Puisi, edisi 399 Februari 2026

jalan ini seolah tak berujung,
tak mengingatkanku
pada jejak masa lalu mana pun.
di simpang empat

aku menemukan 
bayangan manusia
tiang-tiang listrik
memanggul kabel,
janji, harapan.

ada asap jatuh
di atas aspal.

deru mesin
tubuh berdesak
saling sikut
terburu-buru

di kejauhan
deretan papan iklan.

ibu memaki anaknya
lelaki menyumpahi kemacetan
sedang seorang gadis
keluar dari dalam layar.

jalan ini
tak membawaku
ke mana pun.

seseorang berdiri
di jembatan penyeberangan
menatap ponselnya.

di persimpangan lain
seseorang terdiam,
jaketnya usang
ia mirip patung kota.

seorang buruh
menghitung jam kerja
dan cicilan.

seseorang menelepon
rumahnya
di kampung

“kata orang di sana
di desa
sawah sudah
jadi perumahan”

aku memesan kopi
mengunyah roti.

gerobak itu
mencuci tangan
di ember
penuh jelaga 

kubayangkan
keringat manusia
di jalan ini
masuk ke tubuhku.
***
2026

Ritus Senyap

sekian jejak
yang kau ukir di dada angin
kuseka dengan bayangan mimpi
menjelma kedipan cahaya
berkelebat menua,
menelusuri celah waktu
mengumpulkan serpih tanya
pada diam yang terpapar,
pada gerak yang tak berakar
dari hasrat yang tak terucap,
tak sampai pada muara,
tak tiba pada sebab.

sementara nurani
tak sudi terlelap
oleh hampa yang tak berbagi.
getar menyapa sunyi,
merangkai embusan jadi nada;
lalu dengan takzim,
kusimpan di palung sukma.
lentur karena kepekaan,
tertapis oleh dahaga sejati;
lahirlah paham, rasa
jiwa pun berlagu.
sebuah jeda
akhiri gema bimbang,
bening embun pagi.

maka sungguh,
kita adalah satu
dalam setiap alir udara.
tak terhapus bisik kalbu,
senantiasa ada
walau kata membisukannya jadi makna.
terkurung dalam labirin sangka,
memudar jadi gelora
rinduku yang membara,
bahkan pada bayang tak sampai.
sebelum sampai pada ‘mengerti’,
ia telah berdiam di relung ingatan.
***
2026

Balada Tanah Gundul

masih mengucur di sini, 
getah pohon, akar yang terlepas
di luar, tanah bernanah, tercekik urat kawat, 
dan angin menghembus debu perih
dari mulut cerobong yang kelewat letih.

masih tersisa di sini, jejak ban di jalan aspal 
menakar untung di pasar malam,
menukar senyum pada etalase,
menumbuk janji kosong.

kubelah hati murni di antara ilusi gedung,
serta bayang wajah para leluhur, 
sebelum di luar matahari menguning
dalam gulungan karung sampah, 
dan kicau burung lerai sejak pagi.

masih tuli dinding ini, dari rintihanmu yang purba,
bau busuk di lubang-lubang, membuat mimpi kian karam
setelah rahim ini dijarah, sedalam hasrat yang tiada ujung.
di tengah arus yang menegang, 
masih kuingat di sini, segala yang disebut masa lalu
yang mungkin tak mampu kau sentuh sebagai sebuah kebenaran.

sebab selangkah ke dalam pengakuan,
teresap pahit nasib sendiri, sebagai lambang,
kekalahan yang terus membayang tanah pertiwi.
***
2026

Indriea, Menulis puisi dan prosa. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *