Dokter Zhivago 17 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru Jalan Petrovka nampak seperti sesudut Petersburg yang kesasar di Moskow. Rumah-rumah yang berhadap-hadapan di kedua segi jalanan, pehiasan tenang di semua fasade, toko buku, perpustakaan, si karikaturis, si penjual tembakau yang baik budi, restoran yang menyenangkan dengan pintu depan yang di kanan kirinya ada dua […]
Wings – Abraham Juang
If I had wings I would touch The wet drips of the rain. If I had wings I would tasteThe bright stars. If I had wings I would gaze At the very light and bright sunset. If I had wings I would dreamOf floating in space and flying On the sea.*** Mouth Mouth that snap Mouth with teethMouth […]
Tentang Penulis Edisi 17
Sitok Srengenge, kini ikut mengelola jurnal kebudayaan Kalam. Kumpulan tiga antologi puisinya yang terbaru sudah diterbitkan ; Kelenjar Bekisar Jantan, Anak Jadah, dan Nonsens. Aktif membantu AJI waktu pembredelan Tempo, Detik dan Editor di jaman Suharto dulu. Maria Pakpahan, anak antropologi UGM yang menjadi pegiat perempuan dan mengambil program MA Development Studies ke Institute of Social Studies, Belanda. […]
Mata Danau – Sitok Srengenge
Segenang danau dan sebersit meteor,sebentang risau bangkit dalam paspor Selengang kau dan sebait metafor,segamang mau si troubador dari burit ekuator Setelah anggur dan musik dan malam rebah,ada yang berangsur mengusik dan kita saling jamahSebagai hutan perawan kau kurambah sampai semak tersibak, bebukit basah menahan gelegak arus bawah tanah Bagai burung terbang dari seberang lautan, di belukar keterasingankukerkau sumber kicau, […]
Fatamorganisma – Sitok Srengenge
Jari-jari musim yang jail menggramul pinggul seorang gadis kecil , kupu yang gemetar menunggu angin lewat menuju Buchenwald Aku menahan kesiur jantung, di balik punggung patung yang dipancung, di depan gedung pemerintah yang hancur disatroni amarah para penganggur Seketika kota menjelma seorang lelaki apak dengan jambang dan jenggot selebat semak, kusut masaidan padangnya samun matahari sore Angin datang berisikmengosak-asik rambutnya yang penuh kersik, menyurukkan kenang pada […]
Menoleh Ke Belakang – Maria Pakpahan
Menoleh ke belakang, lewat satu winduMenoleh lewat bahu, mencari jemari yg bebas lancang menyapa rambutkuMendapati senyum lepas, bersahabatJengah aku di atas tangga sekolah kitaTerpaku, seakan bertemu malaikatBayangkan malaikat sekolah pasca sarjanaApa surga kekurangan ilmu ?Benakku bertanya, hatiku bersyukur Menoleh ke belakang, lewat sudah abad laluMenoleh pada musim dingin utara , duniamuMendapati aroma kopi dan vivaldi […]
Di Tepi Sungai Amstel – Sitok Srengenge
Di tepi Sungai Amstel, di sebuah kafe, kaukebut maut pada mantel, selepas sore Tahun-tahun menyepuh rindu, memutih rambutmu Arus terus menggerus antara angsa dan gurat-gurat cahaya Tujuh belas belibis menggerombol di tritis toko tarcis, tujuh gelas alkohol memintal gerim gerimis Lalu kaucukil secuil kucil: sekelimun bebek peking digiring ke daratan asing selatan Nanking di mana cambuk para pengawal siap melucut akal, melecut ajal Di antara sebaki […]
Setiaku Padamu – Moyank
jangan kau tafsir gurat senyum di bibirkuseperti lumbaran senyum kumbangpada bunga yang baru mekar dan tumbuh ketahuilah,sekeranjang cinta yang kubawa iniadalah hadiah perkawinan kita suatu hari nanti***
Mencintaimu – Moyank
ku ingin mengecup bibir manismumelihatmu tersenyum saat memandangkurindu kubelai cinta rambut hitammubiarkan airmataku membanjiri kelopak mata ini kudekap,kupagut,kubelai,manjamu membuat luluh lantak perasaan tanpa dirimu sesaat,aku terbakar dalam kawah yang membara***