Puisi, edisi 396 November 2025
Ia diam,
seperti logam putih
yang pernah dilukis
jam enam pagi.
Tak ada rel.
Hanya garis meja
yang retak
sejak sendok
tak jadi dipakai.
Pernah ia berlari
melewati sepatu,
melewati punggung kursi,
menyusup ke laut
dari seprei
dan dengus
seorang masinis kecil.
Kini roda itu
berputar pelan,
oleh angin
dari jendela.
Bukan tangan.
Bukan suara.
Di bawah ranjang
ia bersandar
pada boneka
yang kehilangan mata.
Seseorang pernah
menaruhnya di situ,
dan lupa berkata:
aku akan kembali.
Lalu malam datang
dengan langkah
yang tak seperti
kau bayangkan.
Tak ada gempa.
Tak ada parit.
Hanya mainan
yang pelan-pelan
jadi kabel
hampir putus.
***
2025
Kucing
Melintas di halaman,
Menyentuh rumput
Yang belum kering.
Ada sisa suara hujan
Di tapak kecilnya.
Dari jendela,
Seorang tua memanggil,
Tapi ia menoleh
Ke arah lain —
Ke kursi kosong,
Ke mangkuk
Yang menunggu, diam.
Bulu punggungnya
Menampung warna surga,
Yang perlahan berubah neraka.
Matanya:
Sepasang luka
Yang tak memilih arah
Ia berhenti
Di ambang pintu,
Dan dunia pun menahan napas.
Di dalam dadanya
Berdenyut sesuatu
Yang tak bernama.
Lalu pergi,
Tanpa suara,
Meninggalkan bau tanah
Dan malam
Yang tak selesai.
***
2025
Capung
Ia turun perlahan,
Melewati poplar kuning,
Menyentuh udara seperti suara
Yang pernah dibacakan langit
Pada hari keempat belas,
Sehabis hujan.
Langkah-langkah diseka
Oleh sepatu tentara.
Seseorang menunduk,
Membetulkan lipatan jas
Dan lupa memberi salam
Pada tuhan.
Ia melayang
Di antara kedai minum
Dan loteng hangus.
Ada anak kecil
Menutup matanya
Karena tak ingin
Jadi angka.
Di dekat museum,
Lampu jalan menirukan warna bulan
Yang tertinggal di koran pagi.
Tuak disimpan
Dalam kaleng biskuit.
Seekor burung
Mematuki sisanya.
Ia berputar,
Seperti suara kanker
Di dalam perut nenek peri
Yang sedang berdoa.
***
2025
Rakha Swastara, lahir 16 Agustus, tinggal di Jakarta Selatan.