlalu banyak menafsir
sesuatu yang biasa-biasa saja.
Al-Maturidi tersenyum sedikit,
yang hakiki itu, memang
tak pernah suka dijepit definisi.

Pelayan datang membawa
nampan berisi tujuh botol kaca,
masing-masing berlabel;
kuasa, ilmu, iradah, kalam,
metafora macam apa ini?
seru Al-Asy’ari.

Pelayan menunduk sopan,
tidak berbahaya, tuan.
ini barang pesanan
yang diperdebatkan.

Kami tak tahu harus minum yang mana,
kata Al-Jahiz, sambil memutar botol ilmu.
***
2025

Wiwit Atra Putra, tinggal dan aktif di Joglo Kopi, dan Komunitas Ampas, Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, esai, dan resensi. Saat ini mempersiapkan buku puisinya, Ritual di Meja Kopi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *