Puisi, edisi 391 Juni 2025

benarkah jalan kita
mengitari garis kurva?

pagi belum terbuka.

tapi sejumlah pertanyaan
telah berdesakan di warung kopi;
apa gunanya Menteri
di negeri yang katanya demokrasi?

perlahan, bulan tampak memar.

setelah segalanya dicemari,
apa yang berharga di negeri ini?

sebentar lagi,
embun akan diisap matahari.

barangkali pada suatu hari,
hijau hanya ilusi
jika yang tersisa hanya warna sepia
pada kata-kata.
2025

hanya ilusi retak,
menapaki tepi
ruas angan.
2025

di antara bayang-bayang
yang belum selesai mengintai,
aku hanya ingin pulang
pada laut biru,
tempat segala kenangan
berhamburan sepanjang waktu.

badai yang menggema adalah kegelisahan
bagi setiap pemeluk harapan di atas sampan.

kuputuskan untuk pulang hari ini,
semata agar dapat berlayar kembali,
mengikuti peta dalam hati sendiri.
2025

A. Dion Laèp, lahir di ujung timur pulau garam. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *