Puisi, edisi 392 Juli 2025

bapak, di kehidupan malam selasa ini
ada taring waktu mencabik jantung kata
yang kau jahit ke lubang dadaku,
tapi direbut paksa dari piring nasihat,
belum sempat kulahap tandas, 
sudah disergap kawanan lapar
yang mengendus kelemahanku,
sementara matamu tak lebih dari batu nisan,
dingin, beku, 
tak melihat bahwa aku kehilangan separuh tubuhku.

bapak, di garis hidup yang kaugoreskan 
dengan telunjukmu itu,
belum sempat kuhafal batas sepadan,
sampai di mana tulang-tulang doa harus kubeton,
agar tak remuk diterjang badai kenyataan,
yang aku hantarkan dengan rakit luka,
tapi karam sebelum sempat bersandar
di dermaga dadamu.
***
2025

Bapak (3)

bapak, bayangan yang nyangkut di leher 
waktu 
tak pernah benar-benar mati,
hanya membangkai di sudut mataku.

padahal aku tahu,
bapak bukan angka yang bisa kuhitung,
bukan detik yang siap singgah.
bapak hanya jeda—
sekelebat sunyi sebelum pukulan meja.
***
2025


Palito, lahir di Kabupaten Padang Pariaman tahun 2001. Lulusan S1 Bimbingan dan Konseling (BK) di Universitas PGRI Sumatra Barat (UPGRISBA), 2023. Aktif menulis dan terus mengeksplorasi gaya yang membawa pembaca ke ruang-ruang refleksi sosial dan eksistensial. Karya-karyanya tersebar di berbagai media daring. Bisa dihubungi di Instagram: @paa_litoo.

One Response

  1. Walaupun hanya sedikit yang aku paham dari puisinya, tapi aku tau isinya dalam banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *